Bikin Peta Lereng Sesuai Skala Yang Diinginkan!?, Cek Di Sini !

Dalam urusan olah mengolah data spasial khususnya yang terkait dengan kondisi biofisik suatu wilayah, para pengguna SIG biasanya selalu melibatkan pembuatan peta kemiringan lahan atau lazim disebut lereng (kalau dalam bahasa inggris dan istilah software adalah ‘slope‘). Secara teori lereng adalah rasio jumlah pertambahan tinggi (sumbu) Y seiring pertambahan (sumbu) X, besaran lereng menginformasikan seberapa curam sebuah garis atau seberapa banyak (tinggi) Y meningkat seiring bertambahnya (panjang) X. Kemiringannya adalah konstan (sama) di mana saja pada garis. FAO mendefinisikan kemiringan lahan sebagi naik atau turunnya permukaan tanah, secara matematis kemiringan lahan berarti perbandingan atau rasio antara perbedaan ketinggian 2 titik di tanah dengan jarak horisontal kedua titik tersebut pada satuan yang sama. Konsep-konsep lengkapnya silahkan bisa anda lihat di situsnya. Satuan besaran lereng yang biasanya sering digunakan adalah persen (%) atau derajat.

Jika harus membuat sendiri peta lereng, maka biasanya akan menggunakan data DEM semacam SRTM, DEMNAS, dan lain-lain sebagai dasar. Namun dalam prosesnya seringkali kita dihadapkan pada resolusi DEM yang berbeda dan juga skala peta lereng yang diinginkan tertentu, padahal secara kartografis keduanya harus sinkron. Sebagai contoh jika resolusi DEM nya detail misal 1 meter, maka peta lereng yang dihasilkan akan rapat dan detail (skala 1 : 2,000), padahal yang diinginkan tidak seperti itu (misal inginnya 1 : 50,00), pada kondisi ini poligonnya menjadi rapat sesuai dengan pixel DEM nya, namun dilayout tetap pada skala 1 : 50,000, secara kartogarfis tentu saja itu kurang tepat.

Lantas bagaimana sebaiknya mengolah data DEM untuk dijadikan peta lereng yang sesuai keinginan?. Simak postingan berikut, kali ini lintasbumi sedikit berbagi pengalaman mengolah data lereng pada ArcGIS, yang coba disesuaikan dengan skala yang diinginkan. Perlu diingat, yang paling baik adalah gunakan DEM dengan resolusi yang lebih detail dari skala peta lereng yang diinginkan, dan jangan sebaliknya. Silahkan baca konsep Tobler terlebih dulu.  Berikut ini adalah tahapannya;

1. Siapkan data shp dan DEM (dalam contoh kasus ini lintasbumi menggunakan DEMNAS sekitar Gunung Ciremai) dengan tujuan dicropping pada salah satu kecamatan untuk dijadikan skala 1 : 25.000.

2. Dalam kasus ini, DEMNAS memiliki resolusi 7.5007501e-05 x 7.5007501e-05 derajat atau 0.000075007501 x 0.000075007501 derajat. Jika dikonversi dalam meter maka resolusinya menjadi 8.3433649 x 8.3433649 meter. Merujuk pada kaidah Tobbler, maka skala optimal peta yang bisa dihasilkan dari DEMNAS adalah 8.3433649 m x 2 x 1,000 = 16686.7 atau ekivalen 1 : 17,000 (1 banding tujuh belas ribu). Nah dalam contoh ini direncanakan peta lereng yang akan dihasilkan adalah 1 : 25,000, sehingga resolusi DEMNAS nya harus dirubah menjadi 25,000 / (2 x 1,000) = 12.5 meter. Solusi teknisnya adalah pada ArcGIS DEMNAS harus di resampling, sebelum di resampling file DEMNAS asli sebaiknya diproyeksikan menjadi proyeksi peta dengan satuan meter (contoh UTM sesuai zona wilayah, dalam kasus ini adalah UTM Zone 49S).

3. Hasil dari resampling akan seperti gambar di bawah ini, jika properties hasil resampling dilihat maka kini resolusi DEMNAS akan menjadi 12.5 x 12.5 meter dan jumlah kolom dan barisnya 2225 x 2225 pixel.

4. Pada contoh ini, peta lereng hanya akan dibuat pada satu kecamatan saja. Maka selanjutnya DEMNAS hasil resampling dicrop menggunakan perintah extract by mask pada spatial analyst tools. File shp pada contoh ini terlebih dulu telah diquery terlebih dulu pada salah kecamatan (Mandirancan).

5. Berikut adalah hasil extract by mask, menjadi DEMNAS Kecamatan Mandirancan.

6. Selanjutnya lakukan pembuatan peta lereng menggunakan perintah slope pada spatial analyst tools atau 3D analyst tools. Satuan yang dipilih adalah persen seperti yang umum digunakan. Karena DEMNAS pada contoh sudah dalam satuan meter, maka Z factor adalah 1 (meter). Namun jika DEMNAS masih dalam satuan derajat (koordinat GCS), maka Z factor adalah 0.00001 derajat (1 derajat di khatulistiwa ekivalen 111,000 meter (111 km)).

7. Berikut adalah peta lereng yang dihasilkan, di Kecamatah Mandirancan besaran lereng berkisar dari 0.015 – 125.128%.

8. Selanjutnya lakukan reklasifikasi kelas lereng mengikuti pengkelasan standar, dalam contoh ini kelas lereng yang digunakan adalah :

0 – 8% = 1
8 – 15% = 2
15 – 25% = 3
25% – 40% = 4
> 40% = 5

Di mana 1, 2, 3, 4, dan 5 adalah nilai pixel baru hasil reklasifikasi. Lakukan ini dengan perintah reclasiffy pada spatial analyst tools.

9. Hasil reklasifikasi adalah sebagai berikut

10. Selanjutnya lakukan konversi menjadi shp poligon, menggunakan perintah raster to polygon. Pada contoh ini tidak dipilih simplify karena biasanya akan mengacaukan poligonnya, serta hal itu bertujuan untuk menyeleksi luas per pola pixelnya kemudian. Berikut ini adalah setting perintah konversi dan hasilnya termasuk atributte tablenya.

11. Kemudian hitung luas untuk masing-masing poligon pada attribute table dengan calculate geometry, tentunya dengan terlebih dulu membuat kolom atau field luas.

12. Jika mengacu pada beberapa literatur, ukuran terkecil delineasi sebuah poligon adalah 0.25 x 0.25 cm. Maka pada skala 1 : 25,000 di mana 1 cm = 250 meter, maka 0.25 x 250 m = 62.5 m, sehingga luas minimumnya adalah 62.5 m x 62.5 m = 3,906.25 m2 (dibulatkan 3,900 m2 atau 0.39 Ha). Mengacu pada ini maka lakukan merge poligon-poligon yang luasannya < 0.39 ha dengan poligon terdekatnya yang lebih besar, menggunakan perintah eliminate. Telebih dulu pada attribute table pilih yang luasnya < 0.39 Ha.

13. Jalankan perintah eliminate seperti berikut

14. Hasilnya poligon pada shp baru (lihat attribute table file hasil eliminate) akan berkurang, pada contoh ini dari 8,511 menjadi 1,914 poligon (lihat gambar di bawah). Biasanya proses eliminate ini tidak cukup sekali, karena biasanya poligon yang dimaksud  dihapus belum 100% hilang, maka lakukan proses select by attributes dan eliminate sekali atau beberapa kali lagi sampai betul-betul hanya poligon yang lebih dari luas minimum saja yang muncul. Pada contoh ini dilakukan tiga kali, dengan tetap melakukan calculate geometry ulang juga, sampai akhirnya hasil eliminate terakhir didapat hanya 1,324 poligon (15.5% dari jumlah poligon awal).

15. Berikut adalah hasil akhir dan perbandingan peta lereng hasil konversi dan eliminate (ke 1 – 3). Shp yang dihasilkan sesuai dengan skala 1 : 25.000, peta lebih besar lihat pada gambar pembuka postingan ini. Selamat mencoba.

Bagikan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *