Akhir Cerita Kuliah Di Magister Ilmu Perencanaan Wilayah (PWL) IPB (Bagian 4)

Akhirnya saya dipaksa lulus…., padahal masih betah jadi mahasiswa (lagi) he he he. Kuliah memang ada batasan waktunya, mau tidak mau harus menentukan pilihan di dekat garis finish, mau DO atau lulus? Ya jelas mau lulus lah. Selepas kuliah semester 3, mulai semester 4  setelah kolokium saya bisa dikatakan full time ngurus kerjaan lagi. Tahu-tahu sudah semester 7 dan penelitian harus segera dibereskan, pihak prodi dan dosen pembimbing terus mengingatkan, padahal modal saya untuk ke lapangan masih ‘cekak’, semester 8 harus lulus. Mau tidak mau akhirnya cari pinjaman modal sana-sini dan Alhamdiulillah selesai juga tesis dan lulus ujian oral di Februari 2020, hampir mendekati garis finish.

 

Mata Kuliah Inti

Semester 3 mulai masuk ke mata kuliah Studio Perencanaan Wilayah. Mata kuliah ini mengajarkan teori, teknik, beserta praktek menganalisis potensi, permasalahan, dan kemudian membuat skenario perencanaan suatu wilayah. Hasil analisis tersebut akan menjadi basis informasi yang harus dipikirkan solusi dan perencanannya. Dosen pengajar banyak sekitar 5 atau 6 orang yang sifatnya multidisiplin.

Tugas pada mata kuliah ini dilakukan secara kelompok (berdua) yaitu membuat skenario perencanaan di suatu wilayah. Wilayah yang dijadikan obyek bebas sesuai ketersediaan data spasial dan statistiknya, metode yang akan dipakai pun bisa memilih dari yang sudah diajarkan di semester 1 dan 2, serta paralel dengan metode-metode yang diajarkan pada mata kuliah itu sendiri. Satu hal yang pasti, pakem yang dipakai oleh PWL IPB adalah berbasis komoditas unggulan dan analisis biofisik (mungkin sekarang sudah berubah). Jadi kalau ada yang menggunakan pendekatan tambahan aspek sosiologis bahkan politis itu akan menjadi nilai plus.

Tugas tersebut dikerjakan sepanjang semester 3, jadi cukup lama tapi lumayan repot karena sudah mirip dengan tesis. Di akhir semester 3 setiap kelompok akan mempresentasikan hasil analisis perencanaannya dan “diuji” oleh kelompok lainnya dalam forum diskusi kelas, semua kelompok mendapat nilai AB dan A. Proses ini mirip dengan proyek-proyek yang  biasa saya kerjakan, jadi paslah saya belajar di sini.

Di semester 3 ini  mahasiswa juga menentukan (atau ditentukan?) dosen yang akan menjadi pembimbing tesis nya. Biasanya sih keputusan akhir ditentukan oleh prodi berdasarkan topik penelitian yang sudah diusulkan dan juga berdasarkan alokasi kuota bimbingan dosen tersebut. Usulan penelitian bisa dari yang dipresentasikan di MK proposal penelitian atau betul-betul baru. Idealnya kemudian mahasiswa sudah melakukan kolokium atau seminar usulan penelitian di semeseter 3, terutama bagi yang ingin lulus segera, namun saya sendiri melakukannya di awal semester 4.

Di semester ke 4 sudah tidak ada kuliah tatap muka dan mulailah ke dunia penelitiannya masing-masing, mengurus surat izin permintaan data ke berbagai sumber / wali data baik dari prodi maupun dari pasca IPB. Dalam melakukan penelitian pastinya mahasiswa mencari data baik primer atau sekunder ke instansi/wali data. Hal menarik adalah surat izin permintaan data dari departemen (DITSL) hanya di tandatangan ketua departemen tanpa dibubuhi stempel. Sehingga ketika di bawa ke sumber/wali data/instansi menjadi kurang meyakinkan. Namun kelebihan pada surat itu ada penjelasan rinci kebutuhan datanya. Untuk itu dibuat juga surat dari pihak Pascasarjana IPB, nah kalau ini dibubuhi stempel IPB dan ditandatangan Dekan Pascasarjana, namun sayang isinya bersifat umum tidak spesifik menyatakan data-data apa saja yang dibutuhkan, tujuan surat juga ditulis semua (tidak spesifik) sehingga cukup dilingkari saja mana yang dituju (bisa diperbanyak sendiri). Buat surat penelitian jadinya dobel, birokratis juga kalau difikir.



 

Masa-Masa ‘Kosong’

Mulai semester 4 tidak ada kuliah lagi, cuma kolokium (bagi yang belum seperti saya, itu pun cuma sekali dan hanya 1 jam), praktis saya sudah jarang bertemu lagi dengan teman-teman kuliah. Semua sudah jalan sendiri-sendiri dan fokus ke penelitiannya masing-masing.  Ada yang survey ke kampung halaman (sekalian libur dan memang wilayah tesis nya di sana), ada yang fokus di kos nulis tesis, ada yang sibuk cari data ke kementerian / lembaga, namun saya sendiri malah tidak melakukan itu semua. Bahkan pengesahan proposal penelitian pun baru saya lakukan semester 5, atau 6 bulan setelah saya melakukan kolokium (jangan dicontoh ya ha ha ha!).

Di semester 5 (pertengahan) sudah ada teman kuliah yang berhasil menembus tahap seminar hasil penelitian, yang diselenggarakan di gedung seminar Pascasarjana IPB, tidak di ruangan prodi lagi. Seminar tersebut adalah mata kuliah yang tatap mukanya hadiri oleh mahasiswa dari prodi fakultas lain (kalau kolokium kebanyakan hanya dihadiri mahasiswa prodi satu fakultas atau bahkan satu departemen saja). Syarat jadi pemakalah seminar ini adalah penelitiannya sudah disetujui pembimbing dan layak untuk diseminarkan, telah menghadiri minimal 5 kali seminar kelompok keilmuan sendiri dan 2 kali di kelompok keilmuan lain. Plus harus sudah menghadiri seminar umum IPB (wajib!) yang dibuktikan dengan tandatangan moderator di kartu kuning seminar.

Saya sendiri melakukannya di awal semester 8 (menjelang garis finish DO). Menurut saya, beban moral seminar hasil lebih berat dibanding ujian akhir / sidang tesis. Seminar hasil adalah ujian oral yang sesungguhnya, karena pada seminar hasil hadirin bisa siapa saja, latar belakang keilmuan apa saja, pertanyaan bisa apa saja! Seminar hasil menunjukan bahwa penelitian kita diakui oleh orang-orang di luar keilmuan sendiri. Moderator pada seminar ditentukan H-1 oleh pihak pasca IPB dan berasal dari luar keilmuan si pemakalah. Performa si pemakalah adalah faktor yang menentukan. Jika dalam 50 menit tidak meyakinkan baik ketika presentasi atau menjawab pertanyaan, moderator bisa membantu atau malah ‘menjatuhkan’.

Hasil seminar terkadang bisa merubah isi penelitian (dirombak/modifikasi), bahkan mungkin diganti. Namun jika si pemakalah bagus performance nya, lancar-lancar saja, isi makalahnya meyakinkan dan semua pertanyaan bisa ‘dilibas’ dengan mantap, perbaikan biasanya lebih ke yang sifatnya redaksional/tulisan. Saran untuk merubah/mengganti isi atau topik penelitian pernah terjadi di beberapa seminar yang saya hadiri, namun bisa jadi itu hanya lip service di seminar saja kecuali memang parah. Soalnya masih ada pembimbing koq yang bisa membela kita, untuk itu baik-baiklah dengan pembimbing selama pembuatan tesis, jangan pernah bermasalah, ikuti saja apa yang disarankan pembimbing agar beliau-beliau menjadi juru selamat ketika seminar dan bahkan sidang. Kehadiran teman-teman seangkatan dalam seminar juga penting karena akan mengangkat moral dan bisa membantu dengan mengajukan pertanyaan yang memudahkan.

Setelah lolos dari seminar hasil tanpa perbaikan yang banyak, maka ke tahap sidang atau ujian akhir tidak terlalu lama. Beberapa teman saya melakukan sidang akhir seminggu setelah seminar hasil, jadi di semester 5 ini sudah 4 orang yang lulus dan menjadi bergelar MSi duluan. Di semester 6 lulus bertambah 3 orang, di semester 7 ada 1 orang. Sampai semester 7 yang lulus di angkatan PWL saya sudah 4 + 3 + 1 = 8 orang.



 

Tugas Akhir

Selama 1 tahun sejak saya kolokium (awal semester 4) sampai awal semester 6, saya tidak pernah “menyentuh” penelitian tesis sama sekali, ada rasa malas yang luar biasa, saya lebih “menenggelamkan diri” pada tuntutan pekerjaan dan proyek-proyek. Itu adalah pilihan yang sulit, mengkombinasikan bekerja dengan kuliah yang didasari modal dengkul he he he… (alias mengutamakan dapur ngebul).

Baru di awal semester 6 lah saya menggarap penelitian saya lagi, karena di awal tahun belum banyak kegiatan proyek, waktu luang banyak jadi selama 3 bulan di awal 2019 (Maret – Mei) saya baru survey data primer di kampung halaman saya di Kabupaten Kuningan karena penelitian saya tentang hutan rakyat di sana. Setelah itu di bulan ramadhan 2019 (Mei – Juni) saya memulai menulis, mengolah dan menganalisis data penelitian saya, di akhir semester 6 (kalau tidak salah bulan Juli 2019). Alhamdulillah draft tesis saya sudah berbentuk dan bisa dijadikan bahan bimbingan ke komisi pembimbing di Juli 2019 dan tak dinyana hanya 2 kali konsultasi, pembimbing sudah menyuruh untuk sidang komisi 2 di bulan Agustus dan itu pun Alhamdulillah diputuskan lanjut ke seminar hasil.

Lagi-lagi godaan kembali datang di semester 7, ketika sedang asyik-asyiknya mempersiapkan makalah seminar hasil, mulai September 2019 sudah harus dihadapkan kembali dengan tugas-tugas negara alias proyek. Seperti biasa saya kalah lagi, lebih memilih pekerjaan daripada tesis, dan tentu saja konsekuensinya (seminar) tesis kembali terlupakan. Untungnya para pembimbing saya faham betul dengan hal itu, secara mereka juga orang proyek, he he he. Maka gagal-lah target saya untuk seminar hasil dan lulus di semester 7 karena sampai Desember 2019 waktu saya betul-betul banyak tersita untuk pekerjaan, draft makalah seminar hanya jadi kenang-kenangan saja di tahun 2019.

Finally the last semester! di minggu pertama 2020 saya betul-betul mencambuk diri karena sudah deadline untuk lulus (pan kudu lulus di semester 8) dan Januari 2020 adalah awal semester 8!! Draft makalah seminar digarap dan dikonsultasikan ke semua pembimbing, dan lagi-lagi langsung disuruh seminar hasil di tanggal 20 Januari akhirnya ngebutlah saya memfinalisasi draft makalah seminar. Tak lupa membuat serta mengirim jurnal ke peringkat sinta 3 saja (JP2WD). Sebetulnya grammar pada abstak makalah seminar masih acak-acakan tapi akhirnya saya gunakan bantuan situs check grammar saja.

Yang bikin lebih capek adalah ngurus birokrasi seminarnya, walaupun didaftarkan secara online namun secara fisik tetap harus bolak-balik prodi-pasca. Betul-betul menguras tenaga dan waktu, mencari tandatangan beberapa orang dan seterusnya kadang bikin bete, karena yang dikejar kadang sedang tidak ada di tempat jadi terpaksa nunggu. Anyway saya mengucapkan banyak terima kasih juga kepada bagian administrasi PWL yang sangat banyak membantu dan mempermudah saya. Saya sengaja tidak mengumumkan seminar saya di WAG PWL, itu adalah strategi agar yang hadir rekan-rekan dari prodi lain saja. Harapannya pertanyaan mereka akan bersifat umum saja. .

Mental harus tenang dan saya anggap seminar adalah diskusi laporan proyek yang biasa saya lakukan. Alhamdulillah seminar hasil tanggal 20 Januari di gedung 302 pasca IPB lancar jaya, semua sesuai skenario, hadirin 99% dari luar PWL, pertanyaan juga yang umum-umum saja dan bisa saya jawab dengan lancar, dan yang penting adalah tidak ada perubahan konten penelitian. Sayangnya karena saya merupakan “gerbong” terakhir di angkatan, hanya satu orang teman sengkatan PWL yang hadir di seminar hasil saya, itupun tanpa direncanakan. Alhamdulillah moderator dan pembimbing memberikan nilai tertinggi di seminar hasil. Terima kasih kepada moderator, ketua komisi pembimbing dan juga rekan-rekan hadirin seminar saya terutama yang bertanya.

Plong rasanya sudah seminar hasil, setengah beban kuliah saya langsung lepas! Hasil konsultasi selanjutnya diputuskan saya harus melakukan sidang komisi (sidkom) 2 di tanggal 29 Januari. Hasil sidkom 2 memutuskan tanggal 19 Februari saya harus ujian akhir alias sidang. Selain meng-update isi tesis sesuai saran sidkom 2, lagi-lagi harus ngurus birokrasi sidang kali ini tidak ada pendaftaran online. So bolak-balik prodi-yang pasca betul-betul menguras tenaga dan waktu lagi, cari tandatangan beberapa orang termasuk penguji luar, terkadang bikin bete juga karena yang dikejar kadang sedang tidak ada di tempat jadi terpaksa nunggu. Karena perbaikan yang saya lakukan telat, saya mengurus birokrasi sidang itu hanya 1 minggu sebelum sidang, untungnya bisa (pas sesuai aturan H-7)

De Javu, penguji luar yang disepakati para pembimbing di sidkom 2 adalah “teman” ketika proyek di tahun 2014, ketua dan anggota komisi pembimbing pun memang terlibat di proyek itu. Jadi ketika tanggal 19 Februari bersidang nanti bisa dikatakan akan menjadi reuni proyek he he he. So jadinya beban mental sebelum sidang tidak seberat ketika saya mau seminar.

 

Akhirnya Master !

Siang tanggal 19 Februari jam 11.30 saya ditemani istri berangkat ke kampus. Sidang dimulai jam 13.00, presentasi saya di sidang ternyata sedikit grogi, padahal hanya di hadapan 4 orang saja. Jatah 20 menit presentasi malah jadi 25 menit (sampai diingatkan moderator). Setelah itu moderator mempersilahkan penguji untuk bertanya dan semua pertanyaan penguji luar saya jawab saja dengan pede, walaupun ada juga (banyak malah) yang meragukan jawabannya. Separuh ilmu pengetahuan saya ketika sidang kayak terasa menghilang sejenak. Saya fikir itu merupakan efek nervous tadi. Anyway saya saat itu berprinsip nervous adalah sesuatu yang alami, tidak perlu ditolak dan biarkan saja mengalir, jadi nikmati saja dan lama-lama juga akan cair. Ingat penguji, pembimbing, dan moderator adalah manusia biasa juga, mereka tahu dan faham dengan kondisi orang bersidang, mereka pernah mengalami hal yang sama karena mereka pernah menjadi mahasiswa magister dan doktor.

Ada satu modal saya, ini pernah saya dapat dari seorang guru besar IPB jauh sebelum saya penelitian. Beliau mengatakan kepada saya bahwa jika penelitian diibaratkan senjata maka sidang itu adalah forum yang akan memutuskan senjata itu termasuk tipa apa. Proses yang dilakukan selama penelitian adalah diibartkan sebagai proses pembuatan senjatanya. Hasil sidang akan mengesahkan apakah senjata itu akan menjadi senjata biasa atau senjata pusaka. Jadi apapun nanti hasil sidang, senjata tetaplah senjata, kecuali memang rusak dari awal (misalnya dipaksa sidang atau sidang hanya dengan modal seadanya). Kalau cocok jadi senjata pusaka maka akan mendapat nilai A atau sangat memuaskan, pun sebaliknya jika cocoknya jadi senjata biasa maka nilanya di bawah itu, namun tetaplah lulus.

Masih kata sang profesor, menjadi senjata pusaka atau tidaknya tidak hanya dilihat dari sidang saja, tapi akan berdasarkan juga penilaian proses pembuatannya. Apakah selama pembimbingan baik-baik saja; bagaimana isi tesisnya (sistematika, kedalaman, dan bahasanya, dan seterusnya), dan yang penting femahaman kita akan tesis kita sendiri (ini pembimbing yang menilai). Ingat, tidak ada penelitian yang sempurna, selalu saja ada kekurangan! tergantung dari sudut pandang siapa.Jadi Nervous dan tidak bisa menjawab semua pertanyaan ketika sidang itu adalah hal yang wajar dan hanya 50% dari penilaian saja, 50% lainnya akan tergantung isi tesis dan hal yang terkait. Satu hal lain yang sangat penting bagi saya adalah berdoa dan meminta ridha orang tua, itu juga menentukan.

Terbukti jam 15.00 saya diputuskan memperoleh nilai sangat memuaskan di ujian akhir itu. Padahal saya grogi dan hanya bisa menjawab sekitar 50 – 60% dari pertanyaan, namun ketika melihat form penilaian oleh penguji, pembimbing, dan moderator ternyata tidak demikian. Ya itu tadi mereka juga menilai dengan melihat jerih payah kita selama proses pembuatan tesis. Yang melegakan semua pembimbing hanya menanyakan hal yang tidak terlalu substantif, lebih ke pemahaman dan mereka sudah memberikan nilai sebelum bertanya, dan itu membuat saya tenang. Moderator pun tidak bertanya hanya memberi saran saja.

Last, materi-materi dan metode-metode kuliah PWL yang sifatnya digital (memakai software beserta datanya) sampai saat ini masih saya simpan karena ternyata terbukti digunakan di dunia kerja saya, PWL IPB memang top dah.

Alhamdulillah saya lulus magister juga walaupun belum sepenuhnya, karena masih proses perbaikan dan menunggu ijazah. Terima kasih PWL, terima kasih IPB.

 

Kebutuhan Perencana (Wilayah dan Kota) Di Dunia Kerja

Sebagai penutup saya saya hanya ingin mengatakan bahwa bidang pekerjaan di ilmu ini luas, prospektif. Pengalaman saya di dunia per-proyek-an atau per-konsultan-an memperlihatkan bahwa bidang dan keahlian dalam perencanaan wilayah dan kota selalu saja muncul atau dibutuhkan. Kebutuhan seorang ahli perencana wilayah itu hampir terdapat di semua level pemerintah dari pusat sampai daerah. Coba saja anda cek situs LPSE kementerian/lembaga atau pemerintah daerah, pasti ada saja kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keahlian atau bidang perencanaan wilayah dan kota, setiap tahun!

Artinya pangsa pasar untuk keahlian perencana wilayah dan kota selalu terbuka dan ada terus, entah itu yang sifatnya pekerja tetap ataupun temporer seperti proyek. Namun tingkat persaingan untuk memasuki kuliah (sarjana) perencanaan wilayah dan kota di perguruan tinggi juga cukup ketat, perlu usaha keras dan strategi jitu untuk bisa lolos. Sementara kalau didunia kerja khusunya konsultan, keahlian perencana wilayah dan kota juga sebaiknya dilengkapi dengan sertifikasi keahlian dan aktif menjadi anggota organisasi profesional perencana dan yang lainnya (IAP, MAPIN, IGI, dan lain-lain) atau networking serta sharing info peluang. Sertifikasi bisa meningkatkan kredibiltas dan take home pay juga meningkat.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *