Bye Bye ArcGIS Desktop : Akhirnya Diskontinyu

ArcGIS Desktop atau lebih dikenal ArcGIS, yang telah merajai dunia SIG 20 tahun terakhir sampai juga di garis finishnya alias pensiun. Dalam keterangan di situs ESRI ketika mengumumkan dirilisnya ArcGIS Enterprise 10.9, di dalamnya ternyata tidak disertakan adanya perbaruan dari ArcGIS Desktop.

Dalam halaman situs tersebut (What’s new in ArcGIS Enterprise 10.9), ESRI secara eksplisit menyebutkan bahwa dukungan layanan yang bersumber dari ArcGIS Desktop saat ini sedang dihentikan. ArcGIS Enterprise 10.9 ini disebutkan juga merupakan versi terakhir yang masih mendukung koneksi service dari ArcGIS Desktop, untuk versi setelah 10.9 tidak akan mendukung lagi.

Jadi ArcGIS Desktop 10.8.1 merupakan versi terakhir dari ArcGIS Desktop. Hal tersebut sebetulnya jauh-jauh hari sudah diumumkan juga di situs ESRI sekitar bulan Oktober 2020. Javier Angel yang merupakan Manager Marketing ArcGIS Pro dan ArcGIS Desktop, memang mengatakan “Kami tidak mempunyai rencana untuk merilis ArcMap 10.9 di tahun 2021. ArcGIS 10.8.1 merupakan versi terakhir ArcGIS Desktop yang masih akan disupport sampai 1 Maret 20206”.

Jadi setelah dirilisnya ArcGIS Dektop 10.8.1 tersebut, ESRI selanjutnya hanya akan berfokus pada pengembangan ArcGIS Pro sebagai the next ArcGIS Desktop. Bagaimana jika setelah 1 Maret 2026, apakah masih bisa menggunakan ArcGIS Desktop ? Lebih lanjut ESRI mengatakan selama lisensi resminya masih valid maka pengguna masih bisa memakainya.

Baca Juga : ArcGIS 10.8.1 Cuma Beda Dikit Sama ‘Adeknya’ 10.8

20 tahun merupakan waktu yang panjang bagi sebuah software untuk eksis. Sejak pertama dirilis di awal tahun 2000 an yaitu ArcGIS 8.1 kalau tidak salah, penggunanya telah meluas ke berbagai penjuru dunia. Pemain SIG sudah pasti yang pertama dikenal adalah ArcGIS. Saking larisnya dan juga memang mumpuni untuk urusan menyajikan dan menganalisis data spasial, akhirnya banyak beredar di dunia maya versi ilegalnya.

Tak heran karena seperti yang pernah Lintasbumi ulas di postingan sebelumnya tentang perkiraan ArcGIS 10.6 merupakan versi terakhir yang ternyata tidak terjadi pada saat itu, harga software ini bisa lebih mahal dari harga laptop penggunanya. Namun karena memang mantap kemampuannya, di crack lah kemudian software ini. Lintasbumi yakin setidaknya mungkin di Indonesia, sebagian ArcGIS di komputer penggunanya (personal) adalah crack an.

Baca Juga : ArcGIS 10.6.1 Adalah Generasi Terakhir ArcGIS Desktop, Apa Betul?

Teman-teman SIG harus mulai siap-siap beralih ke ArcGIS Pro. Walaupun setidaknya mungkin dalam 5 tahun ke depan penggunaan ArcGIS Desktop masih banyak, namun dalam perjalanannya akan terjadi transisi dan pelan-pelan pengguna ArcGIS Desktop akan berkurang dan beralih ke ArcGIS Pro. Mengingat misalnya data-data spasial yang berseliweran saat itu bisa saja yang cuma bisa dibaca di ArcGIS Pro.



Mumpunikah ArcGIS Pro untuk menggantikan ArcGIS Desktop ?

Jawabannya pasti Iya. Dalam beberapa selipan di postingan tentang ArcGIS, Lintasbumi juga pernah mengkomparasi kinerja ArcGIS Pro dan ArcGIS Desktop yang mana secara umum ArcGIS Pro memang lebih baik. ESRI pastinya sudah meningkatkan kemampuan ArcGIS Pro berkali-kali lipat terutama untuk menjawab kebutuhan pengelolaan data spasial saat ini yang sudah serba online dan big data.

Sebagai contoh ArcGIS Pro kini sudah berplatform 64 bit, berbeda dengan ArcGI Desktop yang hanya 32 bit. Dampaknya kinerja atau kecepatan pengolahan data ArcGIS Pro menjadi lebih unggul. Selain itu ArcGIS Pro lebih mumpuni dalam memproses data-data spasial yang berukuran besar dibanding ArcGIS Desktop. Format data yang bisa dibaca di ArcGIS Pro jika melalui Data Interoperability berjumlah 430 format data (amazing!), bandingkan dengan Data Interoperability ArcGIS Desktop yang hanya di bawah 100 format data. Itu beberapa kelebihan ArcGIS Pro lainnya di banding ArcGIS Desktop.

Software SIG ke depan tidak hanya harus mampu menyajikan dan menganalisis data spasial, tapi juga harus menjadi alat layanan informasi, interoperabilitas nya mumpuni, bisa bekerja online dan bahkan bekerja secara cloud. Sesuatu yang mungkin saja tidak bisa diupdate di ArcGIS Desktop, dan ArcGIS Pro lah suksesornya.

Baca Juga :

Dan seperti yang sudah bisa ditebak, tak perlu menunggu lama, begitu kemudian dirilis ArcGIS Pro, tak lama kemudian di dunia maya pun sudah muncul versi crack an nya. Bahkan secara terang-terangan di Yotube diajarkan cara memperoleh dan menginstall nya.

Harapan Lintasbumi sih sebetulnya ESRI bisa menurunkan harga lisensi ArcGIS Pro agar sesuai dengan kemampuan kantong orang Indonesia, setidaknya lebih murah dari harga laptop lah, buktinya produk Mi*****ft juga bisa. Terobosan seperti bekerja sama dengan kampus-kampus dengan adanya lisensi mahasiswa merupakan salah satu contoh baik, namun tidak semua pengguna ArcGIS adalah mahasiswa. Padahal pengguna ArcGIS di Indonesia ini banyak dan kalau secara legal membeli tentu satu keuntungan juga buat ESRI. Namun kita tidak tahu bagaimana hitung-hitungan bisnisnya.

Baca Juga : Menginstall dan Menggunakan ArcGIS 10.6.1 Versi Resmi (Versi Student IPB)

Terima kasih ArcGIS Desktop, lakonmu dalam dunia SIG 20 tahun terakhir adalah sesuatu yang tidak akan terlupakan. Sudah ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang bisa SIG atau bahkaan jadi ahli SIG karenamu. Banyak peta-peta bertebaran dan berguna bagi banyak orang di dunia ini karenamu, jasamu begitu besar. Namun apa mau dikata segala sesuatu harus ada akhirnya dan akan selalu berganti generasi.

Apapun kondisinya maka mari bersiap-siap bermigrasi ke ArcGIS Pro.



2 komentar tentang “Bye Bye ArcGIS Desktop : Akhirnya Diskontinyu”

  1. Pecinta ArcGIS dekstop harus siap-siap upgrade ke versi selanjutnya ini. Biar dapat support dan pengolahan data spasial yang maksimal. Siapin amunisi kantong buat beli lisensi ArcGIS Pro…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *