Salah satu fungsi dari Sistem Informasi Geografis atau SIG adalah kemampuannya dalam menganalisis peta secara lebih praktis dan cepat. Peta sendiri sejatinya adalah suatu media untuk menggambarkan obyek dan juga fenomena yang terjadi di permukaan bumi. Obyek tersebut bisa yang nyata seperti jalan, sungai ataupun yang ‘maya’ seperti batas administrasi, garis kontur dan sebagaainya. Topik ataupun tema paling umum yang dipetakan salah satunya adalah penggunaan lahan ataupun penutupan lahan.
Tutupan lahan mengacu pada tutupan permukaan tanah, baik vegetasi, infrastruktur perkotaan, air, tanah kosong atau lainnya. Penggunaan lahan berhubungan dengan deskripsi sosio-ekonomi (dimensi fungsional) kawasan: misalnya kawasan yang digunakan untuk tujuan pemukiman, industri atau komersial, untuk pertanian atau kehutanan, untuk tujuan rekreasi atau konservasi, dll. Dengan kata lain penutupan lebih cenderung kepada kondisi lahan, sedangkan penggunaan lahan lebih mengacu pada tujuan yang ‘dilayani’ oleh lahan tersebut.
Keterkaitan penggunaan lahan dengan penutupan lahan dimungkinkan; mungkin untuk menyimpulkan penggunaan lahan dari tutupan lahan dan sebaliknya. Tetapi situasi seringkali rumit dan hubungannya tidak begitu jelas. Berlawanan dengan tutupan lahan, penggunaan lahan sulit untuk ‘diamati’. Misalnya, seringkali sulit untuk memutuskan apakah padang rumput digunakan atau tidak untuk tujuan pertanian. Perbedaan antara penggunaan lahan dan tutupan lahan serta definisinya berdampak pada pengembangan sistem klasifikasi, pendataan dan sistem informasi secara umum.
Di samping pengertian di atas, di konteks Indonesia masih ada keterbelahan atau mazhab terkait lebih pas mana antara istilah penggunaan lahan atau penggunaan tanah. Saking ‘fanatisnya’ beberapa pihak ketika lintasbumi di bangku kuliah bahkan menganalogikannya dengan pilih mana antara ‘tanah air’ atau ‘lahan air’? Sepengetahuan lintasbumi istilah penggunaan tanah lebih banyak dipakai di lingkungan BPN atau Badan Pertanahan Nasional.
Pemetaan Penutupan Lahan dan Penggunaan Lahan.
Seiring perkembangan teknologi pemetaan, saat ini untuk melakukan pemetaan penutupan lahan suatu wilayah bisa menggunakan teknologi foto udara, penginderaan jauh, dan drone atau UAV. Untuk peta penutupan skala detail, teknologi pemetaan terestris masih digunakan juga. Sedangkan untuk pemetaan penggunaan lahan tentunya tidak bisa dari jarak jauh, harus disurvey langsung ke obyeknya.
Di Indonesia sendiri peta penutupan lahan sudah merupakan hal yang umum karena sangat diperlukan dalam pembangunan dan perencanaan suatu wilayah atau kawasan yang lebih kecil lainnya. Secara nasional dan formal pemerintah khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan pemetaan penutupan lahan setiap tahun (Baca juga : Mendownload Peta Penutupan Lahan KLHK 2020 Langsung Dari Sumbernya dan Mendownload Peta Penutupan Lahan KLHK 2020 Langsung Dari Sumbernya (Part 2)). Pihak lainnya yang juga membuat dan mengeluarkan peta penutupan lahan antara lain Badan Pertanahan Nasional (Peta Penggunaan Tanah), Departemen Pertanian untuk sawah, Badan Informasi Geospasial (dalam peta RBI), dan sebagainya. Secara personal pun tentunya banyak pihak yang membuat secara langsung peta penutupan lahan sesuai dengan sumberdaya dan keperluannya masing-masing.
Analisis Penutupan Lahan
Semakin meningkatnya keperluan lahan untuk kebutuhan permukiman dan inveestasi ekonomi (industri, perkebunan, tambang) di negara ini menjadikan terjadinya persaingan penggunaan lahan atau istilahnya terjadi konversi lahan, utamanya di perkotaan dan juga wilayah-wilayah yang kaya dengan sumberdaya alam. Yang menjadi korban utamanya adalah kawasan hutan dan pertanian, hal yang akan berdampak pada kualitas lingkungan dan keberlanjutannya. Misalnya bisa memicu atau menimbulkan bencana seperti longsor, banjir bandang, dan lainnya yang pada akhirnya merugikan manusia.
Sehingga topik perubahan penutupan lahan dan dampaknya atau mitigasinya banyak diteliti di dunia akademik, bahkan kemudian dijadikan juga basis perencanaan wilayah di berbagai bidang. Analisisnya juga berkembang menjadi permodelan penutupan lahan. (Baca juga : Aplikasi-Aplikasi Proyeksi Penggunaan Lahan, Mau Bikin Model Perubahan dan Prediksi Penggunaan Lahan? Pake Aja QGIS & MOLUSCE!, dan Prediksi Perubahan Tutupan Lahan (Bagian 1) : Skenario Business As Usual (BAU) Pada Terrset, Prediksi Perubahan Tutupan Lahan (Bagian 2) : Skenario Pola Ruang (RTRW) Pada Terrset).
Penutupan lahan adalah obyek yang mempunyai dimensi waktu. Nah salah satu langkah awal dalam menganalisisnya adalah mengetahui perubahan penutupan lahan menggunakan data peta penutupan lahan dari tahun yang berbeda, misalnya dalam jarak 5 tahun. Namun di wilayah perkotaan bisa jadi perubahannya lebih cepat bisa per tahun.
Adapun secara teknis cara menganalisis perubahan penutupan lahan yang sederhana dalam SIG adalah menggunakan overlay melalui tools Union atau Intersect, dan query data base atribut. Bisa juga kemudian dipercantik dengan grafik misal melalui excel (diinsert dalam Layout).
Berikut ini akan dijelaskan caranya menggunakan ArcGIS (tentunya di QGIS atau yang lainnya pun bisa), data yang digunakan yaitu peta penutupan lahan KLHK tahun 2015 dan 2020 yang diClip wilayah Kabupaten Kuningan.
1. Siapkan 2 shp penutupan lahan (atau penggunaan lahan) tahun yang bebeda
2. Pastikan data di atribut tabel di masing-masing shp nya jelas, terutama tentunya informasi (kolom) jenis penutupan lahan. Untuk mempermudah analisis beri nama kolom menyertakan tahunnya.
3. Lakukan perintah overlay bisa melalui Union atau Intersect, masukan kedua shp penutupan lahan sebagai inputnya. Untuk nama file output shp nya beri nama yang sesuai kebutuhan, termasuk jika tipenya harus feature class dalam sebuah geodatabase.
4. Berikut ini adalah ilustrasi shp hasil union penutupan lahan beserta dengan atribut yang ada di dalamnya.
5. Buat tiga kolom baru (add field) di dalam tabel atribut hasil union yaitu Perubahan (tipe : string / text) dan Luas_Ha (tipe : double), dan Status (tipe : string / text). Pertama untuk kolom Luas_Ha lakukan perintah Calculate Geometry untuk menghitung luas masing-masing poligon hasil Union tadi, pilih satuan yang umum yaitu Hectares.
6. Lalu untuk di kolom Perubahan lakukan perintah Field Calculator, double klik kolom LC2015 dan LC2020 agar masuk ke isi Field Calculator. Gunakan Parser default (VB Script), lalu di antara kedua kolom masukan &” –> “& sehingga menjadi [LC2015] &” –> “& [LC2015] (disarankan memakai spasi). Maksudnya adalah nantinya untuk mengisi kolom Perubahan dengan dari tipe penutupan lahan 2015 ke tipe penutupan lahan 2020 pada poligon yang beroverlay, misal Sawah –> Permukiman ( –> bisa juga diganti dengan kata misal menjadi).
Sehingga nantinya menjadi seperti berikut. Nampak ada penutupan lahan tahun 2020 yang kosong sedangkan di tahun 2015 ada. Hal tersebut karena kondisi datanya memang demikian (abaikan). Jika anda mempraktekan sendiri usahakan data penutupan atau penggunaan lahannya yang lengkap (100% beroverlay).
7. Untuk kolom Status, pertama lakukan perintah Select By Attribute, di mana pilih (double klik kolom LC2015 dan LC2020 dan tambahkan = di antaranya) menjadi “LC2015” = “LC2015”. Maksudnya di sini adalah memilih penutupan lahan 2015 yang sama dengan 2020 atau dengan kata lain nanti statusnya Tetap alias Tidak Berubah. Setelah terpilih lalu klik Apply. Setelah klik Apply akan terhilite baris-baris (poligon) yang sesuai kriteria tadi.
8. Selanjutnya pada kolom Status lakukan perintah Field Calculator, ketikan “Tetap”, klik OK. Baris di mana tipe penutupan lahan 2015 dan 2020 sama. maka kini akan terisi Tetap.
9. Lalu lakukan Switch Selection alias pilih yang sebaliknya, di mana kini yang terpilih adalah baris-baris di mana tipe penutupan lahan 2015 dan 2020 tidak sama. Bisa juga pada Select By Attribute, di mana pilih atau ketikan Not “LC2015” = “LC2015″B. Setelah terpilih selanjutnya pada kolom Status lakukan perintah Field Calculator, ketikan “Berubah”, klik OK.
Seperti nampak di bawah maka kini akan terlihat jelas mana penutupan lahan yang berubah dan tidak selama kurun waktu 2015 – 2020.
Kemudian tampilan shp hasil overlay kita modifikasi misalnya diQuery Builder hanya menampilkan yang statusnya Berubah saja. Lalu disymbologykan agar nampak lebih jelas mana-mana saja poligon atau penutupan lahan yang berubah, dan dari tipe penutupan lahan apa menjadi apa, seperti nampak di bawah ini. Ini sudah bisa menjadi bahan untuk melakukan layout peta perubahan penutupan lahan.
10. Langkah selanjutnya biasanya lebih ke analisis tabulasi, biasanya mengekspor tabel atribut shp hasil union atau overlay menjadi file excel. Lalu menganalisis menggunakan pivot tabel sesuai keperluan. Bisa juga mengoverlaynya lagi dengan shp lain misal dalam contoh ini dengan batas kecamatan atau desa, sehingga bisa menganalisis perubahan penutupan lahan di masing-masing kecamatana atau desa.
Misalkan dengan pivot dan dibuat grafik bisa dianalisis mana-mana saja penutupan lahan di tahun 2015 yang mengalami perubahan, dalam kasus ini Pertanian Lahan Kering dan Hutan Tanaman (hutan rakyat / kebun) adalah yang paling banyak mengalami perubahahan. Nampak di gambar berikut.
Lalu dari yang perubahannya dominan (Pertanian Lahan Kering dan Hutan Tanaman 2015) tersebut dibuat grafik lagi masing-masing menjadi apa saja di tahun 2020, seperti nampak pada contoh pivot dan grafik berikut.
11. Variasi untuk ilustrasi laporan bisa juga seperti dibentuk dalam layout seperti ini.
Demikian cara sederhana melalui ArcGIS (dan juga sebenarnya tentu bisa dilakukan di software SIG lainnya seperti QGIS) untuk melakukan analisis perubahan penutupan ataupun penggunaan lahan.