Zona UTM Adalah Dasar Penomoran Peta RBI, Dipakai Juga di DEMNAS, Masa Sih?

Siapa sih praktisi SIG Inderaja khususnya di Indonesia yang tidak kenal peta RBI ? Mungkin 99% tahu bahkan menggunakannya. Namun jika peta RBI ada hubungannya dengan Zonasi UTM, bisa jadi sedikit saja yang tahu. Yap peta buatan BIG (dulu Bakosurtanal) ini merupakan peta dasar bagi publik yang bisa dijadikan dasar informasi untuk membuat peta tematik sesuai UU No 4 tahun 2011. Karena ada peta dasar satu lagi yang dikeluarkan oleh Dittop AD yang hanya untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara saja. Kini peta RBI atau Rupa Bumi Indonesia ini sudah bisa diunduh secara gratis di Ina Geoportal dalam format shp (baca Cara Mengunduh Peta Rupa Bumi Indonesia Dari Ina Geoportal).

Dulu sebelum digratiskan versi digitalnya (shp), jika publik ingin memperolehnya harus membeli dengan harga yang lumayan menguras dompet yaitu sekitar 300 – 400 ribu an per sheetnya.  Karena harganya lumayan mahal maka alternatifnya membeli versi cetaknya yang sekitar Rp. 40.000 per sheet, dengan datang sendiri ke kantor Bakosurtanal di Cibinong atau outlet perwakilannya di beberapa universitas dan lembaga yang bekerjasama. Sampai saat ini pun versi cetak peta RBI masih dijual, hanya saja beberapa versi jpg nya juga sudah bisa diunduh di Ina Geoportal.

Perlu diketahui Peta RBI ini sebetulnya terdiri dari berbagai skala yaitu dari mulai global 1 : 1.000.000 sampai paling detail 1 : 5.000. Prosedur pembelian nya pun dulu terhitung ‘ribet’, terutama untuk membeli versi dijital yaitu harus membuat surat pengajuan ditujukan kepada Kepala Pusjasinfo Bakosurtanal. Namun demikian surat tersebut terkesan hanya formalitas karena pasti diterima atau dipersilahkan membeli, yang penting bayar. Sejak beberapa tahun terakhir, versi dijital peta RBI skala 25 dan 50 ribu sudah digratiskan, sebelum adanya Ina Geoportal pernah juga digratiskan yang skala 1 : 1.000.000 hanya formatnya coverage (Arc/Info) dan data lama, per provinsi.

Saat ini entah masih ada atau tidak orang yang membutuhkan versi cetak dari peta RBI ini. Nah kalau kita ingin membeli versi cetaknya, petugas di BIG pasti akan menanyakan wilayah mana yang kita cari petanya, selanjutnya akan dicocokan nomor lembar petanya serta dihitung ada berapa lembar yang mencakup wilayah yang kita maksud. Untuk itu sebaiknya kita sudah harus tahu sebelumnya mana-mana saja no indeks peta yang akan kita beli, caranya entah itu mencari melalui wesbite BIG ataupun mengunduh dan mengamati / overlay indeks peta RBI versi dijitalnya dengan wilayah yang kita maksud.

Berbicara tentang penomoran peta atau indeks peta, hal itu adalah membagi peta suatu wilayah ke dalam grid atau kotak yang lebih kecil dengan ukuran tertentu. Masing-masing grid tadi diberi kode atau nomor bahkan disertai dengan nama tempat. Hal tersebut sebagai penanda agar memudahkan pencarian nomor lembar petanya, apalagi jika terpecah menjadi grid yang banyak. Indeks peta dibuat untuk memudahkan pengelolaan dan pencarian peta suatu wilayah tertentu seperti katalogisasi di perpustakaan, di mana kita bisa mencari buku misal berdasarkan judul atau nomor panggil buku. Selain berfungsi seperti katalog, indeks peta juga dibuat bisa karena alasan terbatasnya ukuran kertas untuk memuat kedetailan informasi pada skala tertentu.

Berbeda dengan katalogisasi buku, dalam perpetaan cara membuat penomoran dan penamaan indeksnya ternyata tidak sembarangan lho. Pada peta RBI ini misalnya, penomorannya ditentukan secara sistematis dan berjenjang dari mulai skala paling global sampai skala paling detail, di mana setiap nomor atau kode pasti terkait baik antar grid peta RBI skala yang sama maupun yang berbeda. Sehingga nomor-nomor indeks yang ada di setiap peta RBI, bisa juga dijadikan sebagai alat penelusuran silsilah satu peta dasar ke peta dasar lainnya. Berikut ini adalah hasil telisik penomoran peta RBI yang berhasil lintas bumi rangkum.

# Peta RBI Skala 1 : 1.000.000

Berdasarkan penelusuran lintas bumi, peta dasar (RBI) di Indonesia dengan skala paling kecil adalah 1 : 1.000.000, lintas bumi masih mempunyai beberapa versi coverage nya (versi data lama untuk ESRI Arc/Info) versi awal tahun 2000 an. Di bawah ini adalah contoh petanya yaitu wilayah Jawa Barat (di peta ini Banten belum menjadi provisi tersendiri).

Di dalam setiap tabel atribut data-data coverage nya, tercantum nomor peta, khusus untuk peta Jabar ini sebagai contoh, nomornya adalah MB-48. Ternyata nomor peta itu sangat terkait dengan Koordinat UTM.

Hasil penelusuran dan analisis lintas bumi menunjukan bahwa sistem penomoran peta dasar RBI skala 1 : 1.000.000 ini adalah berbasis kepada pembagian Zona UTM khusunya di Indonesia. Perhatikan gambar di bawah, kotak-kotak atau grid berwarna hitam adalah pembagian Zona UTM versi standar terutama yang mencakup wilayah Indonesia. Seperti diketahui Indonesia berada pada Zona UTM 46 – 54 (horisontal) dan LMN (vertikal). Lebar 1 zona horisontal UTM adalah setiap 6° bujur, sedangkan untuk pembagian zona vertikalnya (yang ditandai dengan huruf) adalah setiap 8° lintang. Perhatikan bahwa Jawa Barat sebagian besar masuk zona 48M (label hitam).

Penomoran indeks peta RBI skala 1 : 1.000.000 ini berbasis dari pembagian Zona UTM, di mana khusus zona vertikalnya dibagi menjadi 2 terlebih dulu sehingga ukurannya 1 lembar petanya adalah 6° bujur x 4° lintang. Setelah itu barulah dibuat penomorannya, berdasarkan nomor zona horisontal dan zona vertikal yang terbagi menjadi A dan B. Antara zona UTM yang berada di utara dan selatan khatulistiwa peletakan A dan B nya berbeda, di mana untuk indeks atau kotak di utara khatulistiwa urutannya A di bagian selatan (bawah), B dibagian utara (atas). Sedangkan indeks yang berada di selatan khatulistiwa adalah sebaliknya.

Sistem penomoran indeksnya sendiri jika dirumuskan adalah kode vertikal UTM+kode pembagian zona vertikal-nomor zona UTM. Sebagai contoh Jawa Barat kebetulan berada zona UTM vertikal M, pada kode grid vertikal  B, dan zona horisontal UTM 48 sehingga nomor indeks yang bertampalan adalah MB-48, bandingkan misalnya dengan Pulau Bangka yang berada di utara pembagian zona vertikal UTM (A) maka nomor indeks yang bertampalan adalah MA-48.

Penomoran Indeks Peta RBI 1 : 1.000.000

# Peta RBI Skala 1 : 500.000

Peta RBI ini merupakan turunan dari skala 1 : 1.000.000 yaitu setengahnya, berukuran 3° bujur x 2° lintang. Sistem penomorannya mengikuti atau meneruskan skala peta 1 : 1.000.000 sebagai induknya, sehingga tetap menyertakan zona UTM yang sesuai. Sebagai contoh seperti gambar di bawah, peta skala 1 : 500.000 dari lembar MA-48 akan terdiri dari 4 lembar atau bagian, pembagian atau urutan nomor gridnya adalah 1 – 4 dimulai dari lembar atau kotak sebelah kiri bawah lalu timur, ke barat laut dan ke timur yang membentuk urutan seperti huruf Z terbalik. Dengan demikian sheet atau lembar nomor ganjil berada di sebelah barat (kiri) dan genap di sebelah timur (kanan). Penomorannya adalah No Indeks Skala 1 : 1.000.000+No Grid Skala 1 : 500.000, contohnya lembar MB-483, berarti ganjil dan akan terletak di kiri atas.

Penentuan nomor grid indeks Peta RBI 1 : 500.000
Penomoran Indeks Peta RBI 1 : 250.000

 

# Peta RBI Skala 1 : 250.000

Peta skala ini adalah turunan dari peta skala 1 : 500.000 sebagai induknya yang juga sama terbagi 2 secara vertikal dan horisontal, sehingga ukurannya adalah 1,5° x 1°. Yang unik adalah penomorannya tidak lagi mengikuti peta induknya dan tidak lagi menyertakan nomor zona UTM, oleh Bakosurtanal (sekarang BIG) ditentukan mengikuti kaidah seperti peta ilustrasi di bawah. Pembagian grid indeks peta skala 1 : 250.00 ini dimulai dari 90° – 141° BT serta 7° LU – 15° LS, masing-masing mengikuti sumbu grid baik secara horisontal (diibaratkan sumbu x) dan vertikal (diibaratkan sumbu y). Nomor grid dimulai dari 01 baik mengarah ke ujung (sumbu) timur ataupun utara, dimulai dari grid paling kiri bawah. Nomor vertikal bertambah dari selatan menuju utara, sementara secara horisontal bertambah dari barat ke timur. Nomor grid atau indeks peta adalah gabungan atau pertemuan antara nomor horizontal dan vertikal, seperti bisa dilihat di peta ilustrasi. Nomor lembar juga sudah disertai dengan nama tempat (toponimi) terkenal di dalam grid, misalnya lembar 1209 diberi nama Jakarta.

Penentuan nomor grid indeks Peta RBI 1 : 250.000
Penomoran Indeks Peta RBI 1 : 250.000
Contoh nomor peta skala 1 : 250.000

 

# Peta RBI Skala 1 : 100.000

Peta dasar skala ini dibuat tidak terlalu banyak oleh Bakosurtanal, setidaknya itu yang lintas bumi ketahui dari layanan unduh peta di situs BIG, hanya ada untuk Papua dalam format JPG. Penentuan ukurannya yaitu dari peta RBI skala 1 : 250.000 kemudian dibagi menjadi 6 lembar peta (grid), di mana secara horisontal dibagi 3 dan vertikal dibagi 2. Sehingga ukuran lembar petanya menjadi 30’ x 30’, nah dari mulai skala 1 : 100.000 ini lembar peta dasar RBI menjadi berbentuk bujur sangkar tidak lagi persegi. Dengan demikian dari peta induk skala 1 : 250.000 misalnya lembar 2915, maka pada skala 1 : 100.000 akan menjadi lembar turunan 2915 – 1 sampai 2915 – 6. Adapun pengurutan tetap mengikuti pola huruf Z terbalik dimulai dari kiri bawah. Identitas nomor peta juga disertai dengan nama tempat terkenal di lembar tersebut.

Penentuan nomor grid indeks Peta RBI 1 : 100.000
Penomoran Indeks Peta RBI 1 : 100.000
Contoh nomor peta skala 1 : 100.000

 

# Peta RBI Skala 1 : 50.000

Tersedia untuk wilayah di luar Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT, peta skala inilah yang tersedia di Ina Geoportal dan bisa diunduh secara gratis per wilayah kabupaten/kota dalam bentuk shp. Untuk versi JPG nya pun sudah bisa diunduh di situs Ina Geoportal. Penentuan ukurannya adalah dari peta induk skala 1 : 100.000 secara vertikal dan horizontal dibagi menjadi 2 sehingga mempunyai ukuran 15’ x 15’, sejumlah 4 grid. Pengurutan nomor seperti biasanya mengikuti jalur berbentuk huruf Z terbalik dimulai dari kiri bawah yaitu 1 – 4, nomor grid ganjil semua berada di kiri dan genap berada di kanan. Sistem penomoran adalah sejumlah 6 dijit meneruskan penomoran peta skala 1 : 100.000 plus nomor grid, dilengkapi nama tempat yang terkenal pada area tersebut.

Penentuan nomor grid indeks Peta RBI 1 : 50.000
Penomoran Indeks Peta RBI 1 : 50.000
Contoh nomor peta RBI skala 1 : 50.000

Sebagai catatan tambahan, indeks peta rupa bumi skala 1 : 50.000 ini juga dipakai sebagai indeks DEMNAS seluruh Indonesia kecuali untuk Pulau Sulawesi, silahkan saja anda coba buktikan dengan mengunduh salah satu file DEMNAS dan overlaykan dengan shp indeks 50 ribu, bandingkan nomor peta (poligon) di indeks dengan nama file DEMNAS, atau lihat gambar di bawah ini.

Tangkapan layar indeks DEMNAS
Tangkapan layar shp indeks RBI 1 : 50.000

 

# Peta RBI Skala 1 : 25.000

Ini adalah skala peta dasar yang ideal dan minimal yang bisa digunakan sebagai basis data pembangunan wilayah terutama tingkat kabupaten/kota. Peta dasar skala 1 : 25.000 ini sudah tersedia untuk wilayah Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT. Ukurannya adalah setengah dari peta skala 1 : 50.000, yaitu pembagian baik secara horizontal maupun vertikal menjadi 2, sehingga ukurannya adalah 7,5’ x 7,5’. Jika diasumsikan 1° di khatulistiwa = 111.000 meter, maka ukuran atau cakupan area yang ada di dalam peta skala 1 : 25.000 ini adalah sekitar 13,9 x 13,9 km = 193,2 km2.

Penomoran peta tetap berbasis atau meneruskan penomoran peta induknya, ditambah nomor grid yang ditentukan tetap mengikuti pola huruf Z terbalik dimulai dari kiri bawah mulai 1 – 4, nomor grid ganjil semua berada di kiri dan genap berada di kanan, sejumlah 4. Sistem penomoran sejumlah 7 dijit meneruskan penomoran skala 1 : 50.000 ditambah nomor grid, dilengkapi nama tempat yang terkenal pada area tersebut.

Penentuan nomor grid indeks Peta RBI 1 : 25.000
Penomoran Indeks Peta RBI 1 : 25.000
Contoh nomor peta RBI skala 1 : 25.000

 

# Peta RBI Skala 1 : 10.000

Peta dasar skala ini sudah ideal sebagai basis informasi dalam perencanaan pembangunan tingkat perkotaan (urban). Sepengetahuan lintas bumi, baru dibuat untuk kawasan DAS Ciliwung saja yaitu dari mulai hulu di daerah Puncak Bogor sampai Jakarta. Secara sistematikanya merupakan turunan dari peta skala 1 : 25.000 sebanyak 9 grid yaitu pembagian secara horizontal dan vertikal sebanyak 3, sehingga totalnya ada 9 grid dengan ukuran peta 2’ 30” x  2’ 30”. Urutan penomoran grid dari mulai grid kiri bawah sebagai nomor 1 lalu ke arah kanan sampai 3 lanjut ke atas kiri (tengah) sebagai no 4 dan seterusnya, kembali dengan pola jalur Z terbalik sampai ke atas lagi berakhir grid no 9 di bagian kanan atas. Sistem penomoran peta adalah penomoran indeks peta skala 1 : 25.000 ditambah no grid skala 1 : 10.000, dan seperti biasanya ditambahkan nama tempat yang terkenal di area tercakup.

Penentuan nomor grid indeks Peta RBI 1 : 10.000
Penomoran Indeks Peta RBI 1 : 10.000
Contoh nomor peta RBI skala 1 : 10.000

 

# Peta RBI Skala 1 : 5.000

Inilah peta RBI skala terdetail yang lintas bumi ketahui, paling cocok untuk membuat perencanaan zonasi di sebuah kawasan perkotaan (RDTR) karena kedetailannya bisa sampai tapak (rumah/bangunan), 1 cm di peta nya sudah mewakili obyek sejauh 50 meter. Skala ini merupakan standar pembuatan peta Rencana Detail Tata Ruang atau RDTR. Seperti juga skala 1 : 10.000, peta dasar ini baru ada untuk beberapa kota besar atau kawasan khusus saja seperti Jabodetabek, Tanjung Lesung (Pandeglang, Banten), dan sebagainya. Untuk ukurannya sendiri adalah 1’ 15” x 1’ 15” yaitu turunan dari peta dasar skala 1 : 10.000 yang secara horizontal dan vertikal dibagi 2, jumlah totalnya ada 4 grid. Berbeda dengan peta-peta sebelumnya, untuk kodifikasi grid nya tidak lagi memakai angka namun menggunakan alfabet A – D, dengan pola Z terbalik dimulai dari kiri bawah. Sistem penomorannya sendiri sama dengan pola peta dasar sebelumnya yaitu nomor indeks peta skala 1 : 10.000 ditambah alfabet grid plus nama tempat terkenal di wilayah cakupan sebagai penanda. Sayangnya lintas bumi belum berhasil memperoleh contohnya karena di situs inageoportal tidak ada.

Penentuan nomor grid indeks Peta RBI 1 : 5.000
Penomoran Indeks Peta RBI 1 : 5.000

Benang merah dari semua ukuran lembar peta RBI berbagai skala tadi adalah masing-masing merupakan pecahan dari zona UTM, berbasiskan peta dasar induknya (skala kecil). Dari situ barulah ditentukan sistem penomoran grid nya dan dilengkapi dengan nama tempat atau toponimi terkenal. Sayangnya karena sekarang ini versi shp peta RBI bisa secara gratis diunduh di Ina Geoportal berdasarkan wilayah kabupaten / kota, sistem nomor indeks ini sudah jarang atau tidak digunakan lagi kecuali untuk unduh versi JPG. Namun demikian pada kegiatan-kegiatan tertentu mungkin saja informasi penomoran indeks peta ini tetap diperlukan semisal untuk keperluan survey yang membawa peta RBI versi hardcopy. Untuk indeks versi lengkap dalam format shp bisa diunduh di blogger lintasbumi.

Bagikan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *