Komparasi Peta Tutupan Lahan ESRI 2020 dan Versi KLHK (+Video)

ESRI baru-baru ini merilis data klasifikasi tutupan lahan tahun 2020 gratis, dan saat ini di medsos pun sedang tren postingan yang membahasnya. Lantas bagaimana kualitasnya, sejauh mana akurasinya? Lintasbumi mencoba mengkomparasi dengan data KLHK tahun 2020.

Data merupakan modal dasar SIG, tanpa data maka SIG lumpuh, tidak menghasilkan apa-apa, bahkan bukan apa-apa. Data spasial dalam SIG bisa dibuat sendiri (data primer) ataupun berasal dari data yang telah dibuat pihak lain (data sekunder). Terkait dengan data sekunder, kita semua tahu bahwa tidak mudah mendapatkan data spasial yang ‘baik’. Baik di sini dalam pengertian yang sesuai dengan keinginan kita, baik itu kualitas topologinya, kelengkapan atribut di dalamnya, waktu pengambilan atau pembuatan, skala kedetailannya, dan sebagainya.

Saat ini dengan banyaknya data spasial free di dunia maya, di satu sisi itu harus bisa kita optimalkan dan di sisi lain kita juga harus hati-hati dan teliti dengan data tersebut. Semakin mudahnya bisa mengunduh data spasial secara mudah dan gratis, tetap mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positif tidak usah diceritakan lagi, dampak negatifnya antara lain pengguna sering melupakan atau kurang memperhatikan kualitasnya, terkesan asal pakai.

Prinsipnya kadang ‘yang penting’. Yang penting data spasialnya dapat, terbaru, gratis (baik legal ataupun ‘illegal’), dan sebagainya, tanpa melakukan pengecekan kembali yang lebih mendalam terhadap datanya. Kualitas di sini tidak hanya aspek spasial (topology, atribut, dan sejenisnya), namun termasuk kemungkinan resiko keamanan seperti file unduh disusupi virus, malware, dan sejenisnya, hal itu tentunya beresiko bagi pengguna sendiri. Khusus cek topology dan atribut tentunya berpengaruh terhadap informasi spasial yang ingin dihasilkan.

Baca Juga : Topology Data Spasial

Di sinilah perlunya kejelian pengguna untuk selalu mengecek terlebih dulu setiap data spasial yang akan diunduh atapun yang sudah diunduh. Walaupun memang tidak ada standar nya, setidaknya menetapkan standar sendiri. Misalnya dengan mengkomparasi dengan data spasial ‘buatan lokal’. Selain kualitas data, hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan data spasial gratis adalah lisensi atau hak cipta. Beberapa pihak penyedia data spasial gratis memberikan keterangan (syarat dan ketentuan) penggunaan data oleh pihak ketiga. Misalnya pengguna harus memberikan keterangan sumber data, lengkap dengan bagaimana cara penulisannya, dan sebagainya. Hal-hal seperti itu memang belum menjadi isu penting di dunia per GIS an Indonesia.



 

ESRI 2020 Land Cover

Kembali ke soal data tutupan lahan ESRI, berdasarkan keterangan di situs resminya data ini berbentuk raster (geotiff) dengan resolusi 10 meter. Klasifikasi tutupan lahan tersebut dihasilkan secara Artificial Intelligence (AI), dari koleksi citra Sentinel-2 tahun 2020 di Microsoft Planetary Computer, plus divalidasi dengan pengamatan lebih dari 400.000 pengamatan secara lapangan bekerjasama dengan National Geographic Society. Bahkan ke depannya akan dilayani juga yang klasifikasinya sesuai keinginan pengguna, tentu saja berbayar. Khusus yang gratis bisa dilihat dan diunduh di Esri 2020 Land Cover Downloader (link lihat pada Referensi).

Tampilan Esri 2020 Land Cover Downloader

Dari aspek spesifikasi, selain beresolusi 10 m, data tersebut jika ditotal sebesar 60 gb dalam format zip. Data ini dibagi ke dalam beberapa bagian sesuai kode zona UTM horisontal dan vertikal (map tiles), sehingga tak heran datanya berkoordinat UTM. Per bagiannya sebagai contoh di khatulistiwa dan sekitarnya berukuran columns x rows = 77789 x 97653 piksel. Klasifikasi tutupan lahan berjumlah 10, dari Water sampai dengan Clouds, uji akurasi klasifikasi berdasarkan nilai Kappa nya adalah 86% (85,962%) yang berarti bisa diterima.

Kode Klasifikasi Tutupan Lahan ESRI 2020 (terjemahan versi Lintasbumi)

Untuk lisensi penggunaan, merupakan Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0), artinya data tersebut bisa dibagikan lagi ke pihak lain dan diadaptasi (remix, ubah, dan bangun di atas materi untuk tujuan apa pun, bahkan secara komersial), namun dengan tetap menyebutkan sumber datanya ESRI. Selengkapnya bisa dibaca di Esri 2020 Land Cover (link di Referensi).

Bagaimana cara memperolehnya? Cara unduhnya mudah, tinggal mengunjungi situs Esri 2020 Land Cover Downloader, tanpa perlu akun/login langsung saja pilih (klik) map tiles yang ingin diunduh, otomatis akan memunculkan jendela untuk diunduh (file .tif). Besar file beragam bergantung variasi wilayahnya. Cara unduh ini mirip dengan DEMNAS.

Tampilan Unduh di Esri 2020 Land Cover Downloader

Hasil unduh adalah file berektensi .tif, ketika hasil unduh dibuka pada ArcGIS Pro, nama file berkode UTM, secara otomatis symbologynya dalam Colormap. Nilai piksel di dalamnya bervariasi tidak hanya 1 – 10 sesuai klasifikasi, namun nilai di luar 1 – 10 dianggap sebagai no data.

Membuka pertama kali hasil unduh di ArcGIS Pro

Selain diunduh, bisa juga dijadikan sebagai base map (map tiles), namun alamatnya berbeda. Untuk keperluan ini kunjungi situs Esri 2020 Land Cover, di bagian kanan klik open in ArcGIS Desktop atau ArcGIS Pro. Unduh file nya, lalu buka dan tampilan petanya sudah lengkap dengan legenda sesuai nama tutupan lahan dalam bahasa Inggris; seperti gambar berikut.

Esri 2020 Land Cover sebagai map tiles ArcGIS Pro

 

Komparasi Tuplah Esri 2020 Land Cover vs Tuplah KLHK 2020 vs Google Satellite

Lintasbumi melakukan eksperimen sederhana, yaitu meng clip data ESRI tersebut ke dalam wilayah administrasi Kota Bogor, lalu juga melakukan hal yang sama untuk peta tutupan lahan KLHK tahun 2020. Setelah itu tak lupa memasukan Google Map (Satellite) sebagai tile layer. Dengan maksud ingin komparasi akurasi visual masing-masing data tutupan lahan, dan Google Satellite sebagai data ground (lapangan) terkini.



Perbandingan visual ini tidak bermaksud untuk menentukan mana yang lebih baik, karena tentu saja tidak peer to peer dan tidak sesederhana ini. Satu diolah secara AI dari Sentinel-2, sedangkan yang 1 lagi (KLHK) adalah campuran antara interpretasi visual dari citra (tidak diketahui secara jelas jenisnya apa), laporan lapangan, dan sebagainya, jadi tentu beda di banyak hal. Ini hanya sekedar melihat kira-kira apa yang bisa kita manfaatkan dari salah satu atau kedua data tersebut.

Dari data ESRI tahun 2020, terdapat 7 kategori tutupan lahan di Kota Bogor yaitu Area Terbangun, Belukar, Hutan, Lahan Basah, Rumput, Tanaman Semusim dan Tubuh Air. Sedangkan pada tutupan lahan KLHK tahun 2020 hanya memunculkan 5 jenis tutupan lahan yaitu Hutan Tanaman, Permukiman, Pertanian Lahan Kering, Pertanian Lahan Kering Campur, dan Sawah. Adapun Tubuh Air pada data KLHK menjadi blank (tidak berpoligon). Dari visual kedua data nampak versi KLHK area terbangunnya lebih sedikit jika dibandingkan pada peta tutupan lahan versi ESRI. Sebaliknya pertanian lahan kering versi KLHK lebih banyak dari tanaman semusim nya ESRI.

Perbesaran dan kemudian dibandingkan dengan Google Satellite, juga menunjukan banyak perbedaan. Pada tutupan lahan versi KLHK kenampakan area terbangun di Google Satellite banyak yang masih dimasukan menjadi pertanian lahan kering atau pertanian lahan kering campur. Namun pada tutupan lahan ESRI sedikit lebih baik di mana areal terbangun terutama kenampakan rumah bisa dikatakan 90% sudah tepat dan dimasukan menjadi area terbangun, begitupun dengan area bervegetasi di Google Satellite baik itu hutan ataupun tanaman semusim juga 90% betul.

Di luar area Bogor, ketika area of interest digeser ke sekitar Kabandungan Kabupaten Sukabumi, tuplah ESRI juga kurang tepat mendeteksi. Di mana menurut ESRI di situ sebagian besar permukiman, padahal justru sebagian besar ladang / kebun lahan kering yang memang bercampur permukiman. Sebaliknya di data KLHK justru hanya dikategorikan sebagai kebun lahan kering / kebun lahan kering campur, di mana permukimannya banyak yang digeneralisir (tidak ada).

Area sekitar Kabandungan Kabupaten Sukabumi

 

Kesimpulan

Jadi dari perbandingan secara visul tadi bisa dikatakan masing-masing data mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Namun sekilas untuk tutupan hutan, data KLHK lebih baik, sedangkan untuk area terbangun data ESRI lebih baik. Khusus untuk tutupan hutan bahkan data KLHK sudah membagi tutupan hutannya menjadi primer (alami) dan sekunder (sudah pernah diokupasi/ditebang). Data tutupan lahan KLHK bisa diperoleh di ArcGIS Rest KLHK.

Baca Juga : Di Mana Kabupaten / Kota Dengan (Prosentase) Kawasan Hutan Terluas di Indonesia?

Pada akhirnya pilihan jatuh pada pengguna sendiri, mana yang lebih prefer untuk digunakan tentunya disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing. Namun sebagai sebuah produk yang dikeluarkan oleh lembaga sekredibel ESRI, data tutupan lahannya tentunya sangat bisa dipertanggungjawabkan, apalagi resolusinya yang 10 meter bisa digunakan untuk analisis skala 1 : 20.000. Sedangkan data tutupan lahan KLHK bagaimanapun adalah data resmi pemerintah, dan untuk urusan hutan khususnya Indonesia tentunya merupakan core datanya. Berikut video sekilas tentang unduh dan penyajian ESRI Land Cover 2020.

 

Referensi



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *