Memperkecil Ukuran SHP

Berkembangnya penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) di berbagai bidang dalam pengelolaan informasi wilayah menuntut adanya sistem data spasial yang baik. Format data spasial memainkan peran sentral dalam SIG karena pasti semua aplikasi SIG mensyaratkan adanya tipe-tipe khusus bentuk data yang bisa diolahnya.

Secara umum data spasial terbagi ke dalam bentuk data vektor dan raster. Khusus dalam pengolahan data spasial bentuk vektor tidak akan lepas dari sebuah file yang disebut shapefile atau shp. Format file shp saat ini banyak digunakan karena sudah sangat lama diperkenalkan oleh ESRI melalui software ArcVIEW GIS 3.x, dan seperti diketahui produk-produk ESRI begitu mendominasi pengguna-pengguna SIG di seluruh dunia seperti melalui ArcGIS.

Selain karena sudah teruji, format data spasial dalam shp terbukti efektif mengelola informasi spasial karena tidak mengandung topologi atau terpisah antara vektor berbentuk garis dan poligon, menjadikannya tidak terlalu rumit. Integrasi data vektor dan tabulasi atributnya adalah salah satu kelebihan dalam pengelolaan data spasial menggunakan format shp. Selain itu shp mempunyai fleksibilitas yang baik, karena saat ini shp sudah bisa dibuat, dibuka, dan diedit di software SIG yang lebih luas tidak hanya pada produk ESRI, bahkan pada aplikasi berbasis Android di smartphone.

Dalam perjalanannya shp ternyata tidak hanya bersumber dari data-data yang dibuat secara langsung melalui dijitasi, namun seiring perkembangan teknologi informasi, saat ini data shp bisa dihasilkan melalui proses impor/ekspor dari format atau bentuk data vektor lain semisal impor dari data raster (jpeg, geotiff, png, dan lain-lain), data CAD (dwg, dxf), dan sebagainya. Hal itu membuat penggunaan shp semakin meluas, mencakup data dari berbagai bidang, dan dengan berbagai ukuran data.

Penggunaan shp yang semakin berkembang membawa konsekuensi pada besarnya ukuran file shp. Memang tidak ada batasan maksimal berapa data yang bisa ditampung oleh sebuah file shp, baik itu vektornya maupun database atributnya. Hal itu berdampak pada ukuran file shp yang menjadi semakin besar terutama untuk file .shp dan .dbf nya. Ini bisa difahami dikarenakan berkembangnya kedetailan dan jenis informasi yang bisa dispasialkan melalui file shp. Padahal ukuran data spasial yang meningkat membuat pemrosesannya pun menjadi semakin lama. Sebagai respon akan hal ini, software SIG biasanya secara teratur melakukan perbaruan versi agar kemampuan mengelola ukuran shp nya pun meningkat, dan perbaruan versi software ini biasanya atau idealnya harus diikuti pula oleh peningkatan spesifikasi komputer pengguna SIG, namun kebanyakan hal yang terjadi tidak demikian.

Sudah tidak aneh lagi jika saat ini ukuran file shp bisa besar sampai berpuluh-puluh atau beratus-ratus mb atau bahkan mungkin gb. Hal itu tentu menyebabkan pemrosesannya menjadi lama dan kadang gagal (error), terutama pada spesifikasi hardware (komputer/laptop) yang kurang memadai. Salah satu cara untuk mensiasatinya bisa dilakukan dengan mereduksi atau memperkecil ukuran file shp.

Proses reduksi atau memperkecil ukuran shp ini bukannya tanpa resiko, karena bagaimanapun merubah data asli akan selalu merubah apa yang ada di dalamnya (tidak orisinil). Namun demikian pada beberapa kasus mungkin hal itu diperlukan, misalkan pada hal-hal yang tidak memerlukan kedetailan atau keakurasian data spasial yang tinggi. Berikut ini adalah 2 cara untuk mereduksi atau memperkecil ukuran shp;



About Lintas Bumi 125 Articles
Lintas Bumi adalah blog berbagi info, trik, dan data seputar dunia informasi geospasial baik nasional ataupun global.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*