3 Alternatif Membuat Webgis Online, 100% Gratis

Bikin WebGIS online tanpa jago coding? itu bukan hal sulit koq sekarang, gratis pula, uenak tenan. Di zaman persaingan software GIS yang ketat saat ini, mereka berlomba-lomba memanjakan pengguna dengan menawarkan kemudahan membuat WebGIS tanpa coding bahkan sekaligus bisa dionlinekan. Alangkah sia-sianya jika sebagai pengguna GIS tidak manfaatkan fasilitas itu.

Peta adalah media komunikasi antara pembuat peta dan ‘penikmat’ peta. Namun tidak semua penikmat peta itu bisa mengakses peta dengan mudah, dulu salah satu hambatannya adalah untuk melihat peta harus menggunakan perangkat khusus pemetaan (GIS), yang tentu saja tidak semua penikmat peta memerlukannya. Seiring hadirnya internet, kini mengakses peta menjadi lebih mudah karena cukup dengan browser atau aplikasi. Bermunculanlah layanan seperti Google Map / Google Earth, Open Street Map, Mapbox, dan sejenisnya yang bahkan menjadikan peta saat ini menjadi kebutuhan hidup sehari-hari.

Itu semua tidak lepas dari berkembangnya apa yang dinamakan teknologi GIS berbasis web yang disebut dengan WebGIS atau Web GIS. WebGIS adalah apapun (kegiatan) GIS yang menggunakan teknologi web untuk berkomunikasi antara server dan klien. Sebelum kemunculan Google Map dan kawan-kawannya, usaha untuk mempublikasikan peta lewat internet sudah dirintis sejak awal tahun 90 an, jadi peta-peta online yang ada saat ini adalah versi terkini dari usaha-usaha itu.

WebGIS lekat dengan pembuatan halaman web, dalam prosesnya seorang pembuat WebGIS harus mempunyai kemampuan dasar bahasa pemrograman halaman web dan database yang baik, paling tidak level dasar. Masalahnya tidak semua orang yang ingin membuat WebGIS tertarik dengan dunia pemrograman atau mempunyai waktu untuk mempelajarinya. Ternyata hal itu sudah disadari oleh beberapa perangkat lunak GIS, di mana mereka kemudian membuat fasilitas pembuat peta berbasis web secara mudah tanpa harus faham coding dan bahkan mereka menyediakan media untuk meng-online-kan nya sekalian, secara gratis pula.



Online Masih Jadi Hambatan

Soal meng-online-kan peta ini adalah hal yang masih menjadi hambatan bagi yang ingin berkarya dengan WebGIS. Karena mempublikasikan peta online memang memerlukan server web yang tidak biasa, butuh server khusus peta atau map server. Butuh modal yang tidak sedikit untuk membuat WebGIS yang online. Kecuali bagi pengguna yang sudah mempunyai / menyewa web hosting, mereka bisa meng-online-kan WebGIS nya, tapi itu memerlukan usaha coding juga dan tentu saja berbiaya. Ditambah jarang sekali layanan share hosting yang mempunyai fasilitas map server, sehingga kalaupun bisa online paling WebGIS berbasis javascript.

Ya, WebGIS dengan javascript jadi alternatif untuk bisa online karena tidak memerlukan server semisal Geoserver, Mapserver, ArcGIS Server, dan sejenisnya (khususnya untuk data non WFS/WMS). Contoh WebGIS dengan javascript misalnya Google Map API, begitupun seperti qgis2web di QGIS yang menggunakan platform leaflet atau openlayer, dan lainnya. Namun kelemahan WebGIS javascript antara lain peta menjadi besar ukurannya karena menjadi kode javascript (JSON/GeoJSON), lama diakses, kurang interaktif, serta datanya bisa diunduh (kurang aman), dan tetap memerlukan pemahaman coding javascript.

Akhirnya kebanyakan membuat WebGIS jatuhnya hanya untuk keperluan offline saja atau di localhost, atau tetap istiqamah di jalur javascipt. Bagaimana dengan pengguna yang inginnya gratisan tapi WebGIS nya online? Jangan khawatir, masih banyak jalan menuju Roma untuk bisa membuat WebGIS Online, tapi juga bukan yang ‘kaleng-kaleng’. Simak bahasan berikut.

Baca Juga : Mau Bikin Webgis? Cek Dulu Siapa Lebih Cepat? Geoserver vs Mapserver vs Geojson Dalam Openlayers dan Leaflet [Part 1]

 

#1 Google Map

Ini sih tidak perlu penjelasan panjang lebar, semua pemilik HP pintar atau smartphone pasti pengguna Google Map. Namun tahukah anda bahwa Google Map juga menyediakan fasilitas bagi pemilik akun Google untuk mempublikasikan data spasial beserta dengan atributnya di Google Map, dan pastinya bisa ditampilan online di web dengan alamat sendiri semisal blog di blogspot atau wordpress, dan lain-lain. Caranya?

