LINTAS BUMI – SIG, Inderaja, dan Perwilayahan

Download Peta Curah Hujan 2011 – 2020 Format Shp

Download Peta Curah Hujan Format Shp

Download Peta Curah Hujan Format Shp

Dalam pengelolaan lingkungan ada salah satu unsur yang ikut mempengaruhi kualitas lingkungan yaitu iklim. Iklim merupakan rata-rata cuaca, dimana cuaca sendiri diartikan sebagai keadaan atmosfer pada suatu saat di waktu tertentu. Iklim sendiri secara definisi adalah ukuran rata-rata dan variabilitas kuantitas yang relevan dari variabel tertentu (seperti temperatur, curah hujan atau angin), pada periode waktu tertentu, yang merentang dari bulanan hingga tahunan atau bahkan jutaan tahun.

Iklim berubah secara terus menerus karena interaksi antara komponen-komponennya dan faktor eksternal seperti erupsi vulkanik, variasi sinar matahari, dan faktor-faktor disebabkan oleh kegiatan manusia seperti misalnya perubahan pengunaan lahan dan penggunaan bahan bakar fosil. Saat ini bahkan isu perubahan iklim selalu menjadi perbincangan karena diduga sebagai penyebab seringnya bencana-bencana alam terutama yang ada kaitannya dengan meterorologis seperti banjir, gerakan tanah, kebakaran hutan dan lahan, serta yang lainnya.

Baca juga : Download Shp Batas Wilayah Desa BIG Terbaru 2021

Salah satu unsur iklim yang dijadikan patokan dalam analisis-analisis permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam, termasuk bencana yaitu curah hujan. Curah hujan adalah segala bentuk cairan atau air beku yang terbentuk di atmosfer dan jatuh ke bumi. Ini adalah salah satu dari tiga faktor utama dalam siklus air.




Iklim dalam hal ini faktor suhu dan curah hujan juga merupakan salah satu faktor penting pembentuk tanah. Di mana kita tahu dong bahwa tanah adalah media di mana bahan pokok makanan manusia tumbuh. Suhu dan curah hujan akan ikut menentukan karakteristik dan kualitas tanah di suatu wilayah, bahkan sampai mempengaruhi kualitas dan produktivitas tanaman yang tumbuh di atasnya.

Sumber : wikimedia.org (Jessie Eastland)

Nah negara kita Indonesia kan terletak di daerah khatulistiwa, jadi secara teorinya wilayahnya selalu disinari matahari dan mempunyai intensitas curah hujan tinggi sepanjang tahun. Karakteristik curah hujan itu telah ikut membentuk biofisik, keindahan alam, dan kesuburan tanah di negara ini, termasuk di sisi lain juga mempengaruhi karaktersitik ancaman bencana alamnya. Tak heran hampir di setiap kabupaten atau kota selalu ada minimal satu stasiun pengamatan hujan, karena informasi / data curah hujan penting dan bisa dijadikan sebagai dasar berbagai analisis untuk pengambilan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, penelitian, ataupun kegiatan akademis lainnya.



Peta Curah Hujan

Salah satu bentuk pengelolaan data curah hujan yaitu dalam bentuk peta curah hujan. Untuk membuat peta curah hujan tersebut ada berbagai metode yang biasa digunakan oleh para ilmuwan. Paling tidak ada 3 metode yang umum digunakan dalam membuat peta curah hujan yaitu pertama metode rata-rata aritmatik (aljabar), kedua metode Thiessen atau polygon Thiessen, dan ketiga adalah metode Isohyet.

Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan kedalaman hujan yang sama. Pada metode Isohyet, dianggap bahwa hujan pada suatu daerah di antara dua garis Isohyet adalah merata dan sama dengan nilai rata-rata dari kedua garis Isohyet tersebut. Metode Isohyet merupakan cara paling teliti untuk menghitung kedalaman hujan rata-rata di suatu daerah, pada metode ini stasiun hujan harus banyak dan tersebar merata, metode Isohyet membutuhkan pekerjaan dan perhatian yang lebih banyak dibanding dua metode lainnya (Triatmodjo, 2008)1.

Baca juga : Unduh Peta Sistem Lahan (Land System) Indonesia Per Provinsi

Data yang digunakan untuk berbagai metode itu sudah barang tentu data curah hujan baik harian, bulanan, atau tahunan. Data curah hujan itu bisa diperoleh dari arsip stasiun pengamatan iklim yang ada di wilayah yang akan dikaji. Sebaran stasiun pengamatan iklim tersebut seharusnya sih merata dan banyak agar hasil analisisnya juga ideal. Namun memang kenyataannya sulit sekali mendapatkan sebaran stasiun pengamatan curah hujan yang merata. Bisa jadi di suatu kabupaten atau kota hanya ada 1 atau 2 stasiun pengamatan curah hujan, misalkan hanya ada di kantor bupati atau dinas tertentu seperti dinas lingkungan hidup.




Selain sebaran stasiun pengamatan, time series dari data curah hujan juga menjadi penting. Kalau hanya untuk memetakan curah hujan di satu waktu misal 1 tahun atau 1 bulan, bisa digunakan data curah hujan di tahun atau bulan dimaksud saja (bisa curah hujan harian atau bulanan). Namun untuk peta curah hujan yang sifatnya jangka panjang, idealnya digunakan rata-rata curah hujan (baik bulanan atau tahunan) selama 5 atau 10 tahun ke belakang bahkan lebih lama lagi akan lebih baik. Lagi-lagi untuk mendapatkan data curah hujan dari stasiun pengamatan yang time series di kita memang agak sulit, kecuali mungkin stasiun pengamatan iklim di kantor pusat (kantor besar) BMKG atau di bandara-bandara. Khusus untuk BMKG sudah ada layanan online untuk mengunduh data iklim terutama curah hujan, suhu, kelembaban, kecepatan dan arah angin, dan lama penyinaran matahari dari berbagai UPT BMKG yang tersebar di seluruh Indonesia. Tentunya pengguna harus mempunyai akun di sana dan login terlebih dulu.

Tampilan depan situs BMKG Online

Jika mengalami kesulitan untuk mendapatkan data curah hujan yang ideal, beberapa alternatif data curah hujan bisa kita dapatkan secara online namun memang berasal dari situs luar negeri. Seperti misalnya dari Physical Sciences Laboratory, di mana mereka mempublikasi data curah hujan harian global (dunia) dalam format grid (NetCDF) yang berukuran 0.5º x 05º (sekitar 55 x 55 km) untuk seluruh dunia yang bisa dimanfaatkan oleh kita untuk membuat ishoyet. Data seperti ini masih ideal untuk digunakan analisis curah hujan pada wilayah yang luas seperti provinsi.

Alternatif lainnya bisa juga dari situs University of East Anglia, di mana mereka mempunyai lembaga penelitian iklim (Climate Reseacrch Unit / CRU) yang bekerja sama dengan beberapa pihak internasional yang konsen di data-data iklim. Di dalamnya pun tersedia data grid precipitation ukuran 0.5º x 05º yang tentu saja bisa diunduh secara gratis oleh publik.

Kalau kita rajin mencari selain sumber yang disebutkan di atas masih banyak lagi sumber-sumber online lainnya yang men-share data curah hujan seluruh dunia dalam bentuk grid yang bahkan ada yang sampai ukuran 0,25º x 025º. Kalau yang suka bermain dengan Google Earth Engine di sana juga tersedia banyak data-data grid curah hujan, yang bahkan sampai hari ini. Dari data-data itu kita bisa melakukan interpolasi ulang untuk membuat peta curah hujan sendiri. Bagi member Lintasbumi anda bisa unduh versi resmi dari pemda di galeri download.

Bagi yang bukan member dan sedang membutuhkan shp curah hujan skala provinsi se-Indonesia bisa mengunduh data shp curah hujan lainnya dari lintsbumi sebagai alternatif di sini. Tersedia gratis 34 provinsi (Papua belum dipecah). Adapun koordinat yang digunakan adalah World Cylindrical Equal Area – WGS 1984. Data curah hujan yang digunakan adalah rata-rata tahunan selama 10 tahun yaitu dari 2011 – 2020. Gambar ilustrasi depan postingan ini adalah tampilan keseluruhan dari shp peta tersebut.

 

Referensi

1 Triatmodjo, B. 2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta : Beta Offset.



Exit mobile version