Pertanda Remote Sensing Tradisional Akan Lenyap Ternyata Sudah Muncul Sejak 10 Tahun Lalu : GEE

Lahirnya citra satelit dan teknologi remote sensing saja sudah merupakan satu lompatan besar dalam cara mengcapture muka bumi. Dengan teknologi itu memeperoleh data permukaan bumi untuk dipetakan bisa dilakukan dengan cepat dan luas. Tapi yang namanya teknologi pasti akan selalu berkembang, sesuatu yang dianggap wah besok lusa bisa jadi akan jadi basi.

Well, terus terang secara pribadi lintasbumi kurang suka dengan penginderaan jauh alias remote sensing, bukannya tidak tertarik sama sekali sih. Yang kurang tertarik itu memperdalam teknik-teknik remote sensing yang lebih rumitnya. Lintasbumi memang kurang suka dengan yang rumit-rumit, sukanya yang simpel aja dan yang penting menghasilkan profit he he…

Lintasbumi lebih menikmati sebagai user dan penikmat hasilnya saja, soalnya kalau melihat citra atau hasil olahan remote sensing yang dikerjakan oleh ‘jagonya’ terlihat lebih mantap. Walaupun kalau sekedar ‘oprak-oprek’ bikin komposit band sama mosaik-mosaik citra sih lintasbumi masih bisa lah entah itu di Er Mapper atau ENVI. Kalau ada kerjaan yang lebih rumit (apalagi yang namanya dunia programming rada-rada alergi hi hi hi), ya tinggal panggil ‘pembunuh bayaran citra’ alias yang lebih jago remote sensingnya, kalau perlu mbah nya sekalian yang dipanggil.

Ngomong-ngomong perkembangan metode-metode di remote sensing saat ini, wuih biking ‘ngeri’! Lintasbumi suka membaca dan melihat di forum-forum SIG-Inderaja entah itu di medsos, jurnal ilmiah, berita, dan sebagainya sekarang dunia remote sensing sudah serba canggih, ‘njlimet’, serba online, dan berbau-bau programming. Lintasbumi rasanya sudah tertinggal jauh banget, yang dikuasai masih aja metode klasik yang itu-itu aja seperti komposit citra, filtering, klasifikasi, NDVI, dan teman-teman jadulnya. Sementara saat ini istilah-istilah yang asing di telinga lintasbumi semisal yang namanya Deep Learning, Spectral–Temporal Analysis by Response Surface (STARS), dan lainnya seliweran setiap saat.



Remote Sensing Tradisional VS Online : Google Earth

Selain banyak metode yang berkembang, semuanya sekarang serba online. Ya, memang itulah kenyataannya, tuntutan sebuah kemajuan teknologi, suatu keniscayaan di mana akan selalu berkembang pesat mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan. Dulu peta hanya milik kalangan tertentu, membuka peta harus memakai software SIG (atau CAD) namun kemudian berkembang internet, munculah web-GIS dan lahirlah ke hadapan kita Google Map, Openstreet Map, dan lain-lain. Peta saat ini bisa diakses oleh siapa saja dengan gawai dan menjadi kebutuhan sehari-hari.

Lalu citra satelit juga begitu, dulu merupakan data ekslusif, mahal, dan sulit pula mendapatkanya. Software pengolahnya pun demikin, masih sedikit dan mahal semacam Er Mapper, ENVI, PCI Geomatica, dan sejenisnya. Dalam perjalanan lahir internet, mulailah data landsat digratiskan bisa diunduh bebas (menyusul kemudian yang lainnya juga seperti Sentinel), kemudian lahir CSRT (Citra Satelit Resolusi Tinggi) — teknis klasifikasi citra menjadi ‘abu-abu’ antara dibutuhkan lagi atau tidak karena semuanya kelihatan dengan jelas di CSRT.

Tidak lama muncul Google Earth (GE), di mana dengan aplikasi ini semua citra (Landsat dan beberapa CSRT lainnya) sudah tersedia online, bahkan bisa dilihat time series secara cepat dan online, kapan saja. Kelebihan lainnya GE adalah bisa dioverlay dengan data spasial pengguna dalam format KML atau KMZ, serta banyak lagi fungsi-fungsi lainnya. GE pertama-pertama muncul terasa seperti sebuah ‘mainan’, sebuah globe biasa rasa dijital, namun dalam perkembangannya Google terus melengkapi datanya dan akhirnya menjadi informasi penting dan dibutuhkan misalnya untuk basis data pemantauan kerusakan lingkungan bagi ilmuwan dan pemerhati lingkungan misalnya dalam konteks riset perubahan iklim dan dampaknya secara cepat, online, dan global. Fungsionalitas dan kemudahan GE itu merupakan sesuatu yang kurang mampu dilakukan oleh software remote sensing ‘tradisional’.

Google Earth dengan time slider
Google Earth Engine, Era Big Data Remote Sensing Sudah Dimulai!

Dalam perkembangan selanjutnya Google sepertinya sudah bisa membaca bahwa saat ini banyak kalangan yang menginginkan mereka tidak hanya sekedar melihat citra yang sudah ditentukan saja di GE, namun lebih dari itu ingin bisa ‘mengoprek’ citra-citra tersebut dari perspektif yang lain sesuai kebutuhan mereka. Simpelnya mereka ingin bisa mengimplementasikan apa yang biasa dilakukan di software remote sensing tradisional ke dalam konteks online dengan data-data yang ada di GE.

Hal itu sudah menjadi suatu tuntutan yang tidak bisa dielakan lagi di era Big Data saat ini. Big data tidak hanya berarti data yang berukuran besar (ukuran data-data citra satelit memang masuk tipe ini), lebih dari itu adalah bagaimana memanfaatkan data besar tersebut untuk hal-hal yang strategis secara cepat dan tepat, dalam pengambilan keputusan. Hal itu berarti bahwa yang harus besar juga adalah usaha untuk memanfaatkan atau mengoptimalkan datanya semaksimal mungkin, inilah yang belum banyak disadari.

Kelahiran Google Earth Engine (GEE) lah yang kemudian menandai era BIG data remote sensing. Sedikit ke belakang, ternyata si GEE ini bukanlah sesuatu yang baru, hal itu bisa dilihat dari berita di situs kompas.com edisi tahun 2011. Artinya sudah sejak 10 tahun lalu inisiatif GEE tersebut lahir dan diimplementasikan. Namun sepertinya di Indonesia si GEE ini baru ngetren 2 atau 3 tahunan belakang ini, karena yang jelas di berbagai medsos yang lintasbumi ikuti baru sekarang-sekarang ini banyak publikasi ataupun tawaran-tawaran pelatihan baik basic ataupun middle – advance untuk implementasi si GEE ini.

Berita tentang Google Earth Engine tahun 2011

Menurut si empunya GEE yaitu Google, si Google Earth Engine ini adalah sebuah media penyedia citra satelit, media penyimpanan citra satelit (Landsat dan Sentinel-2) dalam arsip data publik yang mencakup citra bumi secara historis (time series) yang berusia lebih dari empat puluh tahun, sekalian dengan alat dan kekuatan komputasi di dalamnya yang diperlukan untuk menganalisis dan menambang data yang besar tersebut (tepatnya spatial data mining). Sebetulnya kini jenis data citranya banyak betul, tidak hanya Landsat atau Sentinel saja, ada puluhan atau bahkan ratusan jenis seperti bisa dilihat di https://developers.google.com/earth-engine/datasets/catalog.

Lebih hebatnya lagi GEE bisa diakses gratis oleh siapa saja. Dulu data-data itu hanya bisa dilihat saja lewat Google Earth, nah dengan GEE ini silahkan siapa saja bisa mengopreknya secara online asal mau bersusah payah menguasai pemrograman python atau javascript. Baek banget yah si Google ini. Praktisi remote sensing atau siapapun yang tertarik dengan GEE mau tidak mau harus melengkapi kemampuan metode remote sensing dengan penguasaan teknik data mining dan metode-metode dijital lainnya seperti programming.

Apa gunanya si GEE ini buat pengguna biasa?

Seperti bisa dibaca sekilas di screenshot berita di atas, sebetulnya GEE diprioritaskan untuk ilmuwan atau peneliti kebumian yang memang keinginan tahuannya tinggi atau sedang meneliti permasalahan kebumian, atau para aktifis lingkungan atau kaum peduli lingkungan yang kerjaannya nyari-nyari di mana ada kerusakan lingkungan yang bisa dijadiin basis data untuk mengadvokasi isu tersebut ke publik, atau mahasiswa yang tertarik melakukan penelitian menggunakan data citra satelit. Namun tentunya GEE ini ya buat siapa saja yang memang memerlukan informasi yang sumbernya dari citra satelit, mau itu untuk tujuan yang serius, hobby, atau sekedar ingin tahu saja seperti lintasbumi.



GEE ini pastinya memudahkan banget, karena pengguna dengan mudah bisa mengimplementasikan teknik-teknik remote sensing secara online dengan data citra yang begitu banyak, yang pastinya akan lama jika dilakukan oleh software semacam Er Mapper, ENVI, PCI Geomatica, dan lain-lain. Artinya bekerja menjadi lebih efisien dari sisi waktu dan sumber daya. Kelemahannya adalah pengguna terutama yang awam perlu waktu untuk mempelajari bagaimana coding nya serta bergantung kualitas koneksi internet.

Apa-apa saja yang bisa ‘ditambang’ di GEE silahkan teman-teman bisa googling, karena lintasbumi lihat tutorialnya pun di Youtube sudah banyak.

Implikasi Terhadap Software Remote Sensing Tradisional

GEE ini menurut pandangan lintasbumi lebih kepada pengayaan pemanfaatan data. Bagaimanapun canggihnya GEE, aplikasi atau program desktop untuk remote sensing tetap dibutuhkan, paling tidak untuk beberapa tahun ke depan. Ini dikarenakan aplikasi berbasis GUI yang friendly seperti tinggal mengklak-klik menu yang ada di software desktop masih lebih diminati ketimbang bersusah payah membuat coding pemrograman. Di samping itu tidak selalu pengguna inderaja bekerja secara online, serta ketergantungan koneksi internet ataupun koneksi internet yang rendah berpotensi mengganggu kinerja online.

Di samping itu software inderaja versi desktop pun bisa jadi ke depan atau bahkan sudah, akan melengkapi dirinya dengan fungsi-fungsi programming GEE ini dan platform komputasi awan lainnya. Sehingga untuk bisa mengolah GEE dan yang sejenis bisa juga dengan software tersebut tanpa harus melalui browser. Seperti yang sudah dilakukan QGIS, di mana kini sudah tersedia plugin GEE di dalamnya yang berbasis Python. Intinya antara aplikasi inderaja cloud dan desktop akan saling melengkapi.

Plugin GEE dalam QGIS 3.18

 

Hasil Test GEE di QGIS
Test GEE Plugin di QGIS

Kebayang nggak ya, sebesar apa hardisk di GEE ini?! Lha wong lintasbumi menyimpan unduhan landsat cuma ‘beberapa’ biji aja sudah bisa makan hardisk 2 Giga Byte sendiri. Ini koleksi citra seluruh dunia dari 40 tahun yang lalu sampai yang terbaru, landsat + sentinel (dan mungkin yang lain) pula, ukurannya pun sudah Petabyte. Jadi manfaat selanjutnya dari si GEE ini adalah bisa mengurangi beban hardisk dan laptop si penggunanya. Harus diakui ukuran data besar dari citra satelit masih menjadi kendala dalam remote sensing tradisional. Welcome era big data!

Seperti di bawah ini nih contoh hasil running GEE. Membuat video animasi (time elapse) Citra Landsat dari Suaka Margasatwa Cikepuh (Kabupaten Sukabumi) dan sekitarnya, dari tahun 1984 sampai 2021 dalam natural color composite, yaitu dari sejak Landsat 5, 7 ETM+, sampai 8. Bisa dibayangkan lah kalau itu dibuat secara manual, ada 251 data citra yang harus dikumpulkan dan diseleksi, berapa giga byte hardisk yang dibutuhkan, dan berapa lama kuota data yang dibutuhkan untuk download citranya?, belum lagi processing data yang dibutuhkan dari mulai software remote sensing dan video editornya, hanya untuk membuat video berdurasi 24 detik saja.

Lintasbumi sendiri mengoprek dan mengadaptasi coding GEE ini dari situs http://www.acgeospatial.co.uk/time-series-on-landsat-data-gee/ (Thanks). Selamat ber GEE !



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *