Apa Sih Yang Namanya GDAL, OGR, OSGeo, Dan OGC Itu ?

OGC

OGC (Open Geospatial Consortium) adalah lembaga standar global yang berfokus pada pengembangan spesifikasi terbuka untuk data dan layanan geospasial. OGC berdiri sekitar 1994 dan lebih menekankan pada penyusunan standar agar data spasial dapat diakses dan dipertukarkan secara universal. Mereka tidak mengembangkan software, tapi membuat aturan agar software GIS bisa saling tukar data. Hal ini dilatarbelakangi makin meluasnya pengguna data spasial sehingga perlu dibuat standarisasi.

OGC sifatnya non profit, kantor pusatnya berada di Wayland, Massachusetts, Amerika Serikat dan ada perwakilan regionalnya di beberapa negara. OGC dipimpin oleh Dewan Direktur dan tim eksekutif. Karena sifatnya konsorsium anggotanya beragam seperti Esri, NASA, Microsoft, Google, Hexagon, universitas, hingga instansi pemerintahan dari banyak negara. Mereka rutin mengadakan pertemuan 3 – 4 kali setahun di berbagai negara (rotasi) untuk menetapkan standar data spasial mengikuti perkembangan yang ada. Ada iuran tahunan bagi para anggotanya yang mendukung operasionalnya, selain itu dana juga didapat dari project ataupun kerjasama dengan lembaga / negara lain misalnya uji coba standar data baru.

Standar populer yang dikembangkan OGC antara lain WMS (Web Map Service), WFS (Web Feature Service), dan WCS (Web Coverage Service) — sumber. Berkat standar ini, pengguna dapat mengakses peta atau data spasial secara online dari berbagai server tanpa terikat pada satu perangkat lunak tertentu. Misalnya, sebuah aplikasi WebGIS dapat menampilkan peta dari GeoServer, MapServer, maupun ArcGIS Server selama semuanya mengikuti standar WMS yang sama.

Peran OGC sangat penting dalam mewujudkan interoperabilitas data. Tanpa standar yang jelas, data dari berbagai lembaga dan perangkat lunak akan sulit digabungkan. Dengan adanya spesifikasi OGC, kolaborasi antar-instansi, bahkan antar-negara, menjadi lebih mudah karena semua pihak berbicara dalam bahasa standar yang sama. Di era keterbukaan data saat ini, keberadaan OGC menjadi kunci agar informasi spasial dapat digunakan lebih luas untuk perencanaan, penelitian, hingga mitigasi bencana.

Jadi GDAL /OGR yang dikembangkan Mr. Frank Warmerdam juga sudah mengikuti aturan dari si OGC ini, namun sifatnya lebih ke standarisasi bukan karena diperintah OGC karena OGC bukan lembaga formal.




OSGeo
sumber : https://commons.wikimedia.org/wiki

Pada tahun 2006 berdiri suatu organisasi terkait software open source yang bernama OSGeo (Open Source Geospatial Foundation). OSGeo adalah organisasi nirlaba internasional yang menaungi berbagai proyek perangkat lunak open source di bidang geospasial, termasuk GDAL dan OGR. Tujuan utama OSGeo adalah mendukung pengembangan, pemeliharaan, dan penyebaran perangkat lunak geospasial terbuka yang dapat diakses semua kalangan.

Berbeda dengan OGC, OSGeo tidak mempunyai kantor fisik namun sifatnya lebih ke virtual office, namun mereka tetap mempunyai dewan kepengurusan yang dipilih oleh para anggotanya. OSGeo juga rutin mengadakan pertemuan tahunan (kadang juga beserta festival semisal FOSS4G) yang dihadiri Komunitas developer software open source (QGIS, GRASS, GDAL, GeoServer, dll), ada juga Akademisi, mahasiswa, LSM, startup, praktisi GIS, dan kadang juga perusahaan besar yang pakai/pakai standar open source. Sifat pertemuannya lebih terbuka dan santai dibanding OGC. Untuk sumber dana operasional OSGeo lebih terbuka seperti dari sponsor, donasi, dan event FOSS4G, plus kontribusi relawan.

Kadang OGC dan OSGeo bertemu di forum yang sama, misalnya saat FOSS4G global, karena banyak standar OGC diimplementasikan oleh software OSGeo. Beberapa tokoh bahkan aktif di dua organisasi sekaligus (contohnya developer GDAL yang juga ikut working group OGC).

Selain GDAL dan OGR, OSGeo juga menaungi proyek besar lain seperti QGIS, GRASS GIS, MapServer, dan GeoServer — sumber. OSGeo menyediakan forum komunitas, dokumentasi, serta sumber daya teknis untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perangkat lunak geospasial. Berkat dukungan OSGeo, kolaborasi global antara peneliti, pengembang, dan praktisi di berbagai negara dapat terjalin dengan baik. Singkatnya bisa dikatakan OSGeo lebih ke sebuah organisasi (internasional) komunitas software.

Dalam praktiknya, ketika kita membuka peta Shapefile di QGIS, pustaka OGR bekerja di balik layar untuk membaca data tersebut. Demikian pula saat menampilkan citra GeoTIFF, pustaka GDAL berperan penting dalam memproses informasi raster. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tidak terlihat langsung, GDAL, OGR, dan OSGeo adalah fondasi tak tergantikan dalam dunia pemetaan digital saat ini.




Kesimpulan

Secara keseluruhan, GDAL, OGR, OSGeo, dan OGC adalah empat pilar penting yang membentuk fondasi ekosistem geospasial modern. GDAL dan OGR menyediakan kemampuan teknis untuk membaca dan mengolah data, OSGeo memberi dukungan organisasi dan komunitas bagi perangkat lunak open source, sedangkan OGC menetapkan standar agar data dapat diakses lintas platform. Kombinasi keempatnya memastikan bahwa perkembangan teknologi geospasial terus bergerak maju dan dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, dari peneliti, pemerintah, hingga masyarakat umum. Gimana netter semua? mudah-mudahan sekarang menjadi lebih jelas lagi ya apa dan siapa GDAL, OGR, OSGeo, dan OGC.

 

Referensi

  • https://gdal.org/en/stable/
  • https://www.osgeo.org/
  • https://www.ogc.org/



About Lintas Bumi 138 Articles
Lintas Bumi adalah blog berbagi info, trik, dan data seputar dunia informasi geospasial baik nasional ataupun global.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*