Pengalaman Kuliah Di Magister Ilmu Perencanaan Wilayah (PWL) IPB (Bagian Akhir)

Lintasbumi baru di awal semester 8 (menjelang garis finish DO) menembus seminar. Yang bikin capek juga adalah proses menuju seminar yang birokratis. Walaupun didaftarkan secara online namun secara fisik tetap harus bolak-balik prodi-pasca. Proses itu lumayan menguras tenaga dan waktu, karena selain mempersiapkan dokumen penelitian juga harus mencari (menemui) beberapa orang yang harus menandatangani formulir seminar, dan banyak hal non teknis lainnya yang terkadamg kalau istilah sekarang bikin bete, karena yang dikejar kadang sedang tidak ada di tempat jadi terpaksa nunggu. Anyway Lintasbumi mengucapkan banyak terima kasih kepada banyak pihak utamanya bagian administrasi PWL yang sangat banyak membantu dan mempermudah urusan birokrasi di prodi.

Setelah segala urusan birokrasi pra seminar selesai, barulah mempersiapkan mental menghadapi hari H seminar. Cara menenangkan fikiran adalah tetap santai, yakin dan menganggap seminar adalah diskusi laporan proyek yang biasa Lintasbumi lakukan. Tetap melakukan latihan presentasi dengan berbagai cara. Kemudian mempersiapkan slide presentasi tidak lebih dari 15 halaman (isinya hanya 13 halaman), menggunakan prinsip 10, 20, 30 yaitu 10 slide, 20 menit pemaparan, dan ukuran huruf isi slide 30. Karena di seminar hanya diberi waktu 20 – 30 menit untuk presentasi, sisanya harus diskusi.

Alhamdulillah seminar hasil tanggal 20 Januari di gedung 302 pasca IPB lancar jaya, sesuai skenario, hadirin 99% dari luar PWL. Lintasbumi sengaja tidak mengumumkan seminar Lintasbumi di WAG PWL, itu adalah strategi agar yang hadir rekan-rekan dari prodi lain saja. Sesuai harapan pertanyaan mereka bersifat umum saja, bisa dijawab dengan lancar, dan yang penting adalah tidak ada perubahan konten penelitian. Alhamdulillah dimoderatori seorang guru besar, dan pembimbing pertama yang juga guru besar (almarhum Prof. Kukuh Murtilaksono yarham) juga bisa hadir dan banyak membantu di seminar. Alhamdulillah lulus seminar dengan sangat meyakinkan. Alhamdulillah moderator dan pembimbing memberikan nilai tertinggi di seminar hasil. Terima kasih kepada moderator, ketua komisi pembimbing dan juga rekan-rekan hadirin seminar Lintasbumi terutama yang bertanya. Karena Lintasbumi merupakan “gerbong” terakhir di angkatan, hanya satu orang teman seangkatan PWL yang hadir di seminar hasil, itupun tanpa direncanakan.

Baca Juga : Pengalaman kuliah ilmu perencanaan wilayah bagian 2

 Akhirnya Master !

Plong rasanya sudah melewati seminar, setengah beban kuliah langsung lepas! Hasil konsultasi selanjutnya memutuskan harus melakukan sidkom 2 di tanggal 29 Januari. Hasil sidkom 2 memutuskan tanggal 19 Februari harus ujian akhir alias sidang. Selain meng-update isi tesis sesuai saran sidkom 2, lagi-lagi harus ngurus birokrasi sidang, kali ini tidak ada pendaftaran online. So bolak-balik lagi deh prodi-pasca yang betul-betul menguras tenaga dan waktu lagi. Tujuannya sama cari tandatangan beberapa orang termasuk penguji luar, yang terkadang bikin bete juga karena yang dicari kadang sedang tidak ada di tempat jadi terpaksa nunggu. Karena perbaikan yang Lintasbumi lakukan telat, mengurus birokrasi sidang itu hanya 1 minggu sebelum sidang, untungnya bisa pas sesuai aturan H-7

Setelah lolos dari seminar hasil tanpa perbaikan yang banyak, maka ke tahap sidang atau ujian akhir tidak terlalu lama. Beberapa teman Lintasbumi melakukan sidang akhir seminggu setelah seminar hasil, jadi di semester 5 ini sudah 4 orang yang lulus dan menjadi bergelar MSi duluan. Di semester 6 lulus bertambah 3 orang, di semester 7 ada 1 orang. Sampai semester 7 yang lulus di angkatan PWL Lintasbumi sudah 4 + 3 + 1 = 8 orang.

De Javu, penguji luar komisi yang disepakati para pembimbing di sidkom 2 adalah “teman” proyek di tahun 2014 jadi sudah kenal sebelumnya, beliau dari fahutan sejalan dengan topik penelitian Lintasbumi. Ketua dan anggota komisi pembimbing pun memang terlibat di proyek itu. Jadi ketika tanggal 19 Februari bersidang nanti bisa dikatakan akan menjadi reuni proyek he he he. Ini lucky juga sehingga beban mentalnya tidak seberat seminar.

Siang tanggal 19 Februari jam 11.30 Lintasbumi ditemani istri berangkat ke kampus. Ruang yang dipakai padahal sama saja dengan ketika sidang komisi, namun ketika sidang maka nuansanya menjadi lain. Sidang dimulai jam 13.00, presentasi Lintasbumi di sidang ternyata sedikit grogi, padahal hanya di hadapan 4 orang saja. Jatah 20 menit presentasi malah jadi 25 menit (sampai diingatkan moderator).

