Pengalaman Kuliah Di Magister Ilmu Perencanaan Wilayah (PWL) IPB (Bagian 3)

Diajarin apa aja sih di S2 PWL IPB?

Makanya ketika kuliah di PWL, kurikulum yang diajarkan adalah teori dan praktek (latihan) bagaimana cara pandang seorang perencana terhadap suatu wilayah yang holistik, dan apa yang harus dianalisis dan dipertimbangkan untuk membuat rencana pembangunannya baik itu yang sifatnya sektoral maupun komprehensif, menyeimbangkan aspek ekologi, ekonomi, sosial, dan bahkan kelembagaan.

Pada hal-hal yang menyangkut aspek biofisik pendekatan yang  diajarkan antara lain dengan pendekatan berbasis spasial (teknologi SIG dan Inderaja / pemetaan wilayah, permodelan spasial, statistik spasial, dan sejenisnya). Sedangkan untuk yang sifatnya sosial, ekonomi, dan aspek humaniora lainnya maka pendekatan metode ekonomi-sosiologis lah yang digunakan (ekonomterika, statistika, dan sejenisnya). Bahkan sampai ke penggunaan metode permodelan dan sistem dinamis, jadi seorang perencana wilayah juga harus jadi peramal agar perencanaan yang dibuatnya sukses.

Prodi PWL IPB berada di bawah Departemen Ilmu Tanah, maka tak heran jika pada kuliah magister PWL IPB, pengenalan aspek biofisik baik teori serta teknik pengelolaan lahan dengan segala sumberdaya di dalamnya adalah yang pertama diajarkan di semester 1 dan 2. Tak ketinggalan juga pengelolaan informasi lahan melalui kuliah metode analisis spasial (SIG/Inderaja), peta bahkan sebagai syarat bagian penelitian yang harus ada. Masalahnya tidak semua mahasiswanya bisa memahami peta dengan segala tektek bengeknya. Pemecahannya bersahabatlah dengan pihak ketiga yang pinter SIG / Inderaja yang bisa bantu bikinin peta. Yap pada akhirnya perencana wilayah versi lulusan S2 PWL IPB harus bisa membuat atau minimal tahu caranya menghasilkan sebuah peta perencanaan wilayah.

Kemudian yang yang ditekankan kedua adalah adanya mata kuliah penggunaan metode geostatistik dan teori ekonomi wilayah/regional sebagai metode lain dalam analisis suatu wilayah untuk direncanakan pembangunannya. Mungkin ada sekitar 10 atau 15 teknis analisis seperti skalogran, gravitasi, GWR, dan sebagainya.

Sayangnya untuk yang penekanan ketiga yaitu aspek sosial, kebanyakan mata kuliahnya adalah pilihan sehingga penguatan ideologinya kurang greget. Misalnya perencanaan partisipatif, agraria / aspek tenurial pertanahan, sarana dan prasarana wilayah, kesannya jadi hanya sebagai pengetahuan pelengkap seorang perencana saja. Padahal masalah-masalah pembanguan saat ini justru banyak terjadi di aspek itu, yang mana seorang perencana harusnya menguasai teori-teorinya. Lintasbumi banyak memilih mata kuliah pilihan yang sifatnya sosiologis ini.




Mata Kuliah Inti

Semester 3 kuliah S2 PWL IPB di zaman Lintasbumi dmulai masuk ke mata kuliah Studio Perencanaan Wilayah. Mata kuliah ini mengajarkan teori, teknik, beserta praktek menganalisis potensi, permasalahan, dan kemudian membuat skenario perencanaan suatu wilayah. Hasil analisis tersebut akan menjadi basis informasi yang harus dipikirkan solusi dan perencanannya. Dosen pengajar banyak sekitar 5 atau 6 orang yang sifatnya multidisiplin.

Tugas pada mata kuliah ini dilakukan secara kelompok (berdua) yaitu membuat skenario perencanaan di suatu wilayah. Wilayah yang dijadikan obyek bebas sesuai ketersediaan data spasial dan statistiknya, metode yang akan dipakai pun bisa memilih dari yang sudah diajarkan di semester 1 dan 2, serta paralel dengan metode-metode yang diajarkan pada mata kuliah itu sendiri. Satu hal yang pasti, pakem yang dipakai oleh PWL IPB adalah berbasis komoditas unggulan dan analisis biofisik (mungkin sekarang sudah berubah). Jadi kalau ada yang menggunakan pendekatan tambahan aspek sosiologis bahkan politis itu akan menjadi nilai plus.

Tugas tersebut dikerjakan sepanjang semester 3, jadi cukup lama tapi lumayan repot karena sudah mirip dengan tesis. Di akhir semester 3 setiap kelompok akan mempresentasikan hasil analisis perencanaannya dan “diuji” oleh kelompok lainnya dalam forum diskusi kelas, semua kelompok mendapat nilai AB dan A. Proses ini mirip dengan proyek-proyek yang  biasa Lintasbumi kerjakan, jadi paslah Lintasbumi belajar di sini.

Di semester 3 ini  mahasiswa juga menentukan (atau ditentukan?) dosen yang akan menjadi pembimbing tesis nya. Biasanya sih keputusan akhir ditentukan oleh prodi berdasarkan topik penelitian yang sudah diusulkan dan juga berdasarkan alokasi kuota bimbingan dosen tersebut. Usulan penelitian bisa dari yang dipresentasikan di MK proposal penelitian atau betul-betul baru. Idealnya kemudian mahasiswa sudah melakukan kolokium atau seminar usulan penelitian di semeseter 3, terutama bagi yang ingin lulus segera, namun Lintasbumi sendiri melakukannya di awal semester 4.

Di semester ke 4 sudah tidak ada kuliah tatap muka dan mulailah ke dunia penelitiannya masing-masing, mengurus surat izin permintaan data ke berbagai sumber / wali data baik dari prodi maupun dari pasca IPB. Dalam melakukan penelitian pastinya mahasiswa mencari data baik primer atau sekunder ke instansi/wali data. Hal menarik adalah surat izin permintaan data dari departemen (DITSL) hanya di tandatangan ketua departemen tanpa dibubuhi stempel. Sehingga ketika di bawa ke sumber/wali data/instansi menjadi kurang meyakinkan. Namun kelebihan pada surat itu ada penjelasan rinci kebutuhan datanya. Untuk itu dibuat juga surat dari pihak Pascasarjana IPB, nah kalau ini dibubuhi stempel IPB dan ditandatangan Dekan Pascasarjana, namun Lintasbuming isinya bersifat umum tidak spesifik menyatakan data-data apa saja yang dibutuhkan, tujuan surat juga ditulis semua (tidak spesifik) sehingga cukup dilingkari saja mana yang dituju (bisa diperbanyak sendiri). Buat surat penelitian jadinya dobel, birokratis juga kalau difikir.

Bersambung ke part 4



About Lintas Bumi 138 Articles
Lintas Bumi adalah blog berbagi info, trik, dan data seputar dunia informasi geospasial baik nasional ataupun global.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*