Siapkan shapefile dan ekspor menjadi KML / KMZ, bisa menggunakan QGIS, ArcGIS ataupun Global Mapper. Lalu buka Google Maps, login ke akun anda terlebih dulu, jika belum punya akun harus membuatnya dulu. Lalu klik Menu di kiri atas, dan pilih Your Places, pilih tab Maps. Di bagian bawahnya ada pilihan Create Maps.


Setelah itu akan muncul jendela pembuatan peta, isikan (ganti) judul peta dan deskripsinya di kiri atas, begitupun Untitled Layer klik dan ganti dengan nama yang anda inginkan. Klik Import dan drug file KML / KMZ yang ingin anda WebGIS kan.


Selanjutnya setelah muncul layernya, klik Individual Style di bawah nama layer, anda bisa mengatur simbol nya apakah seragam (Uniform….), dan seterusnya. Lintasbumi memilih Style by data column (KECAMATAN), lalu pada Set Label dipilih DESA. Transparansi dan warna diatur pada masing-masing legenda.

Setiap perubahan akan otomatis tersimpan, tidak perlu khawatir. Jika ingin menambah layer lain klik lagi Add layer dan ulangi proses pengaturan yang sama. Anda bisa Preview terlebih dulu sebelum selesai, dan jika ingin ditampilkan di web klik Share. Jika ingin bersifat Publik anda harus klik Drive sharing dan set untuk Anyone with the link. Untuk ditampilkan sebagai obyek web, pada preview klik Share atau pada judul peta di atas klik tanda titik tiga di sebelah kanannya, lalu klik Embed on my site.

Kode embed Google Map

Copy kode yang muncul dan masukan di halaman web anda (pada kode html), di bawah ini adalah contoh web nya. Untuk share di medsos maka cukup diberi link sharing nya (bukan kode Embed), seperti https://www.google.com/maps/d/edit?mid=17JHOd0L9DJFi5VdI6o_nSlNn2HRaPpxM&usp=sharing.

Kekurangan dari WebGIS melalui Google Map ini adalah tetap berbasis javascript, pilihan simbol petanya tidak banyak, begitupun untuk pewarnaan. Terkecuali anda mau belajar coding javascript, maka bisa membuat Google Maps yang dicustomize sendiri dengan memanfaatkan Google Maps API.

Baca Juga : Mau Bikin Webgis? Cek Dulu Siapa Lebih Cepat? Geoserver vs Mapserver vs Geojson Dalam Openlayers dan Leaflet [Part 2]

 

#2 QGIS Cloud

Kalau yang ini WebGIS nya sudah lebih advance, tidak berbasis javascript lagi, tapi sudah berbasis map server namanya ya QGIS Server. Modalnya adalah pengguna harus menyiapkan data spasial, QGIS yang sudah diinstal plugin QGIS Cloud, dan sudah mempunyai akun di situs QGIS Cloud. Jika belum punya akun anda harus membuatnya dulu. Caranya pun tidak ribet, tinggal klik Sign Up di kanan atas ikuti semua petunjuk di dalamnya sampai aktivasi akun melalui email anda.

Situs QGIS Cloud

Di dalam rincian di situs QGIS Cloud, ada 2 macam akun yaitu yang gratis dan berbayar. Kalau yang gratis hanya dikasih fasilitas 1 database PostGIS sebesar maksimal 50 mb dengan multiakses maksimal 10 user (concurrent). Alamat WebGIS menjadi subdomain dari qgiscloud.com. Untuk yang berbayar biayanya 60 Euro/bulan dengan fasilitas maksimal 10 database dengan ukuran maksimal sampai 500 mb, alamat bisa sendiri, dan seterusnya. Kita gunakan yang versi gratis.

Untuk langkah pertama, buat project dan sajikan data spasial yang ingin dipublikasikan di QGIS, atur simbolnya secantik mungkin seperti keinginan anda. Jangan lupa QGIS nya sudah diinstal plugin QGIS Cloud. Dalam contoh ini Lintasbumi menggunakan QGIS 3.20. Setelah peta siap, aktifkan plugin QGIS Cloud, login dengan akun anda dan klik create (database)/biasanya muncul secara otomatis.

Setelah database ter-create (nama databasenya bawaan dari QGIS Cloud tidak bisa diganti), lalu pilih tab Upload Data, dan (klik) Upload semua peta yang akan dipublikasikan. Peta akan terupload, indikator nya adalah ukuran database berubah misal jadi 1/50 mb. Setelah itu klik tab Maps, jika ingin memakai peta latar klik Add background layer dan pilih dari yang tersedia seperti OpenStreetMap. Setelah itu klik Publish Map.

Jika sukses maka di bawah Publish Map akan muncul keterangan alamat WebGIS yang kita buat, silahkan di klik dan kini anda sudah mempunyai WebGIS yang online. Berikut adalah web contoh. Untuk membuat peta yang baru ulangi proses di atas. Kelebihan dari fasilitas QGIS Clod ini adalah kita bisa mengatur tampilan WebGIS sepenuhnya dari QGIS terlebih dulu.

 

Untuk menghapus peta, layer, bahkan database bisa dilakukan di Plugin. Atau untuk hapus tabel bisa dilakukan juga dari DB Manager di QGIS dan pilih Python, di situ akan terlihat database di QGIS Cloud. Setelah selesai pembuatan WebGIS, segera logout dari QGIS Cloud di QGIS.



 

#3 ArcGIS Online

Kalau yang ini namanya sudah tidak asing, proses pembuatannya ada dua jalan yaitu murni 100% dilakukan di websitenya arcgis.com, atau melalui ArcMap/ArcGIS Pro.

Pertama, lewat online di arcgis.com, di mana yang harus disiapkan adalah shapefile yang sudah disatukan dalam format zip (dikompres). Untuk membuat sebuah halaman WebGIS di ArcGIS Online anda harus login dulu alias punya akun ESRI. Kalau belum punya berarti anda buat dulu di sini, bisa juga menggunakan akun Google atau Facebook anda.

Situs Arcgis Online (Map)

Setelah login akun anda muncul namanya di kanan atas. Sebetulnya ada 2 tipe halaman map di sini yaitu classic dan default (terbaru), Lintasbumi pilih yang classic. Untuk menambahkan data shapefile klik Add di kiri atas, pilih Add Layer from File. Browse ke file zip yang berisi shp, silahkan pilih dulu mau di Generalize... atau Keep oroginal… (sesuai aslinya). Setelah itu klik Import Layer.

Tunggu beberapa saat dan dengan sendirinya kini muncul pilihan untuk memulai mengatur tampilan (symbology) dari masing-masing shp yang sudah kita upload, di sebelah kiri. Contoh data Lintasbumi adalah poligon kelurahan dan titik lokasi kantor pemerintahan. Untuk poligon dipilih simbol Count and Amount (Color) karena ingin mengklasifikasi luas kelurahan (LUAS_HA) menjadi 3 kelas dengan tipe equal interval dan legendanya di custom, tinggal klik saja Options nya. Sementara untuk yang titik dipilih simbol Types (Unique symbols), berdasarkan (KETERANGAN) jenis kantor pemerintahan, legendanya pun di custom dengan mengklik Options nya. Klik Done untuk mengaplikasikan simbol.

Jika sudah mantap dengan simbolnya maka klik Save di atas, tentukan judul peta, tag, dan deskripsinya. Klik Save Map dan kini halaman WebGIS anda sudah jadi. Judul peta di kiri atas dengan sendirinya kini berubah juga. Jangan lupa klik share jika peta anda ingin dipublikasikan, dalam kasus ini Lintasbumi juga ingin memasukan peta tersebut di halaman postingan ini, jadi memilih Everyone (public) dan Embed in website.

Copy kan kode html Embed tersebut ke halaman blog anda (jika punya), hasilnya seperti nampak di bawah ini. Atau untuk mengunjungi situs utamanya bisa mengunjungi https://arcg.is/1v81KD1 (copy dari Link to this map di jendela share). Untuk membuat peta baru dengan data lain klik New Map.

Kedua lewat ArcMap, tepatnya toolbox MXD to Webmap. Persiapkan sebuah project dengan proyeksi Web Mercator (epsg : 3857), tambahkan layer (disarankan sebuah feature class) yang ingin dipublish lalu desain symbology petanya sebaik mungkin, simpan sebagai mxd. Jangan lupa untuk Sign In di arcgis online dengan akun anda lewat File – Sign In (Baca Juga : Google Maps Di ArcGIS Desktop (ArcMap) Dan ArcGIS Pro Tanpa Plugin? Tentu Saja Bisa !). Setelah itu buka toolbox MXD to Webmap, isikan parameter yang sesuai dan klik OK, tunggu beberapa saat sampai peta terpublish.

Setelah itu cek My Content di profile akun arcgis online, webmap yang dipublish akan muncul, tools ini kadang berhasil kadang tidak (baca keterangan ESRI). Sedangkan untuk di ArcGIS Pro sudah ada menu share webmap, hanya saja akun ESRI anda harus yang mempunyai privilige untuk publish (terkoneksi ke organisasi). Hasil webmap nya sama saja dengan yang dikerjakan online (cara pertama).

Toolbox MXD to Webmap

Jika sudah ada webmap tapi ingin menghapusnya, anda tinggal klik My Profile di bawah nama akun, pilih View All, dan di My Content anda bisa pilih peta yang akan dihapus. Kapan pun anda bisa memodifikasi peta ini secara online, jangan lupa setelah selesai anda segera logout dari akun.

 

Otoritas Terhadap WebGIS

Karena ketiganya adalah fasilitas gratis yang disediakan pihak ketiga, maka secara otomatis otoritas kita terhadap WebGIS yang dibuat juga terbatas. Seperti contoh alamat WebGIS yang menjadi subdomain si penyedia dan tidak bisa dirubah, fasilitas pengaturan layer juga dibatasi mengikuti yang ada saja,  tampilan halaman yang juga tidak bisa diedit, dan seterusnya. Tapi walaupun free, ketiga platform ini baik dalam membantu pengguna menampilkan data spasial menjadi WebGIS, bukan ‘kaleng-kaleng’.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *