Apa Saja Peta Bencana Indonesia ?

6. Peta Rawan Erosi

Bisa dikatakan erosi sebetulnya bukan sebuah kejadian bencana, dari sumber lain dikatakan bahwa erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Namun erosi bisa juga menyebabkan longsor.

Peta Rawan Erosi ini juga dibuat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) khususnya (mungkin) Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH). Kalau dicari-cari harusnya muncul juga di SIPDAS, namun ternyata layernya tidak ada juga sama seperti Banjir Limpasan.

Sekilas secara visual, berdasarkan kategori besarnya volume kikisan yang terjadi setiap tahun, untuk yang > 480 ton/ha/tahun banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Kalsel, Sulesa, Sumba, Flores. Peta ini juga bisa dlihat di ArcGIS Online.

 

7. Peta Rawan Kebakaran Hutan

Secara nasional dan resmi, peta ini belum ada. Pada tahun 2021 dari berita diinformasikan bahwa KLHK dan BIG sedang bekerjasama untuk membuat Pedoman Penyusunan Peta Kerawanan Kebakaran Hutan dan Lahan. Namun sampai saat ini belum jelas perkembangannya sejauh mana, atau peta resminya belum dipublish di internet khususnya situs KLHK.

Sumber : wikimedia.org

 

Peta kerawanan kebakaran lahan dan hutan tentu saja beda dengan peta kejadian kebakaran lahan dan hutan. Nah di internet banyak ditemui jika melakukan pencarian peta rawan kebakaran lahan dan hutan, ternyata hasilnya peta kejadian kebakaran lahan dan hutan. Karena belum ada peta skala nasional, yang muncul biasanya peta rawan kebakaran lahan dan hutan yang dibuat oleh para pihak di masing-masing kabupaten / kota atau provinsi (utamanya dinas di pemda/pemprov), contohnya seperti gambar di atas. Kriteria rawan kebakaran antar wilayah pun biasanya berbeda-beda.

Contoh peta kerawanan karhutla Prov. Sumsel

 

8. Peta Rawan Likuefaksi

Terakhir ada 1 jenis peta bencana lagi yaitu peta rawan Likuefaksi. Likuifaksi adalah fenomena di mana tanah yang tanpa kohesi menjatuhkan kekuatan gesernya secara signifikan dan mengalir di bawah volume yang konstan, tegangan konstan secara efektif dan tegangan geser yg konstan akibat timbulnya tekanan pori yang berlebih selama gempa bumi. Ada juga yang menyebutnya sebagai pencairan tanah atau nalodo. Fenomena likeufaksi biasanya dipicu oleh gempa. Hal ini pernah terjadi di wilayah Petobo ketika terjadi gempa Palu tahun 2018 lalu.



Nampaknya peta ini dibuat setelah terjadinya likuefaksi di Petobo, untuk menyadarkan rakyat Indonesia bahwa fenomena itu juga ada karena sebelumnya jarang dikenal. Peta ini juga dibuat oleh Kementerian ESDM dan sudah ada di Geoportal ESDM One Map seperti nampak di bawah.

Kategorisasi rawan likuefaksi ada 3 yaitu Rendah – Sedang – Tinggi. Untuk peta versi jpg nya sendiri belum ada sehingga belum secara jelas diketahui apa kriteria dari ketiga kategori tersebut.

 

Beberapa jenis peta bencana di atas aslinya berformat shp ataupun geodatabase. Anda yang membutuhkan bisa mencarinya di dinas terkait ataupun kementerian / lembaga yang memang membuatnya. Saya sendiri sering menggunakan data spasial bencana untuk kegiatan KLHS terutama menganalisis peta rencana dan isu bencana, sebagai dasar rekomendasi dan mitigasi.

Sayangnya peta-peta online bencana jarang diinformasikan ke publik secara luas dan dijelaskan bagaimana cara menggunakan atau membacanya. Masalah klasiknya adalah pemeliharaan situsnya yang bagus di awal namun setelah beberapa waktu sering diabaikan, bahkan tidak pernah diperbarui atau tiba-tiba situsnya sudah hilang. Padahal info rawan bencana adalah hal yang penting. Semoga saja itu tidak terjadi dengan situs-situs yang dijelaskan di atas.



About Nana Rusyana, MSi. 9 Articles
Pembelajar geografi, spasial, dan lingkungan. GIS Specialist dalam topik; - Pengelolaan sumber daya alam - Kajian Lingkungan Hidup Startegis (KLHS) - Permodelan perubahan tutupan lahan - Perencanaan wilayah dan kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*