Setelah itu moderator mempersilahkan penguji untuk bertanya dan semua pertanyaan penguji luar Lintasbumi jawab saja dengan pede, walaupun banyak juga sih yang meragukan jawabannya. Sedikit degdegan dan nervous tetap ada, separuh ilmu pengetahuan Lintasbumi ketika presentasi dan tanya jawab di sidang kayak terasa menghilang sejenak, kayak ngeblank. Anyway Lintasbumi saat itu berprinsip nervous adalah sesuatu yang alami, tidak perlu ditolak dan biarkan saja mengalir, jadi nikmati saja dan lama-lama juga akan cair. Ingat penguji, pembimbing, dan moderator adalah manusia biasa juga, mereka sudah makan asam garam dengan kondisi orang bersidang, mereka pernah mengalami hal yang sama karena mereka pernah bersidang sebagai mahasiswa magister dan doktor. Yang melegakan semua pembimbing hanya menanyakan hal yang tidak terlalu substantif, lebih ke pemahaman dan mereka sudah memberikan nilai sebelum bertanya, dan itu membuat Lintasbumi tenang. Moderator pun tidak bertanya hanya memberi saran saja.

Ada satu modal penting yang dipegang Lintasbumi, sebuah nasihat yang didapat dari seorang guru besar IPB jauh sebelum Lintasbumi penelitian. Beliau mengatakan kepada Lintasbumi bahwa jika penelitian diibaratkan senjata maka sidang itu adalah forum yang akan memutuskan senjata itu termasuk tipe apa. Proses yang dilakukan selama penelitian diibartkan sebagai proses pembuatan senjata. Sidang akan mengesahkan apakah senjata itu akan menjadi senjata biasa atau senjata pusaka. Jadi apapun nanti hasil sidang, senjata tetaplah senjata, kecuali memang rusak dari awal (misalnya dipaksa sidang atau sidang hanya dengan modal seadanya). Kalau cocok jadi senjata pusaka maka akan mendapat nilai A atau sangat memuaskan, pun sebaliknya jika cocoknya jadi senjata biasa maka nilanya di bawah itu, namun tetaplah lulus.

Masih kata sang profesor, menjadi senjata pusaka atau tidaknya tidak hanya dilihat dari sidang yang hanya 1 atau 2 jam saja, tapi akan berdasarkan rekam jejak atau penilaian proses pembuatannya. Misalnya apakah selama pembimbingan baik-baik saja; bagaimana isi tesisnya (sistematika, kedalaman, redaksional, relasional antar bagian, bahasanya, dan seterusnya). Serta yang penting juga femahaman kita akan tesis kita sendiri, hal ini tentu domain pembimbing.

Ingat, tidak ada penelitian yang sempurna, selalu saja ada kekurangan! sebab subyektif tergantung dari sudut pandang siapa. Jadi Nervous dan tidak bisa menjawab semua pertanyaan dengan ideal ketika sidang itu adalah hal yang wajar dan menurut Lintasbumi mungkin hanya 50% dari penilaian saja, 50% lainnya akan tergantung isi tesis dan proses. Satu hal lain yang sangat penting bagi Lintasbumi adalah berdoa dan meminta ridha orang tua sebelum sidang atau bahkan selama kuliah.

Setelah sekitar 1,5 jam proses sidang, Lintasbumi diminta moderator keluar ruangan dulu dan menunggu keputusan ‘dewan juri’. Setelah 10 – 15 menitan, sekitar jam 15.00 Lintasbumi dipanggil kembali masuk ruang sidang. Alhamdulillah diputuskan memperoleh nilai sangat memuaskan di ujian akhir itu. Padahal Lintasbumi grogi dan hanya bisa menjawab sekitar 50 – 60% dari pertanyaan, namun ketika melihat form penilaian oleh penguji, pembimbing, dan moderator ternyata tidak demikian. Ya itu tadi mereka juga menilai dengan melihat jerih payah kita selama proses pembuatan tesis.

Alhamdulillah Lintasbumi lulus magister juga walaupun belum sepenuhnya, karena masih proses perbaikan dan menunggu ijazah. Terima kasih PWL, terima kasih IPB.



About Lintas Bumi 138 Articles
Lintas Bumi adalah blog berbagi info, trik, dan data seputar dunia informasi geospasial baik nasional ataupun global.

8 Komentar

  1. Selamat, Mas!
    Alhamdulillah sy dapat rejeki lanjut kuliah S2 PWL di IPB juga. Mahasiswa per 13 Agustus 2021 ini.
    Beasiswa dari Bappenas, digeber 1.5 tahun harus selesai :-/
    Mohon bantuan dan pesan dari Mas sbg alumni jika diperlukan 🙂
    Mohon doanya juga

  2. Keren mas tulisannya!
    Saya berminat untuk melanjutkan studi magister saya di PWL IPB dengan biaya pribadi, dilihat dari tulisan mas diatas. Apakah mungkin jika kita join proyek prof untuk thesis mengurangi budget? atau apakah dalam hal penyelesaian survey membutuhkan biaya yg tinggi mas? terima kasih

    • Semoga lolos dan bisa kuliah di pwl dengan lancar. Kreatif saja nanti ketika kuliah misal deketin dosen, siapa tahu bisa diajak project yang bisa dijadikan tesis. Data-data bahan tesis bisa juga dikumpulkan selagi kuliah biar ringan.

  3. kalau yg freshgraduate dari arsitektur dan berminat mengambil keilmuan ini kira-kira hal2 awal yg harus dipelajari untuk pemanasan sblm masuk kelas apa saja ya?

    • Pada dasarnya dari keilmuan apapun bisa masuk pwl. Beberapa teman mimin dulu ada juga yang backgroudnya arsitek, ekonomi. Yang jelas punya dasar statistik dan sig/inderaja akan membuat lebih tokcer ketika kuliah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*