Lahan Gambut Di Indonesia, Di Mana Yang Terluas ?

Penerbangan pesawat Ci****nk malam itu terasa mencekam. Walau pimpinan penerbangan sudah memberitahu bahwa beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di Bandar Udara Sultan Taha Kota Jambi, dan para penumpang diperintahkan untuk mengencangkan sabuk pengaman, namun raut muka para penumpang malah terlihat gelisah. Sesekali mereka saling berpandangan satu sama lain, beberapa yang lainnya terlihat termenung seperti melamun dengan raut muka khawatir. Tidak terlihat muka-muka gembira walaupun sedikit lagi pesawat akan mendarat.

Tak lama bau hangus kayu terbakar menyeruak di dalam kabin pesawat, pesawat terasa semakin menurunkan ketinggiannya tanda sebentar lagi akan mendarat. Semakin pesawat terasa turun bau hangus itu semakin terasa menyengat, beberapa penumpang mulai menggerak-gerakan hidungnya tanda merasakan bau tersebut tidak enak, raut muka beberapa penumpang terlihat makin gelisah, beberapa di antaranya mulai memakaikan masker di mukanya. Tak henti-hentinya hampir semua penumpang melihat ke luar jendela walaupun yang nampak adalah gelap gulitanya malam. Namun di antara kegelapan itu jika diperhatikan sekilas terlihat warna putih seperti asap.

Akhirnya pesawat mendarat dengan mulus, muka para penumpang pun kini terlihat lega dan gembira, namun bau hangus itu tidak berkurang dan malah semakin menyesakan dada. Hampir semua penumpang kini sudah memakai masker bahkan di terminal sekalipun. Di luar terminal, terlihat udara di bandara Sultan Taha Jambi malam itu tidak ‘clear‘, terlihat berkabut, namun sebetulnya itu adalah asap. Yap, sekitar Oktober 2019 itu beberapa kabupaten di Jambi sedang mengalami kebakaran hutan dan lahan yang parah, dampak asapnya sampai di Kota Jambi. Saking parahnya di berita-berita media saat itu sempat diberitakan matahari tidak pernah terlihat beberapa hari di Kota Jambi dan wilayah yang terbakar, sepanjang hari udara tertutup pekatnya asap kebakaran, malahan langit pernah terlihat berwarna merah bukan biru lagi. Dampaknya penyakit pernafasan telah menjangkiti sebagian penduduk Kota Jambi atau bahkan Provinsi Jambi, untuk menghindarinya beberapa orahg bahkan ada yang mengungsi ke Jawa atau daerah lain yang bebas asap.

Akhirnya setelah mengambil bagasi di terminal kedatangan, saya dan teman dari Bogor segera menemui penjemput. Raut muka penjemput pun terlihat ceria melihat kami, namun mereka mengatakan sempat khawatir pesawat tidak jadi mendarat di Jambi, karena sebelumnya beberapa maskapai tidak berani mendarat di Jambi, mereka menurunkan penumpangnya bahkan di Palembang, pilot mereka tidak mau mengambil resiko. Cuma pilot-pilot pesawat Ci****nk lah yang saat itu berani mendarat di Jambi di tengah pekatnya asap. Pantas saja kami dipesankan pesawat dari maskapai yang itu. Kami pun beruntung karena selama beberapa hari kami di sana turun hujan dengan lebatnya dan itu sedikit mengurangi kepekatan asap di Kota Jambi, udara pun terasa lebih fresh.



Kebakaran di lahan gambut

Provinsi Jambi adalah salah satu wilayah di Indonesia yang mempunyai potensi tinggi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, salah satu penyebabnya adalah jenis tanahnya yang sebagian besar merupakan lahan Gambut. Gambut ini menurut pemahaman saya ketika kuliah pengelolaan sumber daya lahan, sebetulnya bisa dikatakan bukanlah tanah, namun masih calon tanah. Gambut ini merupakan timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk, yang umurnya biasanya ribuan tahun. Gambut ini karakteristiknya merupakan lahan basah (wetland), dia idelnya harus selalu basah. Dia katanya mengandung karbon dua kali lebih banyak daripada tanah mineral (tanah biasa). Makanya jangan sampai dia kering, karena jika kering maka si karbon tersebut akan terlepas ke udara dan menyebabkan emisi gas rumah kaca. Gambut dibedakan juga dari kedalamannya ada yang dangkal, sedang, dan dalam (biasanya kedalaman lapisannya lebih dari 3 meter).

Karena kandungan materi organiknya itulah maka ketika si Gambut kering, di tambah udara di atasnya kering (misal karena musim kemarau panjang) yang menyebabkan suhu permukaan naik maka lahan Gambut rentan terbakar. Saya pernah mendengar dari petugas BPBD di Muaro Jambi, katanya gesekan daun kering saja bisa menyebabkan kebakaran di lahan Gambut yang kering tadi. Makanya salah satu metode untuk merestorasi lahan Gambut ini adalah rewetting atau pembasahan kembali, entah itu melalui kanalisasi dan lainnya. Karena sekalinya lahan Gambut terbakar, untuk memadamkannya perlu waktu lama, dikarenakan yang terbakar sampai ke lapisan dalam. Asap yang keluar di satu lokasi yang terbakar tidak selalu mencerminkan lokasi pasti bahan organik yang terbakar.

Bekas kebakaran lahan gambut di Kabupaten Muaro Jambi
Bekas kebakaran lahan gambut di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2015, diambil tahun 2017

Statistik Spasial Lahan Gambut Indonesia

Berteori Gambut nya disudahi dulu, karena maksud postingan ini adalah untuk bercerita spasialnya dari si Gambut ini saja. Jadi menurut yang lintasbumi baca, negara Indonesia ini dianugerahi Tuhan lahan gambut yang sangat luas sekitar 14,9 juta hektar (Wetland Internasional bahkan mengatakan sekitar 20,5 juta hektar) dan merupakan terluas ke 4 di dunia setelah Rusia, Kanada, dan Amerika Serikat.

Di mana saja keberadaan di Gambut di Indonesia? Berdasarkan data shapefile (peta online) dari Global Forest Watch yang bisa dilihat di sini (aktifkan layer Indonesia Peat Lands nya), di negara ini Gambut terletak di 3 pulau besar saja yaitu Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Setelah datanya didownload dengan cara ini atau yang ini (ArcGIS Pro) dan ditumpang susunkan dengan data administrasi BPS tahun 2016, hasil perhitungan dengan proyeksi World Cylindrical Equal Area (WCEA) menunjukan luas totalnya adalah 14.980.411,75 Hektar. Di Pulau Sumatera (termasuk Bangka dan Kepri) terdapat seluas 6.399.939,69 Hektar, Kalimantan 4.923.254,72 Hektar, dan Papua 3.657.217,34 Hektar. So, yang terluas terdapat di Sumatera ya, lalu kenapa yang di Sumatera dan Kalimantan si Gambutnya sering terbakar sementara yang di Papua jarang terdengar terbakar ?

Baca juga : Di Mana Kabupaten / Kota Dengan (Prosentase) Kawasan Hutan Terluas di Indonesia?



Provinsi dengan gambut terluas
Gambut di Provinsi Riau
Gambut di Provinsi Riau (warna kuning)

Untuk skala provinsi, lahan Gambut terluas terdapat di Riau seluas 3.863.759,76 Hektar, disusul Kalimantan Tengah, Papua, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Papua Barat. Keenam provinsi itu mempunyai luas lahan gambut lebih dari 1 juta hektar. Adapun yang paling sedikit terdapat di Bengkulu (8.030,11 Hektar). Terdapat 17 provinsi yang berlahan Gambut seperti bisa dilihat pada gambar berikut.

Kabupaten / kota dengan gambut terluas

Adapun untuk skala kabupaten, hasil utak-atik lintasbumi menunjukan setidaknya ada 133 kabupaten / kota yang berlahan Gambut. Di mana yang terluas ternyata terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau yaitu seluas 892.034,76 Hektar, di urutan 5 besar setelah itu berturut turut adalah Pelalawan (Riau), Ogan Komering Ilir (Sumsel), Pulang Pisau (Kalteng), dan Memberamo Raya (Papu). Sedangkan yang terkecil terdapat di Kabupaten Gunung Mas (Kalteng) seluas 54,79 Hektar.

Namun demikian jika dilihat dari proporsi luas lahan Gambut terhadap luas wilayah administrasinya, maka yang terbesar terdapat di Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau yaitu 91,21% dari luas wilayahnya, dalam urutan 5 besar disusul Kota Dumai (Riau) 71,81%, Pulang Pisau (Kalteng) 67,47%, Indragiri Hilir (Riau) 66,4%, dan Bengkalis (Riau) 62,63%. Terdapat 8 kabupaten / kota yang proporsi lahan gambutnya lebih dari 50% luas wilayah administrasinya.

Nah sekarang teman-teman sudah tahu sedikit gambaran bagaimana sebaran lahan gambut di Indonesia walaupun mungkin masih kurang lengkap. Untuk info yang lebih lengkap tinggal kunjungi situs yang mengkhususkan pada isu Gambut, sudah banyak koq situs-situs yang menyajikan datanya secara lebih komprehensif seperti di pantaugambut.id, brg.go.id (Badan Restorasi Gambut), wetland.or.id, dan lain-lain. Mari jaga ekosistem Gambut di Indonesia.

 

Perhatian :

Postingan ini hanya sekedar ingin memberikan gambaran umum dan pengetahuan kepada netter. Angka-angka luas dan prosentase yang muncul di postingan ini hanyalah hasil ‘utak-atik’ tidak resmi yang dilakukan secara SIG dengan data seadanya, sehingga bukan data official dan memang bukan ditujukan untuk hal itu. Untuk data official silahkan kunjungi atau kutip dari situs lembaga yang berwenang di bidangnya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *