Pengalaman Kuliah Di Magister Ilmu Perencanaan Wilayah (PWL) IPB (Bagian 3)

Tulisan asli dimuat di www.lintasbumi.blogspot.com. Lanjutan dari bagian 1 dan 2.

Berdasarkan pengalaman kerja, bagian perencanaan hampir selalu ada di semua lembaga pemerintah dari pusat sampai daerah, bahkan di beberapa institusi swasta pun ada bagian ini. Tentunya dalam hal ini perencanaan dalam konteks yang lebih luas seperti perencanaan program, perencanaan organisasi dan manajemen, perencanaan sumber daya manusia, keuangan, dan lain-lain, tidak hanya mengenai perencanaan wilayah dan kota saja. Itu karena perencanaan adalah sesuatu yang penting dalam kegiatan apapun, tidak ada yang tahu secara pasti bagaimana situasi ke depan kecuali Tuhan, untuk itu perlu kesiapan dalam menghadapinya. Perencanaan adalah suatu usaha yang sistematis untuk menghadapi ketidakpastian di masa yang akan datang, begitu kira-kira filosofi dasar perencanaan yang saya peroleh ketika kuliah di PWL IPB.

Dalam kaitan dengan dunia per-proyek-an atau per-konsultan-an yang saya geluti, bidang dan keahlian dalam bidang perencanaan wilayah dan kota (atau tata ruang wilayah) dan hal yang berkaitan dengan itu selalu saja muncul di hampir semua program kegiatan pemerintah pusat sampai daerah (coba sekali-kali anda cek situs LPSE kementerian/lembaga atau pemerintah daerah, pasti ada saja kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keahlian atau bidang perencanaan wilayah dan kota, setiap tahun!). Kebijakan yang terkait dengan penataan ruang (perencanaan penggunaan lahan) memang sangat diperlukan mengingat situasi saat ini semakin kompleks, di mana jumlah penduduk sudah semakin banyak, kebutuhan lahan untuk kegiatan pembangunan juga bertambah tapi ketersediaan lahan sangat terbatas, sehingga timbul persaingan penggunaan lahan dan terjadilah apa yang dinamakan konversi (penggunaan) lahan, yang konotasinya dari yang bervegetasi (hutan, kebun, lahan pertanian, dan sejenisnya) menjadi lahan terbangun (permukiman, sarana prasaran perkotaan, gedung-hedung perkantoran, kawasan industri, dan sebagainya). Bagaimana dampak dari semua itu di masa yang akan datang? tidak ada yang tahu, hanya mungkin bisa diprediksi sesuai dengan ilmu pengetahuan yang ada saja, dan untuk itulah ilmu perencanaan wilayah atau tata ruang selalu dimainkan setiap waktu! Harus diingat bahwa sebuah perencaaan wilayah bukan hanya mengutak-atik penggunaan lahan atau aspek fisik saja, lebih dari itu akan menyangkut manusia yang tinggal di atasnya sehingga harus memperhitungkan aspek atau dampak sosial, ekonomi, budaya, politik, agraria, lingkungan (dalam arti luas), dan sebagainya.

Itu adalah beberapa hal yang bisa saya rangkum dari 3,5 tahun saya belajar tentang perencanaan wilayah di magister PWL IPB. Bagi saya itu merupakan suatu masa pencerahan yang luar biasa dalam 20 tahun terakhir karir saya, sayangnya tidak semuanya bisa dijelaskan di posting-an ini karena memang banyak. Kembali ke belakang, hal yang menjadi motivasi saya mengambil kuliah ilmu perencanaan wilayah (di PWL IPB) adalah mencoba mendiskursuskan dan mengkomparasi antara isu-isu yang riil di dunia kerja berbasiskan pengalaman saya selama 15 tahun dengan teoritisnya di dunia akademis. Menurut saya itu perlu karena dunia per-konsultan-an biasanya terlalu asyik dengan hal-hal yang pragmatis, itu sah-sah saja dan menurut saya bukan masalah salah dan benar, itu hanya pilihan. Kenyataannya sebagian besar kerja-kerja perencanaan wilayah (yang pernah saya alami) tidak sejalan dengan khittah nya secara akademis, banyak melencengnya tapi mungkin itulah yang menjadi win-win solution-nya. Hal-hal seperti itu banyak tergali ketika kuliah sudah memasuki semester 2 atau 3.

Semester 3 mulai masuk ke mata kuliah Studio Perencanaan Wilayah. Di mata kuliah ini mengajarkan teori, teknik, beserta praktek menganalisis potensi dan permasalahan suatu wilayah. Hasil analisis tersebut akan menjadi basis informasi yang harus dipikirkan solusi dan perencanannya. Dosen pengajar banyak sekitar 5 atau 6 orang karena multidisiplin, tugas pada kuliah ini dilakukan secara kelompok (berdua) yaitu membuat skenario perencanaan di suatu wilayah. Wilayahnya bebas sesuai ketersediaan data spasial dan statistiknya, metode yang akan dipakai juga bebas (memilih dari yang sudah diajarkan/paralel). Satu hal yang pasti, pakem yang dipakai oleh IPB adalah berbasis komoditas unggulan secara fisik (mungkin sekarang sudah berubah). Di akhir semester setiap kelompok akan mempresentasikan hasil analisis perencanaannya dan “diuji” oleh kelompok lainnya dalam forum diskusi kelas, semua orang mendapat nilai AB dan A. Proses ini mirip dengan proyek-proyek yang saya biasa kerjakan, jadi paslah saya belajar di sini.

Di semester 3 ini  juga ditentukan siapa pembimbing tesis / penelitian berdasarkan topik yang sudah diusulkan. Usulan tersebut juga dipresentasikan di MK proposal penelitian. Sebaiknya sudah melakukan kolokium atau seminar usulan / proposal penelitian di semeseter 3, terutama bagi yang ingin lulus segera. Namun saya sendiri melakukannya di awal semester 4.

Di semester ke 4 sudah tidak ada kuliah tatap muka dan mulailah ke dunia penelitiannya masing-masing, mengurus surat izin permintaan data ke berbagai sumber / wali data baik dari prodi maupun dari pasca IPB. Hal menarik adalah surat izin permintaan data dari departemen (DITSL) hanya di tandatangan kadep tanpa dibubuhi stempel sehingga ketika di bawa ke sumber data menjadi kurang meyakinkan, namun kelebihannya dijelaskan rincian kebutuhan datanya. Untuk itu dibuat juga surat dari pasca IPB, di mana dibubuhi stempel dan ditandatangan dekan pasca IPB, namun isinya bersifat umum tidak spesifik menyatakan data-data apa saja yang dibutuhkan, tujuan surat juga ditulis semua (tidak spesifik) sehingga cukup dilingkari saja mana yang dituju (bisa diperbanyak sendiri).

Saya sudah jarang bertemu lagi dengan teman-teman kuliah mulai semester 4 ini, ada yang survey ke kampung halaman dan beberapa sudah mulai fokus menulis draft tesis, namun saya tidak melakukan itu semua. Bahkan pengesahan proposal penelitian pun baru saya lakukan semester 5, atau 6 bulan setelah saya melakukan kolokium (jangan dicontoh ya ha ha ha!). Luluslah di semester ini agar menjadi lulusan Cum Laude (dengan IPK > 3,75), di angkatan saya tidak ada yang berhasil lulus di semeter 4. Padahal dalam kuliah semua dosen selalu mengharapkan hal itu.

Di semester 5 (pertengahan) sudah ada teman seangkatan PWL yang berhasil menembus tahap seminar hasil penelitian di pasca IPB. Seminar hasil adalah mata kuliah yang tatap mukanya hadiri oleh mahasiswa prodi dari fakultas lain (kalau kolokium kebanyakan hanya dihadiri mahasiswa pascasarjana yang satu fakultas atau bahkan satu departemen saja). Syarat jadi pemakalah seminar ini adalah penelitiannya sudah disetujui pembimbing yaitu layak untuk diseminarkan, telah menghadiri minimal 5 kali seminar kelompok keilmuan sendiri dan 2 kali di kelompok keilmuan lain. Plus harus sudah menghadiri seminar umum IPB (wajib!) yang dibuktikan dengan tandatangan moderator di kartu kuning seminar.

Menurut saya, pada seminar hasil beban moralnya lebih berat dibanding ujian akhir / sidang tesis. Seminar hasil adalah ujian oral yang sesungguhnya, karena pada seminar hasil hadirin bisa siapa saja, latar belakang keilmuan apa saja, pertanyaan bisa apa saja! Seminar hasil menunjukan bahwa penelitian kita diakui oleh orang-orang di luar keilmuan sendiri. Moderator pada seminar ditentukan H-1 oleh pihak pasca IPB dan berasal dari luar keilmuan si pemakalah. Performa si pemakalah adalah faktor yang menentukan. Jika dalam 50 menit tidak meyakinkan baik ketika presentasi atau menjawab pertanyaan, moderator bisa membantu atau malah ‘menjatuhkan’.

Hasil seminar bisa saja merubah isi penelitian (dirombak/modifikasi), atau jika si pemakalah bagus dan lancar-lancar saja, maka tidak ada perbaikan atau kalaupun ada sifatnya lebih ke redaksional. Ini terjadi di beberapa seminar yang saya hadiri. Namun tenang, masih ada pembimbing koq, untuk itu baik-baiklah dengan pembimbing selama pembuatan tesis, jangan pernah bermasalah, ikuti saja apa yang disarankan pembimbing agar beliau-beliau menjadi juru selamat ketika seminar dan bahkan sidang. Kehadiran teman-teman seangkatan dalam seminar juga penting karena akan mengangkat moral dan bisa membantu dengan mengajukan pertanyaan yang memudahkan.

Setelah lolos dari tahap seminar hasil tanpa perbaikan yang banyak, maka ke tahap sidang atau ujian akhir tidak terlalu lama. Beberapa teman saya bahkan ada yang sudah bersidang seminggu setelah seminar hasil. Di semester 5 ini sudah ada 4 orang teman seangkatan yang lulus dan menjadi bergelar MSi duluan. Di semester 6 lulus bertambah 3 orang, di semester 7 ada 1 orang lulus. Sampai semester 7 yang lulus di angkatan PWL saya sudah 4 + 3 + 1 = 8 orang.

Lalu di mana saya?

Selama 1 tahun sejak saya kolokium (awal semester 4) sampai awal semester 6, saya tidak pernah “menyentuh” penelitian tesis sama sekali, ada rasa malas yang luar biasa, saya lebih “menenggelamkan diri” pada tuntutan pekerjaan dan proyek-proyek. Itu adalah pilihan yang sulit, mengkombinasikan bekerja dengan kuliah yang didasari modal dengkul he he he… (alias mengutamakan dapur ngebul).

Baru di awal semester 6 lah saya menggarap penelitian saya lagi, karena di awal tahun belum banyak kegiatan proyek, waktu luang banyak jadi selama 3 bulan di awal 2019 (Maret – Mei) saya baru survey data primer di kampung halaman saya di Kabupaten Kuningan karena penelitian saya tentang hutan rakyat di sana. Setelah itu di bulan ramadhan 2019 (Mei – Juni) saya memulai menulis, mengolah dan menganalisis data penelitian saya, di akhir semester 6 (kalau tidak salah bulan Juli 2019). Alhamdulillah draft tesis saya sudah berbentuk dan bisa dijadikan bahan bimbingan ke komisi pembimbing di Juli 2019 dan tak dinyana hanya 2 kali konsultasi, pembimbing sudah menyuruh untuk sidang komisi 2 di bulan Agustus dan itu pun Alhamdulillah diputuskan lanjut ke seminar hasil.

Lagi-lagi godaan kembali datang di semester 7, ketika sedang asyik-asyiknya mempersiapkan makalah seminar hasil, mulai September 2019 sudah harus dihadapkan kembali dengan tugas-tugas negara alias proyek. Seperti biasa saya kalah lagi, lebih memilih pekerjaan daripada tesis, dan tentu saja konsekuensinya (seminar) tesis kembali terlupakan. Untungnya para pembimbing saya faham betul dengan hal itu, secara mereka juga orang proyek, he he he. Maka gagal-lah target saya untuk seminar hasil dan lulus di semester 7 karena sampai Desember 2019 waktu saya betul-betul banyak tersita untuk pekerjaan, draft makalah seminar hanya jadi kenang-kenangan saja di tahun 2019.

Finally the last semester! di minggu pertama 2020 saya betul-betul mencambuk diri karena sudah deadline untuk lulus (pan kudu lulus di semester 8) dan Januari 2020 adalah awal semester 8!! Draft makalah seminar digarap dan dikonsultasikan ke semua pembimbing, dan lagi-lagi langsung disuruh seminar hasil di tanggal 20 Januari akhirnya ngebutlah saya memfinalisasi draft makalah seminar. Tak lupa membuat serta mengirim jurnal ke peringkat sinta 3 saja (JP2WD). Sebetulnya grammar pada abstak makalah seminar masih acak-acakan tapi akhirnya saya gunakan bantuan situs check grammar saja.

Yang bikin lebih capek adalah ngurus birokrasi seminarnya, walaupun didaftarkan secara online namun secara fisik tetap harus bolak-balik prodi-pasca. Betul-betul menguras tenaga dan waktu, mencari tandatangan beberapa orang dan seterusnya kadang bikin bete, karena yang dikejar kadang sedang tidak ada di tempat jadi terpaksa nunggu. Anyway saya mengucapkan banyak terima kasih juga kepada bagian administrasi PWL yang sangat banyak membantu dan mempermudah saya. Saya sengaja tidak mengumumkan seminar saya di WAG PWL, itu adalah strategi agar yang hadir rekan-rekan dari prodi lain saja. Harapannya pertanyaan mereka akan bersifat umum saja. .

Mental harus tenang dan saya anggap seminar adalah diskusi laporan proyek yang biasa saya lakukan. Alhamdulillah seminar hasil tanggal 20 Januari di gedung 302 pasca IPB lancar jaya, semua sesuai skenario, hadirin 99% dari luar PWL, pertanyaan juga yang umum-umum saja dan bisa saya jawab dengan lancar, dan yang penting adalah tidak ada perubahan konten penelitian. Sayangnya karena saya merupakan “gerbong” terakhir di angkatan, hanya satu orang teman sengkatan PWL yang hadir di seminar hasil saya, itupun tanpa direncanakan. Alhamdulillah moderator dan pembimbing memberikan nilai tertinggi di seminar hasil. Terima kasih kepada moderator, ketua komisi pembimbing dan juga rekan-rekan hadirin seminar saya terutama yang bertanya.

Plong rasanya sudah seminar hasil, setengah beban kuliah saya langsung lepas! Hasil konsultasi selanjutnya diputuskan saya harus melakukan sidang komisi (sidkom) 2 di tanggal 29 Januari. Hasil sidkom 2 memutuskan tanggal 19 Februari saya harus ujian akhir alias sidang. Selain meng-update isi tesis sesuai saran sidkom 2, lagi-lagi harus ngurus birokrasi sidang kali ini tidak ada pendaftaran online. So bolak-balik prodi-yang pasca betul-betul menguras tenaga dan waktu lagi, cari tandatangan beberapa orang termasuk penguji luar, terkadang bikin bete juga karena yang dikejar kadang sedang tidak ada di tempat jadi terpaksa nunggu. Karena perbaikan yang saya lakukan telat, saya mengurus birokrasi sidang itu hanya 1 minggu sebelum sidang, untungnya bisa (pas sesuai aturan H-7)

De Javu, penguji luar yang disepakati para pembimbing di sidkom 2 adalah “teman” ketika proyek di tahun 2014, ketua dan anggota komisi pembimbing pun memang terlibat di proyek itu. Jadi ketika tanggal 19 Februari bersidang nanti bisa dikatakan akan menjadi reuni proyek he he he. So jadinya beban mental sebelum sidang tidak seberat ketika saya mau seminar.

Apa yang terjadi ketika sidang?

Siang tanggal 19 Februari jam 11.30 saya ditemani istri berangkat ke kampus. Sidang dimulai jam 13.00, presentasi saya di sidang ternyata sedikit grogi, padahal hanya di hadapan 4 orang saja. Jatah 20 menit presentasi malah jadi 25 menit (sampai diingatkan moderator). Setelah itu moderator mempersilahkan penguji untuk bertanya dan semua pertanyaan penguji luar saya jawab saja dengan pede, walaupun ada juga (banyak malah) yang meragukan jawabannya. Separuh ilmu pengetahuan saya ketika sidang kayak terasa menghilang sejenak. Saya fikir itu merupakan efek nervous tadi. Anyway saya saat itu berprinsip nervous adalah sesuatu yang alami, tidak perlu ditolak dan biarkan saja mengalir, jadi nikmati saja dan lama-lama juga akan cair. Ingat penguji, pembimbing, dan moderator adalah manusia biasa juga, mereka tahu dan faham dengan kondisi orang bersidang, mereka pernah mengalami hal yang sama karena mereka pernah menjadi mahasiswa magister dan doktor.

Ada satu modal saya, ini pernah saya dapat dari seorang guru besar IPB jauh sebelum saya penelitian. Beliau mengatakan kepada saya bahwa jika penelitian diibaratkan senjata maka sidang itu adalah forum yang akan memutuskan senjata itu termasuk tipa apa. Proses yang dilakukan selama penelitian adalah diibartkan sebagai proses pembuatan senjatanya. Hasil sidang akan mengesahkan apakah senjata itu akan menjadi senjata biasa atau senjata pusaka. Jadi apapun nanti hasil sidang, senjata tetaplah senjata, kecuali memang rusak dari awal (misalnya dipaksa sidang atau sidang hanya dengan modal seadanya). Kalau cocok jadi senjata pusaka maka akan mendapat nilai A atau sangat memuaskan, pun sebaliknya jika cocoknya jadi senjata biasa maka nilanya di bawah itu, namun tetaplah lulus.

Masih kata sang profesor, menjadi senjata pusaka atau tidaknya tidak hanya dilihat dari sidang saja, tapi akan berdasarkan juga penilaian proses pembuatannya. Apakah selama pembimbingan baik-baik saja; bagaimana isi tesisnya (sistematika, kedalaman, dan bahasanya, dan seterusnya), dan yang penting femahaman kita akan tesis kita sendiri (ini pembimbing yang menilai). Ingat, tidak ada penelitian yang sempurna, selalu saja ada kekurangan! tergantung dari sudut pandang siapa. Jadi Nervous dan tidak bisa menjawab semua pertanyaan ketika sidang itu adalah hal yang wajar dan hanya 50% dari penilaian saja, 50% lainnya akan tergantung isi tesis dan hal yang terkait. Satu hal lain yang sangat penting bagi saya adalah berdoa dan meminta ridha orang tua, itu juga menentukan.

Terbukti jam 15.00 saya diputuskan memperoleh nilai sangat memuaskan di ujian akhir itu. Padahal saya grogi dan hanya bisa menjawab sekitar 50 – 60% dari pertanyaan, namun ketika melihat form penilaian oleh penguji, pembimbing, dan moderator ternyata tidak demikian. Ya itu tadi mereka juga menilai dengan melihat jerih payah kita selama proses pembuatan tesis. Yang melegakan semua pembimbing hanya menanyakan hal yang tidak terlalu substantif, lebih ke pemahaman dan mereka sudah memberikan nilai sebelum bertanya, dan itu membuat saya tenang. Moderator pun tidak bertanya hanya memberi saran saja.

Last, materi-materi dan metode-metode kuliah PWL yang sifatnya digital (memakai software beserta datanya) sampai saat ini masih saya simpan karena ternyata terbukti digunakan di dunia kerja saya, PWL IPB memang top dah.

Alhamdulillah saya lulus magister juga walaupun belum sepenuhnya, karena masih proses perbaikan dan menunggu ijazah. Terima kasih PWL, terima kasih IPB.

Bagikan ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *