Mengoptimalkan QGIS Untuk Panen Data Spasial

Quantum GIS atau kini lebih umum dikenal sebagai QGIS saat ini sudah merupakan software SIG terbuka atau open source yang mumpuni dan bisa menyaingi software SIG berbayar terutama ArcGIS. Sejak pertama dikembangkan tahun 2002 oleh Gary Sherman sampai saat ini yang berarti sudah hampir 20 tahun, eksistensinya semakin kuat, penggunanya semakin banyak dan meluas, serta betul-betul telah menjadi software SIG alternatif bersifat terbuka (open source) yang sangat mumpuni, selain itu bisa diunduh oleh siapa saja di bawah lisensi GNU General Public License.

Salah satu kelebihan si QGIS adalah walaupun bersifat terbuka namun selalu dikembangkan setiap saat (secara teratur) mengikuti kebutuhan pengolahan data spasial yang selalu berkembang. Selain itu kemampuannya membaca banyak format data spasial juga menjadi salah satu kekuatan software ini. Hal itu tidak terlepas dari ditanamnya kemampuan dari GDAL (Geospatial Data Abstraction Library) dan OGC (Open Geospatial Consortium), suatu fasilitas bersifat terbuka yang memang bisa membaca banyak format data raster ataupun vektor. Fasilitas dari GDAL dan OGC ini juga sebetulnya digunakan di software SIG lainnya di dunia. Salah satu format publikasi data spasial penting yang saat ini sebetulnya banyak digunakan namun banyak yang tidak begitu memperhatikan istilahnya, adalah WMS (Web Map Service) dan WFS (Web Faeture Service).

 

WMS dan WFS

Seperti dikutip dari situs OGC, WMS merupakan antarmuka HTTP sederhana untuk meminta gambar peta yang sudah bereferensi geografis (berkoordinat) dari satu atau lebih basis data geospasial terdistribusi. Permintaan WMS mendefinisikan layer geografis dan area yang diminati (area of interest) yang akan diproses. Tanggapan atas permintaan tersebut (atau outputnya) adalah satu atau lebih gambar peta yang sudah bereferensi geografis, dikembalikan dalam format JPEG, PNG, dan lain-lain, yang dapat ditampilkan dalam aplikasi browser. Antarmuka WMS ini juga mendukung kemampuan untuk menentukan apakah gambar yang dikembalikan harus transparan sehingga layer dari beberapa server dapat digabungkan atau tidak. Singkatnya dengan si WMS ini, jika suatu data spasial (baik bentuknya raster ataupun vektor) disimpan dan dipublikasi (dibagikan) melalui server peta (misalnya web GIS yang online), kemudian pengguna ingin melihat data tadi, maka pengguna akan melihatnya dalam bentuk image/raster berkoordinat di browser nya.

Lain lagi dengan WMS, WFS mempunyai kemampuan yang lebih dari sekedar menghasilkan data spasial dalam bentuk image / raster. WFS (terutama untuk bentuk data spasial format vektor) menghasilkan output yang bisa diakses oleh penggguna di browser nya tetap dalam bentuk aslinya (tetap vektor), berserta properti di dalamnya seperti database atributnya. Maka dengan WFS ini pengguna juga bisa melakukan query, transaksi, modifkasi, dan lainnya sesuai yang ditentukan oleh administrator servernya. Sehingga tak heran jika ingin mendownload data spasial online, maka carilah portal-portal SIG yang menawarkan fasilitas WFS terutama untuk GetCapabilities.



Bagaimana mengakses WMS atau WFS ?

Jika Lintasbumi perhatikan, saat ini portal-portal SIG kebanyakan menggunakan Geoserver dan ArcGIS server dalam mempublikasikan data spasialnya, terutama di Indonesia. Baik dalam Geoserver ataupun ArcGIS Server, jika administratornya mengizinkan maka di dalamnya secara jelas menampilkan kemampuan WMS, WFS. Perhatikan contoh adanya fasilitas WMS atau WFS pada gambar-gambar berikut, Lintasbumi mengambilnya dari geoportal Provinsi Jambi (untuk Geoserver) dan Bappenas (untuk ArcGIS Server)

Link WMS / WFS pada Geoserver
Link WMS / WFS pada Geoserver
Link WMS / WFS dalam ArcGIS Server
Link WMS / WFS dalam ArcGIS Server

Untuk mengaksesnya, Lintasbumi menyarankan menggunakan QGIS karena secara bawaan fasilitas untuk menampilkan layer WMS dan WFS sudah tersedia. Lain halnya dengan ArcGIS terutama yang Desktop di mana harus menginstal lagi Data Interoperability agar fasilitas pembaca WMS dan WFS nya muncul. Khusus untuk akses ke Geosever disarankan pilih WMS versi 1.1.1 dan WFS versi 1.1.0.

Menu WMS / WFS di QGIS
Menu WMS / WFS di QGIS

Untuk membuka WMS, klik link WMS misalnya sebagai contoh di ArcGIS Server. Secara otomatis halaman akan berpindah ke alamat WMS dalam format xml. Yang harus dilakukan adalah menyalin alamat url nya saja, pada contoh di bawah URL selengkapnya  adalah; http://geoservices.bappenas.go.id/arcgis/services/Produksi/62_Daerah_Tertinggal_RPJMN_2020_2024/MapServer/WMSServer?request=GetCapabilities&service=WMS, terlihat bahwa GetCapabilities lah yang diminta.

URL untuk WMS
URL untuk WMS

Masukan alamat tersebut di menu add WMS/WMTS Layer QGIS, caranya klik New, ketik Name sesuai yang diinginkan, pada URL tempelkan (paste) alamat URL tadi. Klik OK, dan pada jendela selanjutnya klik Connect, pilih layer lalu klik Add jika sudah muncul klik Close.

Karena merupakan raster maka attribute table tidak bisa ditampilkan dan jika nama layer di klik kanan – export – save as, pilihan format juga untuk raster saja.

Lain halnya jika menggunakan WFS, di awal caranya sama saja, namun yang diklik tentu saja link WFS nya, lalu masukan URL nya di menu WFS QGIS, yaitu (misal)  http://geoservices.bappenas.go.id/arcgis/services/Produksi/62_Daerah_Tertinggal_RPJMN_2020_2024/MapServer/WFSServer?request=GetCapabilities&service=WFS. Sayangnya jika menggunakan WFS nya si ArcGIS Server ini, maka yang muncul hanya tabel nya saja.

Bagaimana dengan di Geoserver? Hal yang sangat berbeda ditunjukan oleh kemampuan Geoserver dalam hal WFS. Untuk WMS nya sih karakteristiknya sama saja dengan ArcGIS Server. Namun untuk permintaan WFS, setelah ditentukan layer yang akan ditampilkan, butuh beberapa saat untuk menampilkannya, namun kemudian yang muncul adalah vektor bukan hanya tabelnya, seperti pada perbandingan dua gambar berikut. Berikut ini adalah dari geoportal Provinsi Jambi, di mana alamat WMS nya adalah http://jambiprov.ina-sdi.or.id:8080/geoserver/ows?service=wms&version=1.1.1&request=GetCapabilities, sedangkan WFS nya adalah http://jambiprov.ina-sdi.or.id:8080/geoserver/ows?service=wfs&version=1.1.0&request=GetCapabilities.

Tampilan WMS dari Geoserver
Tampilan hasil WMS dari Geoserver
Tampilan WFS dari Geoserver
Tampilan hasil WFS dari Geoserver

Kemudian satu hal yang pasti, layer yang tampil dari WFS bisa di save as sebagai shapefile, artinya data tersebut bisa diunduh seutuhnya. Sebelumnya ketika kita memilih layer yang ingin ditampilkan dari menu WFS, di sebelah kiri tombol Close ada Build query yang memungkinkan kita menampilkan layer tersebut sesuai dengan yang diinginkan saja, misal sesuai database tertentu. Untuk unduh data spasial tersebut, caranya nama layer tinggal di klik kanan – export – save as, lalu pilih format shapefile dan tentukan lokasi penyimpanan serta nama shp yang diinginkan, selesai.

Kesimpulannya



Untuk mengunduh data spasial di ArcGIS Server (ArcGIS Rest Service) melalui QGIS, maka harus dari menu khusus yaitu Add ArcGIS REST Server Layer. Sedangkan untuk data spasial yang di Geoserver maka gunakan menu Add WFS Layer terlebih dahulu. Untuk alamat URL ArcGIS Rest Service yang bisa dimasukan teman-teman bisa googling atau baca postingan Lintasbumi sebelumnya. Satu hal yang juga penting, semua ini bergantung kualitas koneksi internet, pastikan koneksi internet teman-teman bagus dan cepat karena beberapa geoportal datanya berukuran besar, namun tak bisa dipungkiri terkadang koneksi internet di servernya pun jelek.

Baca Juga : Peta Gratis Dengan Mengunduh Fitur Dari ArcGIS Rest Service (Bagian 1)

Menu ArcGIS REST Service di QGIS
Menu ArcGIS REST Service di QGIS

 

URL Geoportal berbasis Geoserver di mana saja?

Sedangkan untuk URL portal Geoserver, terutama untuk data-data kementerian lembaga, provinsi, dan kabupaten / kota, teman-teman bisa googling juga atau kunjungi situs simojang.big.go.id. Di dalamnya terdapat siapa-siapa saja yang sudah terhubung geoportalnya, sebagian besar adalah berbasis Geoserver, namun beberapa berbasis ArcGIS Server seperti BNPB, Dirjen Tata Ruang, dan sebagainya.

Untuk yang geoportal yang berbasis Geoserver ini biasanya tanpa melalui QGIS pun di situsnya sudah tersedia fasilitas unduh data spasial. Contoh di bawah adalah situs geoportal Sumatera Selatan. Setelah data yang diinginkan muncul, jika tersedia icon download maka tinggal klik saja. Namun jika tidak coba klik icon i (info) — lihat gambar.

Contoh situs Geoportal
Contoh situs Geoportal (Prov Sumsel)

Baca juga : Kali Ini Lewat ArcGIS! Peta Gratis Dengan Mengunduh Fitur Dari ArcGIS Rest Service (Bagian 3)

Kemudian muncul halaman informasi, cari TRANSFER OPTION : ZIP SHAPE FILE. Copy URL nya ke address bar browser, eksekusi dan akan otomatis keluar jendela untuk menyimpan file. Nah, dari alamat itu pula teman-teman akan tahu alamat induk si Geoservenya yaitu (misal) http://geoportal.sumselprov.go.id/geoserver (alamat default biasanya ditambahkan nomor port standar 8080 menjadi http://geoportal.sumselprov.go.id:8080/geoserver).

Untuk mengeksplorasi dan bahkan mengeksploitasi datanya (alias unduh), kunjungi URL tersebut dengan browser, cari alamat WMS atau WFS nya, barulah diproses di QGIS seperti sudah dijelaskan di awal. Selamat mencoba.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *