ArcGIS Rasa Mapinfo Professional : ArcGIS Pro

Nyari ArcGIS Pro versi crack di internet saat ini masih sulit, biarpun itu bukan versi lawas, apalagi versi yang terbaru. Yup, itu adalah salah satu hambatan bagi yang ingin belajar ArcGIS Pro namun tak bermodal he he he.. Ini pun Lintasbumi alami makanya Lintasbumi curhat dan sharing di postingan ini. Lintasbumi adalah pengguna ArcView GIS (dulu hampir 7 tahunan) dari akhir tahun 90 an dan kemudian pindah jadi penggunan ArcGIS Desktop sampai saat ini (sudah 16 tahunan). Di awal-awal ArcGIS Pro muncul 3 atau 4 tahun ke belakang Lintasbumi masih cuek karena sibuk kuliah dan masih merasa cukup terpenuhi ‘kebutuhan’ GIS Lintasbumi dengan ArcGIS Desktop. Namun kini, pekerjaan menugaskan Lintasbumi untuk mempelajari ArcGIS Pro, maka mau tidak mau Lintasbumi harus nyari dan mempelajari software nya.

Flash back ke belakang, dulu di awal tahun 2000 an ketika ArcGIS baru muncul juga Lintasbumi cuekin dulu, namun kemudian pekerjaan menuntut harus migrasi ke ArcGIS. Zaman itu untuk mendapatkan software (crack an) nya, Lintasbumi harus jauh-jauh cari di toko CD di Mall Mangga dua. ArcGIS versi 8.1 adalah yang pertama kali Lintasbumi beli CD bajakannya dan pelajari. Setelah hanya pakai versi bajakan, seiring waktu tempat Lintasbumi bekerja akhirnya bisa juga membeli versi resmi versi 9.1. Linsensi resmi ArcGIS Desktop 9.0 sd 9.3 saat itu berupa key memakai dongle USB, namun begitu muncul ArcGIS 10, key usb itu tidak berlaku lagi. Karena Lintasbumi perlu ArcGIS 10.x, otomatis Lintasbumi loncat lagi ke jurang ArcGIS versi crack. Apalagi semenjak tahun 2010 an ke sini, software crack an nya bisa dengan bebas diunduh di internet, bablas sudah. Untungnya dari tahun 2016 atau ketika Lintasbumi mahasiswa bisa mendapat fasilitas lisensi ESRI mahasiswa, jadi ArcGIS Lintasbumi resmi.



ArcGIS Resmi atau Bajakan?

Saat ini ESRI sedang berdiri di dua kaki, kenapa Lintasbumi katakan begitu? Karena masih mengembangkan 2 produk yang secara prinsip sama saja yaitu ArcGIS Desktop dan Pro. Mau mengunggulkan hanya ArcGIS Pro saja sepertinya mereka masih berat karena respon pengguna GIS masih belum massif, sementara pengguna setia ArcGIS Desktop masih banyak di seluruh dunia, sehingga kalau ‘dimatikan’ juga mungkin kurang menguntungkan dari sisi profit bisnis (itu menurut perspektif Lintasbumi). Lintasbumi kira versi bajakan juga turut mempopulerkan ArcGIS Desktop.

Jika membeli software ArcGIS secara resmi saat ini, katanya akan mendapatkan dua paket langsung yaitu ArcGIS Desktop dan ArcGIS Pro. Bagi pemakai yang sifatnya resmi seperti lembaga pemerintah baik pusat dan daerah, ataupun swasta seperti perusahaan, konsultan, demikian juga kalangan perguruan tinggi, dan sejenisnya, sebaiknya memang menggunakan versi resmi alias membeli. Institusi lebih mempunyai kemampuan finansial untuk membelinya, karena harga software ArcGIS yang paling murah saja misalnya level basic single untuk 1 komputer, itu mencapai Rp. 30 – 40 jutaan. Linsesi resmi juga diperlukan institusi terkait dengan keperluan yang sifatnya formal seperti keproyekan dan lain-lain yang berkaitan juga dengan hak atas kekayaan intelektual.

Hal ini lain dengan pengguna GIS yang sifatnya pribadi, kebanyakan sangat-sangat terbatas kemampuan finansialnya apalagi untuk membeli software GIS resmi dengan harga segitu. Harga itu lebih mahal dari harga komputer atau laptonya, jadi boro-boro beli software resmi, beli laptop dengan spek ideal untuk GIS saja kadang tidak mampu. Walaupun cekak, pengguna GIS selalu tertantang untuk meningkatkan kemampuan GIS, terutama karena tuntutan pekerjaan atau tugas. Termasuk selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan software GIS yang berkembang begitu pesat setiap waktu. Itulah yang mendorong pengguna GIS perorangan untuk mencari celah mendapatkan software ArcGIS lewat jalan belakang alias bajakan. Itu suatu hal yang manusiawi, apalagi ditambah dengan zaman keterbukaan di dunia internet saat ini, klop lah sudah.

Selain kemampuan finansial dan kebutuhan, kondisi tersebut menurut Lintasbumi didorong oleh beberapa faktor lainnya. Pertama produk ESRI adalah yang pertama menjadi pegangan pengguna GIS di Indonesia sejak tahun 90 an, sehigga familiaritas dan kepopuleran penggunaan dan nama produk ESRI semacan ArcView (dulu) dan ArcGIS sampai saat  ini (sudah 30 tahun) susah lepas dari tangan, istilahnya tak bisa ke lain hati. Faktor kedua adalah belum mumpuninya software GIS open source dalam menandingi kemampuan dan fleksibilitas produk ESRI khususnya ArcGIS. Walaupun kini banyak software GIS freeware, harus diakui fleksibilitas dan kemudahannya masih rada-rada sulit dicerna bagi pengguna produk ESRI (baca ArcGIS) yang ingin beralih, kecuali bagi yang idealis dan pekerja keras, itu fakta. Ketiga belum terkoneksinya project ArcGIS dengan project dari software GIS open source (OS), yang mana ini sangat menyulitkan pekerja GIS. Jadi kalau sudah bersusah payah sampai ‘berdarah-darah’ membuat desain peta di software GIS OS, begitu klien atau pihak lain ternyata menggunakan ArcGIS dan ingin melihat peta tadi di ArcGIS, sangat tidak mungkin dilakukan, begitu pun sebaliknya, repot!. Terkecuali membaca data shp atau raster, itu sudah terkoneksi di berbagai software GIS berbayar ataupun freeware.



Bagaimana dengan ArcGIS Pro (saat ini)? seperti sudah Lintasbumi katakan di awal versi crack nya masih jarang atau sulit di dapat dari hasil search di mbah Google, padahal sudah rilis 3 – 4 tahunan. Coba ketikan di mbah Google dengan berbagai varian kata, hasilnya bisa dikatakan sedikit, terutama yang paling sulit adalah mencari crack nya. Kalau master instalannya relatif ada di beberapa website dan cloud storage, walau itu pun tidak banyak dan harus bersusah payah (bervirus pula). Apalagi jika berharap versinya mendekati yang terbaru misal ArcGIS Pro 2.0 atau 2.1 (saat postingan ini, yang terbaru adalah versi 2.2), belum ada. Lintasbumi berkesimpulan sementara, ESRI masih strike dengan masalah lisensi ArcGIS Pro ini dan juga kemungkinan ArcGIS Pro belum begitu banyak digunakan, so para hacker belum banyak berminat untuk menembusnya. Kalau mau resmi, masih ada jalan lain untuk bisa mendapatkan versi trial 60 hari, yaitu buat account di ESRI web dan request dengan persyaratan tertentu tentunya.

 

Pengalaman Klak Klik

Setelah bersusah payah ke sana kemari di belantara maya, akhirnya Lintasbumi berhasil mendapatkan ArcGIS Pro versi crack an untuk belajar, walaupun versinya masih jadul banget yaitu 1.2, cukuplah kalau untuk belajar saja mah. Anda juga bisa cari sendiri koq, pasti dapet. Setelah Lintasbumi install dan otak atik, kesimpulan Lintasbumi adalah sama saja konsepsinya dengan ArcGIS Desktop. Namun yang jelas berbeda adalah rasa tampilannya, yang menurut Lintasbumi mirip banget dengan Mapinfo Versi 15 ke atas, bahkan background logo pertamanya pun mirip. Ini mah ArcGIS dengan baju Mapinfo, atau ArcGIS rasa Mapinfo, suatu kebetulan atau tidak, kata ArcGIS + Mapinfo Professional bisa saja disingkat ArcGIS Pro he he he….

Di versi 1.2 ini masih terdapat beberapa kekosongan tools sehingga bagi yang biasa di ArcGIS Desktop masih akan banyak pertanyaan atau kebingungan. Misalnya fasilitas untuk zoom in dan out tidak muncul icon nya tapi masih harus menggunakan tombol shift + klik, untuk grid di layout malah belum ada fasilitasnya seperti penjelasan ESRI di situsnya, mungkin di ArcGIS Pro versi 2.0 ke atas saat ini yang sudah ada. Secara struktur mirip dengan ArcGIS Desktop, konsep data view dan layout view diganti namanya menjadi map dan layout, konsepnya sama dengan Mapinfo. Masih terdapat juga toolbox, model builder, project element (catalog), dan seterusnya.

Berikut video install dan klak-klik Lintasbumi di ArcGIS Pro 1.2.

Jangan Lupa ! Unduh koleksi ArcGIS lainnya di Geoimaji


2 komentar tentang “ArcGIS Rasa Mapinfo Professional : ArcGIS Pro”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *