‘More Hilly’ Hillshade : Siapa Pemenang Blend Layer?, Global Mapper, ArcGIS Pro, Atau QGIS?

Menampilkan layer dengan efek 3D (3 dimensi) adalah salah satu cara agar tampilan peta terasa lebih natural dan hidup. Menggunakan latarbelakang layer hillshade adalah salah satu caranya. Ada perbedaan yang kontras antara hillshade Global Mapper dan ArcGIS Pro, seperti apa?

Daftar isi :

Secara faktual, permukaan bumi memang tidaklah rata, dia bervariasi dari mulai datar, bergelombang, berbukit, bergunung, dan seterusnya. Peta adalah suatu produk penyajian obyek permukaan bumi dalam bentuk 2 dimensi (datar). Kalaupun ada tambahan informasi bentuk permukaan di peta, itu adalah dilengkapi dengan garis kontur, namun tetap saja terlihat 2 dimensi. Namun dengan adanya software GIS saat ini, menampilkan tampilan yang terlihat 3D dan natural bukan pekerjaan yang sulit.

Seiring dengan perbaruan software, teknik penyajian data yang memungkinkan untuk disajikan secara 3D pun semakin dilengkapi, jika di Global Mapper ada fasilitas Blend atau peleburan/pencampuran warna antar layer, kini ESRI pun tak mau ketinggalan. Mulai di software ArcGIS Pro versi 2.7, fasilitas blend layer juga ada. Sayangnya kalau di ArcGIS Desktop (ArcMap) tidak ada fasilitas blend, jadi paling kalau mau bagus menggunakan Global Mapper dan baru disajikan di ArcMap atau dengan teknik lama memainkan transparansi layer. Berikut ini adalah perbandingan antara proses dan hasil blend layer di Global Mapper dan ArcGIS Pro.

Baca Juga : Yakin Selama Ini Bikin Hillshade Sudah Benar? Cek Di Sini !



A. Membuat Hillshade Yang Lebih ‘Hilly’ di Global Mapper

 

Global Mapper yang digunakan Lintasbumi adalah versi 22.0. Karena beberapa menu di Global Mapper (GM) versi sebelumnya banyak yang berbeda, mohon bagi yang ingin mengikuti tapi versi GM belum sama, menu-menu yang dijelaskan di sini tetap ada tapi posisinya saja yang menyesuaikan (dicari sendiri).

#1 Buka DEM (Lintasbumi menggunakan DEMNAS), shp AOI, dan gambar yang akan dibuat Hilly di mana Lintasbumi menggunakan peta RBI jpg yang sudah di Georeference. DEMNAS yang digunakan sudah dimosaic dan crop sesuai shp AOI, hanya saja peta RBI nya akan dicrop ketika save di GM saja. Matikan dulu layer yang lain selain DEMNAS.

#2 Atur tampilan ke Hills Hade, yaitu di Tools – Configure – Vertical Options, dengan ketentuan sebagai berikut; Daylight Shader, Enable Hill Shading. Altitude = 60, Azimuth = 340, Vertical Exaggeration = 0.8, Hill Shading Shadow Darkness = 36.

#3 Tampilan Hillshade DEM berubah, harusnya agak lebih ‘Hilly’ seperti ini; kalaupun ada yang penampakannya di GM anda tidak biru tidak apa-apa, itu hanya masalah settingan di Shader Option.

#4 Convert ke raster biasa, Export Raster/Image Format, Lintasbumi memilih jadi Geotiff dengan ketentuan; 8-bit Pallete Image, Palette = Grayscale Palette dan Compression = LZW Compression. Simpan dengan nama Hillshade.tif.

#5 Ulangi langkah no 2, tapi dengan pengaturan sebagai berikut; Daylight Shader diganti menjadi Slope Direction Shader, yang lainnya tetap sama dengan nomor 2, klik OK. Tampilan DEM menjadi ‘Hilly’ yang lebih berwarna. Ada pengaturan tambahan di Configuration yaitu untuk Shader Option, pastikan Slope Value pada Minimum Slope = 0 dengan Color = White, sedangkan pada Maximum Slope = 5 dengan Color = Black, serta Coloring …. = Smooth Gradient. Barulah lakukan ekspor persis seperti langkah no 4, beri nama Slopeshade.tif.

#6 Buka kedua data yaitu Hillshade.tif dan Slopeshade.tif, posisikan berurutan Slopeshade.tif di bawah. Pada GM layer yang di Control Center ditampilkan paling bawah, berarti tampilannya menjadi paling atas.

#7 Atur Raster Option (double klik nama layer) untuk Slopeshade.tif, atur Blend Mode = Screen, Resampling bisa diabaikan (Nearest Neighbor) atau set ke Bilinear Interpolation / Bicubic Interpolation. Metode Blend dilakukan untuk membuat layer Slopeshade.tif menjadi lebih cerah karena dibantu layer Hillshade.tif (lihat pengaturan di gambar bawah).

Tampilan yang lebih cerah itulah yang kemudian diekspor lagi (hanya Hillshade.tif dan Slopeshade.tif yang dihidupkan), lakukan dengan langkah no 4, beri nama SlopeHillshade.tif.

#8 Berikut adalah tampilan akhirnya, bandingkan antara hillshade biasa (Hillshade.tif) dengan hasil blend (SlopeHillshade.tif), terlihat kenampakan layer baru lebih baik di mana morfologinya lebih hilly, tajam, dan terang karena sudah disatukan dengan Slopeshade.tif.

#9 Kita juga bisa sekaligus mem Blend dengan peta RBI JPG agar tampilannya lebih informatif. Tetap di langkah no 6, namun kali ini di Control Center hidupkan dan posisikan peta RBI jpg di bawah Slopeshade, dan shp AOI paling bawah. Matikan dulu layer DEMNAS dan SlopeHillshade.tif. Atur Raster Option dari peta RBI jpg di mana Blend Mode = Multiply.

#10 Tampilan peta RBI jpg menjadi lebih ‘Hilly’, cocok dijadikan sebagai background peta. Ekspor tampilan, langkahnya sama dengan langkah no 4, hanya saja pilihan File Type nya kali ini adalah 24 Bit RGB, Pallete = Image Optimized Pallete. Sebelum klik menu ekspor ini, hidupkan dan select shp AOI sebagai batas crop.

Lanjut ke menu ekspor lagi, pada Export Bounds pilih Crop to Selected Area Feature(s), barulah klik Export. Beri nama Peta_RBI_Blend.tif. Buka file tersebut di ArcGIS Pro.

Baca Juga :



 

B. Membuat Hillshade Layer dan Blend di ArcGIS Pro

Salah satu hal baru yang terdapat di ArcGIS Pro adalah fasilitas efek visual yaitu Blend atau percampuran warna / tampilan antar layer, sayangnya Blend baru ada di ArcGIS Pro 2.7 ke atas. Berikut ini adalah salah satu contoh melakukan Blend tersebut.

#1 Pada Map nya ArcGIS Pro, add data DEMNAS dan peta RBI jpg. Klik layer DEMNAS di Content, lalu pada tab Imagery di atas klik Raster Function.


#2 Pilih Surface – Hillshade, samakan pengaturannya dengan sewaktu di Global Mapper, pada raster klik layer DEMNAS, pada Azimuth = 340, Altitude = 60, Z Factor = 0.00001. Setelah itu klik Create New Layer di bawah. Kini akan muncul layer Hillshade.

#3 Posisikan Hillshade Layer di bawah peta RBI jpg, lalu klik layer peta RBI jpg dan di atas klik tab Appearance – Layer Blend, coba-coba pilih Screen, Multiply, atau yang lain. Biasanya Multiply lebih memberikan efek bauran warna yang lebih baik, sama dengan di Global Mapper. Berikut adalah hasil Blend di ArcGIS Pro.

#4 Berikut adalah perbandingan hasil Blend di Global Mapper dan ArcGIS Pro dengan pengaturan Symbology yang sama (Percent Clip). Dari sisi Hilly tampak hasil blend dari Global Mapper lebih detail tampilan morfology nya, sedangkan untuk yang di ArcGIS Pro warnanya yang lebih tajam, namun warna dipengaruhi juga oleh setting eskpor di Global Mapper.

Sedangkan di bawah ini adalah hasil blend di ArcGIS Pro antara peta Geologi, Kontur, dan SlopeHillshade dari Global Mapper.

Hasil blend peta Kontur + Geologi + SlopeHillShade.tif (dari Global Mapper) di ArcGIS Pro
C. Efek Hillshade dan Blend di QGIS

Untuk di QGIS, fasilitas Hillshade dan Blend sudah ada sejak lama. Jika data berupa raster pada symbologynya sudah bisa memunculkan efek Hillshade. Letak pengaturannya di Layer properties – Symbology – Render type, sedangkan fasilitas Blend ada di bawahnya yaitu di pilihan Color Rendering. Selain di Symbology, Hillshade juga bisa dibuat jadi file tersendiri dari tool Raster – Analysis – Hillshade. Sedangkan pada layer vektor, pilihan Blend terdapat di Layer properties – Symbology tepatnya di Layer Rendering, bahkan pilihannya ada 2 yaitu untuk Layer dan Feature.

Dalam pengaturan Z Factor (vertical exaggeration) pada efek Hillshade, ada perbedaan antara di Global Mapper dan ArcGIS/QGIS. Jika di ArcGIS/QGIS Z Factor harus tepat mempertimbangkan jenis koordinat (baca : Yakin Selama Ini Bikin Hillshade Sudah Benar? Cek Di Sini !), maka di Global Mapper tidak. Jika dimasukan nilai Z Factor yang sama dengan di ArcGIS/QGIS, maka ketika di Global Mapper Hillshade nya malah kurang tajam.

Berikut adalah hasil blend peta RBI jpg dengan Hillshade di QGIS 3.20 dan ditampilkan scara 3D Map. Setting Hillshade yang digunakan adalah Altitude = 40, Azimuth = 340, Z factor 0.00001, kemudian untuk layer peta RBI jpg nya menggunakan Blend = Multiply. Secara umum kedetailan Hillshade sama dengan di ArcGIS sedangkan ketajaman warnanya sama dengan Global Mapper. Untuk mempertajam Hillshade di QGIS bisa juga dengan menambahkan layer hasil analisis Aspect yang juga kemudian hasilnya di Blend, namun terkadang ada piksel-piksel yang bolong jadi malah menambah ‘jelek’.

Pada gambar di bawah (bagian atas) adalah dengan background Hillshade yang dibuat di QGIS, sedangkan di bawahnya adalah yang menggunakan background SlopeHillshade yang dibuat di Global Mapper. Yang di bawah kelihatan ‘urat’ morfologinya lebih timbul dan detail.

Blend dengan background Hillshade produk QGIS
Blend dengan background SlopeHillshade.tif dari Global Mapper

 

Kesimpulan

Efek Hillshade yang dihasilkan Global Mapper lebih memberikan kesan hilly dibanding ArcGIS Pro dan QGIS. Penyajian seperti ini (blend) sebetulnya bukan sesuatu yang baru, kecuali di ArcGIS Pro sebab di Global Mapper dan QGIS sudah sejak lama ada. Fasilitas 3D perspektif di ketiga software juga akan sangat membantu tampilan peta lebih natural, cocok untuk presentasi.

Teknik blend ini cocok diaplikasikan untuk data-data spasial 3D dikaitkan dengan obyek biofisik seperti Geologi, Geomorfologi, Penggunaan Lahan, Jenis Tanah dan lain-lain. Bagi yang tertarik anda bisa mencoba mengganti-ganti besaran parameter di Hillshade dan Blend yang dirasa ‘cocok’ dengan mata anda.

Sayangnya untuk pengguna ArcMap tidak bisa, kecuali memainkan transparansi yang konsekuensinya mengurangi kualitas tampilan. Jadi bagi pengguna ArcGIS Desktop sebaiknya lakukan blend di Global Mapper dan barulah membuka hasilnya di ArcMap.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *