Jetlag Menggunakan ArcGIS Pro (Bagian 2) : Sisi-Sisi Tidak Efisien Dan Ribet

Jetlag Menggunakan ArcGIS Pro (Bagian 2) : Sisi-Sisi Tidak Efisien Dan Ribet

Sebagai pengguna ArcGIS Desktop sejak awal kelahirannya di tahun 2000 an, yaitu semenjak versi 8.1  sampai 10.8.1, ternyata tidak mudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan di ArcGIS Desktop. Akhir-akhir ini ketika Lintasbumi mulai banyak menggunakan ArcGIS Pro, dalam beberapa hal praktisnya ‘berat’ untuk move on, yaitu selalu membanding-bandingkan ArcGIS Pro dengan ArcGIS Desktop. Hal itu terjadi terutama jika menemui kendala karena masih ‘shock habit‘. Lintasbumi menggunakan ArcGIS Pro kurang lebih sudah setengah tahun terakhir, dan banyak menemui hal baru yang justru kalau menurut Lintasbumi merupakan kelemahan ArcGIS Pro dibandingkan dengan ArcGIS Desktop, bahkan dalam hal yang mendasar.

Sebagai analogi lain, misalnya jika anda adalah pengguna lama produk Microsoft Office terutama Ms. Word atau Excel, coba rasakan bahwa dari dulu semenjak versi pertamanya lahir di tahun 90 an sampai saat ini (25 tahunan), kedua software tersebut ‘rasa’ dalam menggunakannya tetap lah sama saja, walaupun sudah berubah menjadi beberapa versi (hampir 3 tahun sekali diperbarui) sampai saat ini versi 2021.

Update Ms. Office walaupun tampilannya baru, namun letak menu dan istilah-istilah di menunya tetap sama, cara membuat dan mengelola dokumennya pun sama, paling pun ada yang berbeda adalah adanya penambahan menu atau kemampuan yang baru. Misalnya yang sudah jelas berubah adalah jenis file nya misal dulu doc sekarang docx, xls jadi xlsx, dan seterusnya. Namun hal-hal itu tidak membuat menjadi ‘jetlag’, karena prosedur tetap sama dari dulu hingga saat ini.



Ini berbeda dengan ArcGIS, khususnya saat ini antara ArcGIS Desktop dan ArcGIS Pro di mana perbedaannya banyak. Perbedaan itu baik dari sisi mekanisme kerja/SOP, istilah tools/menu, dan terutama taste atau rasa pengolahan data spasial. Pun dari tampilan keduanya sangat berbeda, utamanya adalah peletakan menu dan customizenya. Hal-hal itu yang membuat Lintasbumi harus banyak mengernyitkan dahi alias bingung apalagi karena dilakukan otodidak, alias trial and error.

Masih beruntung karena sebelumnya sudah mengenal ArcMap, walaupun berbeda tapi itu tetap sangat membantu. Kalau dari sisi istilah dan nama menu, ArcGIS Pro sebagian besar masih sama dengan ArcGIS Desktop, walaupun di beberapa sisi tetap meminta bantuan mbah Google dan Youtube. Namun kalau soal prosedur sebagian besar sudah berbeda dengan ArcGIS Desktop.

Nah postingan ini adalah kelanjutan cerita dari curhat sebelumnya tentang beradaptasi dengan kebiasaan baru menggunakan ArcGIS Pro 2.8.3, terutama terkait dengan beberapa prosedur pengolahan/pengelolaan data serta tampilan peta. Di postingan ini tidak akan terlalu bercerita teknis, namun lebih ke cerita hasil temuan, sebagai bahan info untuk anda yang juga sama bertransisi menggunakan ArcGIS Pro.

Baca Juga : ‘Jet Lag’ Berpindah Ke ArcGIS Pro : Beberapa Pengalaman Klak-Klik



#1 Tidak Efisien
  • Selalu membuat geodatabase baru

Kenapa dikatakan tidak efisien? tidak seperti di ArcGIS Desktop jika kita ingin membuat project baru di ArcGIS Pro (.aprx), maka akan selalu membuat sebuah file geodatabase dan toolbox, walaupun kita tidak menginginkannya, kalau difikir-fikir cuma menuh-menuhin hardisk saja ya.

  • Koneksi Catalog

Yap, ini pun tidak efisien nih, kenapa? jika kita membuat project baru di ArcGIS Pro, maka koneksi ke folder yang ada di catalog pun berbeda lagi alias kosong kembali, so harus bikin koneksi lagi deh.

Kedua hal tersebut masih bisa diakali dengan cara save as dari project lama, hanya saja akan ribet untuk menghapus isi layer (map dan layout) nya jika sudah banyak.

#Kurang Fleksibel 
  • Icon Zoom 

Icon zoom in dan zoom out dan terutama zoom box nya ke mana ya di ArcGIS Pro? Ternyata harus di tongolin sendiri, bukan dari menu tool (seperti di ArcMap) tapi dari project properties – customize the ribbon atau quick access toolbar.

Pun pada kondisi layout di ArcGIS Pro, jika kita ingin memperbesar atau menggeser peta yang ada di data framenya harus klik activate dulu, tidak seperti di ArcGIS Desktop yang tinggal pilih zoom atau pan di menu tool. Pun extent di layoutnya, pertama kali tidak otomatis mengikuti extent dari data framenya.



#Ribet
  • Pengaturan label

Saking ‘canggihnya’ ArcGIS Pro, untuk pengaturan label sebuah layer pun begitu banyak tools, dan ribet untuk mengaksesnya, walaupun beberapa hal tidak harus seperti itu, sudah ada shortcut nya di tab Label. Jika di ArcGIS Desktop sih gampang saja, di TOC nya si data view tinggal klik kanan layer – properties – label. Nah, kalau di ArcGIS Pro klik layer, di atas ada tab Label, untuk mengatur labelnya dari situ harus diexpand lagi baru deh muncul menu pengaturannya, dan ya ampun yang ‘nongol’ jendela baru yang banyak banget pilihannya ada class, symbol, dan placement di mana masing-masing ada sub menu lagi.

Satu hal yang harus diingat, secara otomatis label di ArcGIS Pro menggunakan Maplex Label Engine yang bagus tapi ‘ribet’, yang mana kalau di ArcGIS Desktop itu adalah pilihan.

  • Layout Properties

Ini juga hal yang paling ‘nyebelin’ di ArcGIS Pro, yang berkaitan dengan label unsur-unsur layout seperti judul, legenda, dan sebagainya. Utamanya jika kita menduplikasi layout yang sudah tersetting dan ingin mengganti data framenya saja dengan map yang baru, itu secara otomatis merubah settingan legendanya (posisi, jenis dan besar huruf, jumlah kolom, dan sebagainya) kembali lagi ke defaultnya, sekalipun ada fasilitas lock tapi itu tidak berpengaruh, ini beda dengan di ArcGIS Desktop.

Tapi memang konteksnya berbeda karena kalau di ArcGIS Desktop satu project isinya bisa banyak map namun hanya satu layout, sedangkan di ArcGIS Pro satu project bisa membuat banyak map dan layout.

  • Grid

Cara akses dan pengaturan grid nya rada ribet. Di ArcGIS Desktop cukup klik Data Frame Properties atau ke layout dan klik kanan peta (properties) – Grid untuk mengaksesnya, kalau di ArcGIS Pro hanya ada di tampilan layout dan klik Insert Grid. Properties Grid ada di properties si data framenya.

Yang bikin ribet adalah pengaturannya, misal untuk pengaturan interval grid jika di ArcMap cukup ganti interval maka garis, tic, dan label dari si grid akan mengikuti. Ini berbeda dengan di ArcGIS Pro di mana interval setiap unsur tadi (garis, tic, dan label) harus diatur lagi sendiri-sendiri, itu pun harus tahi triknya dan bagi yang baru belajar pasti akan membuat ‘senewen’ karena tiba-tiba bisa kembali ka default lagi.



Video Terkait

https://www.youtube.com/watch?v=HMJzDZbcpvI

About Lintas Bumi 105 Articles
Lintas Bumi adalah blog berbagi info, trik, dan data seputar dunia informasi geospasial baik nasional ataupun global.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*