Pengalaman Kuliah Di Magister Ilmu Perencanaan Wilayah (PWL) IPB (Bagian 3)

Kali ini saya berbagi lagi oleh-oleh menuntut ilmu di kampus, intermezzo di luar urusan spasial. Mohon maaf jika postingan ini tidak banyak sub judul nya, padahal panjang, semoga yang baca tidak bosan ya. Saya tidak bermaksud untuk mengagungkan ilmu perencanaan wilayah, karena ilmu apapun tidak ada yang bisa berdiri sendiri, perlu didukung disiplin ilmu lain. Permasalahan di dunia ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu ilmu saja. Postingan hanya sebatas harapan yang mudah-mudahan bisa memotivasi yang ingin kuliah lagi.

 

Pentingnya Perencanaan

Unit atau divisi perencanaan hampir selalu ada di semua lembaga, entah itu di pemerintahan ataupun swasta. Dalam hal ini perencanaan dalam konteks yang lebih luas tidak hanya mengenai perencanaan wilayah, seperti perencanaan program, perencanaan organisasi dan manajemen, perencanaan sumber daya manusia, keuangan, dan lain-lain.

Bahkan dalam konteks pribadi, seseorang juga sebenarnya harus punya rencana tentang apa yang akan dilakukannya dalam menyongsong masa depan yang ingin dicapainya atau dicita-citakannya, agar hidupnya tentu lebih baik. Sebagai contoh seseoran mempunyai rencana untuk melanjutkan kuliah level master agar dalam pekerjaan gajinya lebih baik. Untuk sampai ke implementasi kuliahnya, tentu dia harus punya skenario atau rencana misalnya menabung untuk biaya kuliah, mencari info kampus dan prodi yang baik dan sesuai budget, menentukan kapan akan mulai daftar kuliah, dan seterusnya.

Perencanaan memang merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan apapun. Hal ini karena pada dasarnya manusia tidak ada yang tahu bagaimana situasi di masa yang akan datang, apapun bisa terjadi di masa depan. Padahal manusia selalu berharap semakin hari semakin baik, selalu berprinsip hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini. Kita sejatinya selalu dituntut untuk selalu siap dengan perubahan di sekeliling kita dari level terkecil sampai dunia atau bahkan alam ini, apalagi saat ini dinamika perubahan di berbagai bidang begitu cepat dengan semakin majunya teknologi. Manusia perlu sebuah persiapan, sebuah rencana dalam menghadapi apa yang akan terjadi. Tanpa rencana hidup manusia tidak mempunyai tujuan, akan hampa dan sia-sia serta bisa jadi akan terjadi hal yang tidak diinginkan di masa depan.

Terlepas dari definisi teoritis atau akademis, saya sendiri menyimpulkan bahwa perencanaan adalah semua hal yang berkaitan dengan pembuatan rencana. Perencanaan adalah suatu usaha yang sistematis untuk menghadapi ketidakpastian di masa yang akan datang, di dalamnya ada poin-poin rencana. Perencanaan apalagi dalam konteks perencanaan dan pengembangan wilayah tidak boleh asal, harus didasari oleh sebuah tujuan yang jelas, didukung oleh aspek ilmiah dan data-data yang baik. Membuat sebuah rencana juga harus luwes, selalu mengadaptasi dan mempertimbangkan semua dinamika yang ada. Namun apa yang direncanakan juga harus membumi dalam arti bisa dilakukan, jangan membuat rencana yang tidak bisa dilakukan atau di luar kemampuan kita untuk melaksanakannya. Begitu kira-kira filosofi dasar perencanaan yang saya peroleh ketika kuliah.

Baca Juga : 

  • Pengalaman kuliah ilmu perencanaan wilayah bagian 1
  • Pengalaman kuliah ilmu perencanaan wilayah bagian 2.



Perencanaan Wilayah Versi Kuliah (Teoritis)

Isu tata ruang adalah hal strategis di manapun dan kapanpun. Karena tata ruang itu menyangkut aspek yang sangat luas, dia juga bisa berkaitan dengan alokasi dan pengelolaan sumber daya alam, sosial, ekonomi dan bahkan politik. Kenapa diperlukan tata ruang? Secara teoritis akademis penataan ruang (dalam hal ini lahan) diperlukan mengingat situasi, kondisi, dan permasalahan pembangunan saat ini semakin kompleks. Misalnya jumlah penduduk yang semakin bertambah pesat mendorong kebutuhan lahan juga bertambah tinggi, entah itu untuk rumah, sarana dan prasarana pendukungnya (infrastruktur), dan lain-lain. Di sisi lain ketersediaan lahan sangat terbatas, timbulah persaingan penggunaan atau pemanfaatan lahan dan terjadilah apa yang dinamakan konversi lahan.

Konversi lahan selalu saja berkonotasi tidak baik, umumnya dikaitkan dengan perubahan dari lahan yang bervegetasi (hutan, kebun, lahan pertanian, dan sejenisnya) menjadi lahan tidak bervegetasi atau terbangun (permukiman, sarana prasarana perkotaan, gedung-gedung perkantoran, kawasan industri, dan sebagainya). Dari kacamata orang lingkungan vegetasi (pohon/hutan) adalah indikator kualitas lingkungan yang masih baik, karena fungsinya banyak. Jika konversi lahan dibiarkan begitu saja tanpa diatur atau direncanakan, vegetasi menjadi hilang dan dikhawatirkan di masa depan akan terjadi kerusakan lingkungan dan bencana yang dampaknya merugikan juga secara ekonomi, politik, bahkan bisa menimbulkan korban jiwa, sesuatu yang tidak kita harapkan.

Tidak ada yang tahu pasti akan seberapa buruk atau seburuk apa jika konversi lahan itu terus dibiarkan di masa yang akan datang. Semua kekhawatiran itu biasanya didasarkan atas peristiwa-peristiwa serupa yang pernah terjadi sebelumnya, melihat pola sebelumnya. Karena ketidaktahuan itulah perlu upaya antisipasi setidaknya berbasis peristiwa lalu dan data yang ada saat ini. Lagi-lagi perlu sebuah rencana pemanfaatan ruang atau lahan, perlu sebuah penataan pemanfaatan lahan yang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini tapi juga untuk menjaga kondisi di masa depan yang tetap baik atau bahkan lebih baik.

Namun sebuah perencanaan wilayah bukan hanya berkutat di aspek biofisik seputar perencanaan, pengaturan, ataupun penataan pemanfaatan lahan saja. Perencanaan wilayah sejatinya memandang suatu wilayah secara holistik, aspek biofisik hanya salah satu bagian kecil saja. Perencanaan wilayah juga menyangkut dan mempertimbangkan manusia yang berada di atas lahan yang direncanakan, manusia yang memanfaatkan dan memperoleh dampak dari lahan tersebut. Kalau berbicara masalah manusia tentu akan menyangkut aspek ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, bahkan politik, dan lainnya.

Dalam pembuatan rencana pengembangan wilayah, jika pada hal-hal yang menyangkut aspek biofisik pendekatan yang  biasa dilakukan umunya berbasis spasial (SIG dan Inderaja, permodelan spasial, statistik spasial, dan sejenisnya). Sedangkan untuk yang sifatnya sosial, ekonomi, dan aspek humaniora lainnya maka pendekatan metode ekonomi-sosiologis lah yang digunakan (ekonomterika, statistika, dan sejenisnya). Untuk itu menjadi seorang perencana wilayah harus menguasai semuanya, ya aspek biofisik dan metode spasial, ya juga aspek sosial, ekonomi, budaya, politik, agraria, dan sejenisnya. Pada penggunaan metode permodelan, bahkan terkadang seorang perencana wilayah harus jadi peramal juga.

Tak heran di kuliah magister PWL IPB, pengenalan aspek dan pemanfaatan biofisik lahan, serta penguatan metode analisis spasial wilayah adalah mata kuliah pertama yang diajarkan, bahkan peta sebagai syarat penelitian. Yap pada akhirnya memang perencana wilayah menghasilkan sebuah peta perencanaan wilayah. Kemudian yang kedua adalah mata kuliah penggunaan metode statistik-ekonomi wilayah sebagai metode lainnya dalam analisis suatu wilayah. Sayangnya untuk yang ketiga atau aspek sosial mata kuliahnya kebanyakan pilihan sehingga penguatan aspek sosiologis-politis bahkan hukum dalam menganalisis wilayah masih sangat kurang ditekankan. Karena itu saya banyak memilih mata kuliah pilihan yang sifatnya sosiologis seperti kelembagaan, agraria, dan sejenisnya.

Itulah beberapa hal yang saya rangkum dari 3,5 tahun belajar ilmu perencanaan wilayah di magister PWL IPB. Kuliah ilmu perencanan wilayah merupakan suatu masa pencerahan yang luar biasa dalam 20 tahun terakhir karir saya. Sebetulnya banyak hal yang menarik untuk dishare, sayangnya tidak semuanya bisa dijelaskan di posting-an ini karena terbatas kuota, waktu, dan tenaga.


 

Pragmatis VS Teoritis

Hal yang menjadi motivasi saya mengambil kuliah di magister ilmu perencanaan wilayah (di PWL IPB) adalah mencoba mendiskursuskan serta mengkomparasi antara isu-isu riil pembangunan berbasiskan pengalaman saya bekerja dengan teoritis di dunia akademis. Menurut saya itu perlu karena dunia kerja biasanya terlalu asyik dengan hal-hal yang pragmatis, di sisi lain muncul keraguan apakah yang dilakukan pragmatis tadi masih di jalan yang ‘lurus’ atau sudah benar-benar menyimpang dari ilmu yang sebenarnya. Atau jangan-jangan ada metode atau pendekatan lain yang lebih baik tapi saya belum tahu. Maklum saya juga bergelut di dunia akademis menjadi seorang peneliti cabutan, jadi suka menemui metode dan istilah-istilah baru yang membuat puyeng tapi diperlukan.

Pendekatan pragmatis memang sah-sah saja sih menurut saya, bukan masalah salah dan benar, itu hanya pilihan. Setelah kuliah akhirnya saya menjadi tahu bahwa dalam mengerjakan sebagian besar kerja-kerja perencanaan wilayah (baca: proyek)  yang pernah saya ikuti, ternyata banyak yang tidak sejalan dengan khittah akademisnya, bahkan melenceng jauh. Tapi walaupun demikian, selama ini tidak pernah ada komplain terkait metode dan hasil analisis data di laporan akhir proyek. Artinya pragmatis selama masih diterima maka tidak masalah, bahkan terkadang menjadi win-win solution khususnya di kala sudah mepet harus membuat laporan proyek.

Contoh pragmatis di proyek adalah mau menggunakan suatu metode sesuai ketentuan proyek, tapi data yang memenuhi untuk melakukan metode itu tidak ada atau tidak didapat, ataupun kalaupun didapat kurang memenuhi syarat. Akhirnya metode itu tidak dilakukan tapi digunakanlah metode lain yang menyerupai. Diskursus atau komparasi ini banyak dicerahkan di kuliah semester 2 atau 3.

Bersambung…………



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *