# GeoJSON
Dikutip dari Wikipedia, GeoJSON adalah format standar bersifat terbuka yang dirancang untuk menyajikan fitur geografis sederhana, bersama dengan atribut non-spasialnya. Ini didasarkan pada JSON (JavaScript Object Notation). Fitur-fiturnya termasuk titik (misal alamat dan lokasi), garis (misal jalan, jalan raya dan batas), poligon (misal negara, provinsi, bidang tanah), dan koleksi multi-part dari jenis-jenis tadi.
Sederhananya dalam GeoJSON ini data-data spasial dari format desktop akan dijadikan urutan atau baris-baris kode javascript yang mencakup koordinat node dan juga atribut pendukungnya. Format data ini bisa langsung dibaca oleh browser dan ditampilkan sebagai teks, namun jika ingin ditampilkan utuh sebagai peta maka memerlukan bantuan framework WebGIS seperti Google Maps API, Leaflet, ataupun Openlayers dan lain-lain.
# Leaflet vs Openlayers
Di luar data, dalam WebGIS penting juga untuk memilih API atau tepatnya halaman untuk menampilkan data. API untuk WebGIS yang trend saat ini adalah Leaflet dan Openlayers. Keduanya berbasis javascript yang berarti tidak memerlukan bantuan server (jika data yang digunakan Geojson/Json) dan sepenuhnya bergantung browser yang digunakan klien. Namun demikian keduanya juga bisa menampilkan data yang dihasilkan oleh Geoserver, Mapserver.
Dalam memprogram dengan API Leaflet, kode javascript yang digunakan jauh lebih mudah dan praktis, bahkan tutorialnya pun mudah dimengerti di websitenya, ini cocok untuk pemula. Untuk menjalankannya pun tinggal mengekstrak mentahan yang disediakan dan tinggal dijalankan tanpa localhost sekalipun. Ini cocok untuk yang ingin membuat WebGIS yang sederhana tanpa fasilitas yang ‘njlimet’ seperti hanya membuat peta background (tile), menampilkan peta, zoom, pan, popup, dan lain-lain. Namun akan repot jika WebGIS yang diinginkan kompleks karena diperlukan plugin-plugin yang terkadang tidak ada.
Di sisi lain Openlayers sebaliknya memerlukan pemrograman javascript (API) yang rada-rada rumit, sehingga sebetulnya kurang cocok untuk pemula. Ditambah lagi tidak disediakan tutorial yang runut seperti di website leaflet, jadi pengguna harus berusaha keras menganalisis sampel-sampel yang disediakan di websitenya dan menganalisisnya sendiri.
Namun demikian Openlayers telah menyediakan fasilitas (plugin) yang biasa digunakan untuk pemetaan secara lengkap di dalamnya. Misalnya peta yang ingin di-publish berbeda proyeksi dengan peta online semacam OSM, maka sudah ada baris javacript khusus untuk penyesuaian (transformasi) proyeksi yang tinggal ditambahkan pada data yang diprogram, ini berbeda dengan leaflet.
Namun demikian seperti sudah ditegaskan di awal, jika dikatakan mana yang lebih baik tentu saja masing-masing punya kekurangan dan kelebihan. Menurut Lintas Bumi jika ingin membuat WebGIS sederhana pakai saja Leaflet, sebaliknya jika ingin membuat WebGIS yang lebih interaktif maka Openlayers bisa menjadi pertimbangan. Jika anda belum begitu memahami pemrograman, anda bisa membuat webgis menggunakan Openlayers ataupun Leaflet pada QGIS dengan plugin qgis2leaf.
Bersambung ke part 2.
Leave a Reply