Menyoal Peta Indonesia Di E-KTP

Menyoal Peta Indonesia Di E-KTP

Pernah enggak anda menengok bagian belakang EKTP? Lintasbumi fikir sih mungkin kebanyakan orang jarang mempedulikannya. Ya karena di situ memang tidak ada informasi penting, informasi pentingnya alias biodata pemilik memang ada di bagian depannya. Di bagian belakang EKTP hanya terlihatĀ  ‘peta’.

EKTP alias Kartu Tanda Penduduk Elektronik adalah pengganti KTP jadul yang katanya sih tidak sesuai dengan kebutuhan zaman dan kemajuan teknologi saat ini. EKTP digadang-gadang sudah canggih, katanya sih di dalamnya sudah ada chip berteknologi tinggi yang menyimpan semua informasi atau biodata pemiliknya yang nantinya terintegrasi secara online dengan sistem informasi lainnya seperti SIM, informasi perbankan, dan lainnya. Jadi teorinya dengan diganti jadi EKTP maka untuk segala urusan yang memerlukan biodata penduduk, khususnya layanan pemerintah dan perbankan, sudah tidak perlu lagi tuh yang namanya KTP difotokopi karena kan tinggal scan aja tuh si EKTP nya. Namun itu hanya teori, kenyataannya mah sampai hari ini EKTP masih difotokopi juga dan diinput manual.

Kualitas EKTP menurut Lintasbumi mah malah lebih jelek daripada KTP jadul. Beberapa teman Lintasbumi contohnya, lapisan yang berisi biodata di bagian depan EKTP nya coplok, hilang, atau lama-lama hilang huruf-hurufnya dan hanya menyisakan background warna putih saja. Kalau sudah begitu apa fungsinya EKTP ya? Ternyata EKTP juga masih difotokopi atau discan, kalau tidak ada isinya malah jadi useless donk! Bahkan dari kejadian itu banyak orang termasuk Lintasbumi juga yang akhirnya melaminating lagi EKTP agar lapisan biodatanya aman dan tidak hilang. Harusnya kan EKTP jangan dilaminating, difotokopi apalagi sampai distapler / hekter, tapi itu tidak terjadi karena misalnya kalau ngurus STNK di Samsat ya tetap saja EKTPnya ‘dirusak’ seperti distapler / hekter.



Balik lagi ke masalah bagian belakang EKTP, kenapa di awal postingan kata petanya Lintasbumi kasih dalam tanda kutip? Terus terang Lintasbumi miris dan sedih melihatnya. Rasanya sih Lintasbumi lebih sreg menyebutnya sebagai gambar Indonesia saja. Karena kalau diatakan itu peta mestinya memenuhi syarat-syarat khusus (kartografis), walaupun didesain hanya jadi sebuah gambar publik. Kalau orang pemetaan pastinya tahu bahwa dalam peta digunakan proyeksi dan skala. Di mana jika suatu obyek di muka bumi dipetakan, akan tergambar secara proporsional bentuknya dan jaraknya tetap sesuai dengan kondisi aslinya, hanya saja dalam ukuran yang lebih kecil.

Hal yang membuat saya miris adalah jika isi ‘peta’ EKTP itu diperhatikan lebih cermat, terlihat bentuk peta Indonesianya aneh dan tidak proporsional sama sekali. Entah dari mana si desainer EKTP itu mengambil ‘peta’ Indonesia tersebut. Karena penasaran, Lintasbumi coba komparasi dengan ‘peta’ EKTP dengan peta batas negara gratisan dari ESRI seperti nampak di bawah. Sengaja peta ESRInya diproyeksikan ke UTM Zona 49S di ArcGIS, agar sedikit mirip dengan di EKTP.

Perbadingan peta Indonesia versi EKTP (atas) dan versi ESRI (bawah)

Dalam peta di EKTP tergambar pulau-pulau salah bentuknya / tidak proporsional, dan yang parah lagi tidak tergambar adanya selat di antara Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa sampai Alor, digambar nyambung semua, parah betul! Belum lagi bentuk Pulau Bangka yang ngaco, Pulau Madura yang ‘nyambung’ dengan P Jawa, bentuk kepala burung di Papua Barat yang aneh, Sulawesi Tenggara bentuknya bengkak seperti kaki gajah (menyatu dengan P Muna dan P Buton) dan masih banyak lagi kesalahan gambar lainnya di bagian belakang EKTP yang betul-betul parah. Belum lagi tidak ada satu katapun di situ yang menginformasikan apa maksud gambar Indonesia itu. Gambar itu menurut Lintasbumi harus diganti, makanya kalau itu disebut peta jawabannya adalah bukan! Itu lebih tepat dikatakan sebagai gambar karya anak SD yang sedang belajar membuat peta Indonesia. Bahkan mungkin karya anak SD aja bisa lebih bagus.

Salah satu kesalahan ‘peta’ Indonesia di EKTP : P Jawa, P Bali, P Lombok, P Sumbawa, P Flores sampai P. Alor di NTT tergambar bersambung

Dari sini terlihat bahwa desain EKTP memang asal-asalan, asal ada, asal jadi, dan yang pasti proses pembuatannya seperti sudah kita tahu dikorupsi. Padahal biayanya triliunan rupiah, masa barang produk triliunan rupiah gambar petanya aja asal-salan!? Mungkin petanya dikorupsi juga ya. Yang Lintasbumi heran kenapa untuk barang publik penting seperti EKTP, jika memang akan menggunakan peta, apakah memang tidak melibatkan lembaga atau pakar pemetaan pemerintah? Kan sudah ada lembaga pemetaan seperti Bakosurtanal (zaman pembuatan EKTP belum berubah jadi BIG). Mungkin seperti biasa EKTP adalah proyek ego sektoral, tak perlu yang lain terlibat, bisa ‘rugi’.



Padahal para pakar pemetaan di Indonesia pastinya punya EKTP, kayaknya mereka sendiri jarang-jarang tuh memperhatikannya, mereka lebih konsen ke peta di ‘proyek’ yang lebih profitable. Mereka juga hanya ngeluarin EKTP nya kalau lagi berurusan dengan bank, perpanjangan SIM/STNK, bansos, dan layanan umum lainnya. Itupun yang diperhatikan pastinya hanya biodata di bagian mukanya saja, sementara bagian belakang yang isinya peta Indonesia kayaknya memang nggak pernah dipedulikan.

Kebanyakan masyarakat jarang peduli akan bagian belakang EKTP apalagi mencermatinya. Ini memang menandakan kesadaran spasial kolektif dan literasi peta masyarakat kita masih rendah, peta masih dianggap benda belum penting kecuali bentuknya digital. Ini memang bukan kesalahan murni juga, karena harus diakui kebanyakan orang di kita masih belum bisa membaca peta secara baik, masih banyak berfokus ke kecanggihan teknologi pemetaan (terutama google maps), sementara hal-hal kecil di sekitarnya seperti peta di EKTP justru kurang diperhatikan. Kalau misalnya EKTP saat ini di bawa ke negara lain kemudian diperlihatkan ke warga negara lain yang ngerti peta apa tidak bikin malu tuh, apalagi pemiliknya sendiri misalnya tidak tahu artinya.

Menurut Lintasbumi peta di EKTP juga merupakan simbol kedaulatan negara, simbol nasionalisme dan persatuan negara, jadi jangan asal dibuat. Bisa dilihat di belakang EKTP di situ ada gambar Garuda Pancasila dan tulisan Republik Indonesia juga lho, jadi petanya juga harus klop dong dengan itu semua alias harus benar, karena berarti itu gambar resmi. EKTP juga media untuk memupuk nasionalisme, jika petanya benar dan tergambar dengan baik tentu pemegangnya juga akan mempunyai kebanggaan sebagai warga negara, apalagi jika secara keseluruhan desainnya diperbarui menjadi lebih baik. Peta di EKTP bisa juga sebagai alat belajar mengenalkan wilayah Indonesia kepada anak-anak bangsa Indonesia dan penduduk dunia lainnya. Peta tersebut (wilayah negara Indonesia) hakikatnya kan diperjuangkan dengan pengorbanan yang besar bahkan dengan nyawa para pendiri dan pahlawan negeri ini. Peta di EKTP yang benar juga merupakan bentuk penghargaan bagi para pahlawan yang memperjuangkan terbentuknya negara Indonesia.

Harapan Lintasbumi sih Kemendagri segera memperbaiki petanya, libatkan pakar pemetaan karena mereka cukup tahu di mana sumber-sumber peta yang official dan benar. Bahkan kalau mau gampangya bisa dengan mendownload peta ESRI saja yang gratisan atau sumber lain tapi benar petanya. Namun akan lebih resmi jika peta Indonesianya bersumber dari lembaga pemerintah seperti BIG, tidak jauh koq di Cibinong. Kita sebagai masyarakat hanya bisa berharap kesalahan-kesalahan gambar EKTP disadari, diperhatikan, dan segera diperbaiki oleh pihak yang berwenang, mudah-mudahan EKTP ke depannya lebih baik.

Catatan : postingan ini adalah update postingan sebelumnya di blog lama.


About Lintas Bumi 94 Articles
Lintas Bumi adalah blog berbagi info, trik, dan data seputar dunia informasi geospasial baik nasional ataupun global.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*